elsamsi log

Menu

Berapa Idealnya Bea Admin?

Berapa Idealnya Bea Admin?

Sebagaimana telah didefinisikan terdahulu. bahwa admin adalah pihak yang bertanggung jawab dalam mengadministrasikan transaksi antara dua pihak yang melangsungkan kontrak. Ada 10 tugas pokok admin yang diilhaqkan dengan ‘amil zakat, yaitu sebagai al-hasyir, al-sa’i, al-katib, al-addad, dan lain-lain. Selengkapnya, pembaca bisa merujuk kembali pada tulisan terdahulu, di sini. 

Nah, dalam tulisan ini, yang hendak diangkat oleh peneliti adalah berapakah idealitas biaya admin itu dipungut? Jawaban atas hal ini sekilas sudah disinggung pada tulisan terdahulu juga, yaitu: 

  1. Bisa melalui ujrah musamma
  2. Bisa melalui ujrah mitsil, dan
  3. Bisa dari 2 pihak yang diwakili admin, bila tidak ada urf yang berlaku di suatu daerah mengenai berapa biayanya.

Ujrah Musamma

Akad ijarah (sewa jasa) merupakan cabang dari akad jual beli. Obyek yang ditransaksikan dalam akad ijarah adalah aset manfaat (jasa) yang mana aset tersebut berbatas waktu (muddah) dan amal (kerja). 

Upah (ujrah) menempati derajatnya harga jasa (tsaman). Oleh karena itu, maka ujrah wajib memenuhi syarat dan ketentuan selaku harga / mabi’, yaitu: 

  1. Wajib ma’lum (diketahui besarannya). 
  2. Wajib bisa diserahkan 
  3. Tidak terdiri dari aset yang haram
  4. Bisa diqabdl dan ditamlik oleh pihak musta’jir (yang disewa)
  5. Selamat dari akad gharar, jahalah, maisir dan riba.
Ujrah musamma, merupakan istilah lain dari ujrah ma’lum (upah yang diketahui atau yang dijanjikan oleh penyewa atau pengguna jasa). 

Ujrah musamma sendiri juga bisa dibagi menjadi 4, yaitu: 

  1. Ujrah halan, sebagaimana ditegaskan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW agar memberikan upah kepada pekerja sebelum keringatnya kering
  2. Ujrah salam, yaitu sebagaimana terjadi pada akad ijarah salam (ijarah syaiin maushuf fi al-dzimmah). Cirinya, adalah upahnya diserahkan terlebih dulu, sementara manfaat atau jasanya diserahkan mendatang. 
  3. Ujrah muajjalan, yaitu sebagaimana terjadi pada akad ijarah muajjal atau akad Paylater (bayar belakangan). Cirinya, adalah manfaat atau jasa sudah diterima, akan tetapi upah jasa itu masih diserahkan mendatang (ijarah bi al-tsaman al-ajil).
  4. Ujrah taqsith, yaitu sebagaimana terjadi pada akad Paylater juga, akan tetapi dengan perjanjiian bahwa upah tersebut akan diberikan secara angsuran (ijarah taqsith). 

Semua jenis akad ijarah ini menghendaki ketentuan ujrah ma’lum yaitu upahnya harus disebutkan di muka. Ketentuan wajib disebutkan di muka inilah yang merupakan pangkal dari dikenalnya ujrah musamma

Sedikit perbedaan dari ujrah ma’lum, adalah bahwa ujrah musamma ini lahir sebagai buah dari kesepakatan. Alhasil, nilainya bisa lebih tinggi dari ujrah mitsil, atau justru sebaliknya, lebih rendah.

مجموعة من المؤلفين – الجزء السادس←الباب السابع الإجارة←ضمان العين المستأجرة

والأُجرة المسماة: هي الأُجرة المتفق عليها بين المتعاقدين، وقد تزيد على أجرة المثل وقد تنقص.

Ujrah Mitsil

Ujrah mitsil merupakan buah dari akad ijarah fasidah. Mengapa disebut ijarah fasidah? Sebab, ada ketentuan syarat dan rukun ijarah yang tidak terpenuhi dalam kontrak yang terjadi. 

Misalnya, seseorang menyuruh orang lain agar bekerja ditempatnya. Namun ia tidak memberitahukan mengenai berapa upah yang akan diberikan ke pekerja itu. 

Nah, standar penetapan besaran ujrah pola akad seperti ini adalah disesuaikan dengan upah pekerja yang berlaku di wilayah tempat mereka berdomisili. Ujrah inilah yang kemudian dikenal dengan istilah ujrah mitsil. Alhasil, ada peran urf atau adat yang berlaku di dalamnya dan tidak bisa dihilangkan. Umumnya, besaran ujrah mitsil ditetapkan menurut pertimbangan ahli khubrah.

مجموعة من المؤلفين – الجزء السادس←الباب السابع الإجارة←ضمان العين المستأجرة

وأُجرة المثل: هي الأُجرة التي يقدرها أهل الخبرة عادة لمثل العين المستأجرة أو العمل المستأجر عليه.

Kondisi di mana tidak diketahui besaran ujrah mitsil dan ujrah musamma

Yang menjadi persoalan adalah ketika kontrak kerja itu telah terjadi, dan amal telah dilakukan, akan tetapi tidak ada ujrah musamma yang mendahului serta tidak dijumpai adaya informasi mengenai ujrah mitsil. Berapa ujrah yang harus diterima oleh musta’jir (pihak yang disewa)? 

Dalam konteks ini, Imam Nawawi dalam Kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab menjelaskan:

الإجارة الفاسدة أجرة المثل بخلاف الإجارة الباطلة فلا يجب فيها شيء، وهذه من المواضع التي يفرق فيها الشافعية بين الفاسد والباطل

Yang diterimakan dalam ijarah fasidah adalah ujratu al-mitsli, berbeda dengan ijarah bathil, maka tidak ada kewajiban apapun yang perlu disampaikan. Alhasil, para fuqaha’ Syafiiyah membedakan antara ijarah fasid dan ijarah bathil. 

Ijarah fasidah, terjadi akibat tidak diketahuinya ujrah ma’lum. Sementara ijarah bathilah, adalah akad kontrak yang tidak memenuhi syarat dan rukun akad ijarah. Misalnya, ijarah yang dilakukan oleh anak kecil, ma’tuh, atau majnun disebabkan pihak aqidnya belum baligh, atau tidak berakal sehingga tidak memenuhi syarat ahli tasharruf. Lain halnya bila akadnya bukan ijarah, melainkan ju’alah (sayembara). 

Terkat dengan persoalan ini, Imam Ibn Hajar al-Haitamy menyampaikan dalam sebuah keterangan:

الفتاوى الفقهية الكبرى ٣/‏٣٧٥ — ابن حجر الهيتمي (ت ٩٧٤) – باب الجعالة

(سُئِلَ) عَمّا إذا رَدَّ الصَّبِيُّ العَيْنَ المَجْعُولَ عَلَيْها جُعْلٌ فَهَلْ يَسْتَحِقُّ الجُعْلَ؟ (فَأجابَ) بِقَوْلِهِ: نَعَمْ يَسْتَحِقُّهُ كَما اقْتَضاهُ إطْلاقُهُمْ وأفْتى بِهِ البارِزِيُّ، وقاسَهُ عَلى ما لَوْ قالَ لَهُ خُطَّ هَذا الثَّوْبَ ولَكَ أُجْرَةٌ، ولَهُ احْتِمالُ أنَّهُ يَسْتَحِقُّ أُجْرَةَ المِثْلِ كَما لَوْ عَقَدَ الإجارَةَ مَعَ الصَّبِيِّ عَلى عَمَلٍ ويُجابُ: بِأنَّ الإجارَةَ يُشْتَرَطُ فِيها القَبُولُ وهُوَ لا يَصِحُّ مِن الصَّبِيِّ فَكانَتْ فاسِدَةً، بِخِلافِ الجِعالَةِ فَإنَّهُ لا يُشْتَرَطُ فِيها إلّا العَمَلُ وهُوَ يَصِحُّ مِن الصَّبِيِّ، فَلَمْ تَكُنْ فاسِدَةً وإذا لَمْ تَفْسُدْ وجَبَ المُسَمّى.

Secara mafhumnya, ijarah anak kecil adalah bathilah dan bukan fasidah dengan illat bukan ahli tasharruf harta. Namun, illat bathilah tersebut hilang bila akadnya adalah ju’alah sebab yang disyaratkan dalam ju’alah adalah amal (kerja). Tidak begitu penting siapa yang mengerjakan. 

Jadi, apabila seorang anak kecil telah melakukan kerja sesuai prinsip ju’alah, maka ia berhak menerima ju’lu. Dan setiap ju’lu wajib memenuhi syarat musamma (disebutkan secara jelas besarannya dan kadarnya) berdasarkan kriteria kerja (amal). Jadi, tidak boleh dengan ujrah mitsil sebab dalam ujrah mitsil tersimpan makna wajibnya pelaku adalah terdiri dari ahli tasharruf harta (aqil dan baligh). 
Nah, prinsip ini juga bisa ditarik untuk kasus penentuan idealitas bea admin. Jadi, apabila terjadi ijarah fasidah, maka akad itu bisa dialihkan ke prinsip ju’alah. Atau bisa juga tetap di akadi dengan ijarah, namun dengan syarat pelakunya terdiri dari ahli tasharruf harta. 

Jika ditarik ke ju’alah, maka akad bea admin akan berubah seperti apa yang disampaikan oleh Imam Syihabuddin Umairah al-Bursily dalam Hasyiyah Amirah ‘Ala Syarh al-Mahally li al-Minhaj sebagai berikut:

عميرة، شهاب الدين البرسلي، حاشية على شرح المحلي للمنهاج، الطبعة الرابعة، (بيروت: دار الفكر)، ج ٢ / ص ٢٥٨

اقترض لي مئة ولك عشرة، لزمته العشرة لأنها جعالة، كذا قالوه، ولعله إن كان في الاقتراض كلفة تقابل المال

Alhasil, kulfah-nya admin, dinilai sebagai bagian kerja yang berhak mendapatkan ganti berupa harta (tuqabilu al-mal). Jika adminnya memenuhi syarat ahli al-tasharruf, maka ia berhak juga atas ujrah lewat akad ijarah. Dengan demikian, ujrah dari akad ijarah fasidah adalah ujrah mitsil. 

الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي ٦/‏١٥٢ — مجموعة من المؤلفين – الجزء السادس←الباب السابع الإجارة←ضمان العين المستأجرة

ومثل المنفعة العين ما إذا كانت الإجارة على عمل، وعمل الأجير العمل المستأجَر عليه أو بعضه، فإنه يستحق أُجرة مثل ما عمل، كُلاًّ أو بعضًا، على الخلاف المذكور

Ujrah mitsil standarnya adalah ‘urf. Sementara ujrah musamma, standarnya adalah adat. 

الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي ٦/‏١٥٢ — مجموعة من المؤلفين – الجزء السادس←الباب السابع الإجارة←ضمان العين المستأجرة

وأُجرة المثل: هي الأُجرة التي يقدرها أهل الخبرة عادة لمثل العين المستأجرة أو العمل المستأجر عليه.

والأُجرة المسماة: هي الأُجرة المتفق عليها بين المتعاقدين، وقد تزيد على أجرة المثل وقد تنقص.

وإنما وجبت أجرة المثل في الإجارة الفاسدة لأن الإجازة بيع المنافع كما علمت، فإذا فسد العقد كان ما سمّياه من الأُجرة غير لازم، لأنه إنما يلزم بالعقد ولا عقد، والمنفعة كالعين المبيعة، فإذا استوفيت وجب بدلها، وهو أجرة المثل

Adat bisa lahir karena adanya kesepakatan bersama atau aturan bersama. Misalnya, disepakati bahwa bea admin adalah 100, maka 100 tersebut, masuk dalam lingkup ujrah musamma, atau ju’lu musamma. 

Sementara urf, adalah lahir karena tradisi pengupahan itu sudah berlangsung turun temurun di institusi yang sejenis dan berdasarkan ketetapan para ahli khubrah. Berdasarkan landasan ini, maka tidak heran bila dalam kasus deposito, pihak perbankan syariah menetapkan angka kisaran bagi hasil adalah 12% per tahun dari modal. 

Perlu dicatat, ya!? Bahwa maksud dari angka kisaran itu tidak sama dengan penetapan angka pasti (musamma). Jika angka kisaran disebut sebagai angka pasti, maka mudlarabahnya menjadi fasid

Namun, bila angka kisaran itu bukan angka pasti, maka bagi hasilnya masuk dalam ranah mudlarabah fasidah. Akad ini bisa dishahihkan melalui introduksi akad ijarah atau akad ju’alah sebagaimana di atas. 

Sebagai gambaran jelasnya, simak penjelasan berikut ini! Suatu misal, jika bunga deposito bank konvensional umumnya adalah 12% per tahun, maka akad deposiito pada perbankan syariah bisa ditetapkan secara pasti sebagai 30% dari hasil yang dicapai secara ju’alah. Nilai 30% dari hasil, adalah berkisar sebesar 12%-nya modal. Silahkan diangan-angan! 

Itulah gambaran dari cara penentuan ju’lu mitsil atau ujrah mitsil. Urf yang dipergunakan adalah urf dari lembaga sejenis. 

Ujrah musamma juga bisa ditentukan lewat adat yang sama dan berlaku pada lembaga sejenis. Sudah pasti, yang bisa melakukan kalkulasi semacam ini, adalah pihak yang disebut sebagai ahlu al-khubrah

إذا لم يتعين مقدار أجرة السمسار اتفاقًا أو عرفًا عين المجلس حسبما يراه أهل الخبرة

Simak juga ulasan berikut!

بحوث في قضايا فقهية معاصرة للقاضي محمد تقي العثماني بن الشيخ المفتي محمد شفيع, دار النشر: دار القلم – دمشق, الطبعة: الثانية، ١٤٢٤هـ – ٢٠٠٣ م  ص ٢١١-٢١٢

وبجواز تحديد أجرة السمسرة بالنسبة المئوية أفتى كثير من متأخري الحنفية مثل مولانا الفقيه الورع الشيخ أشرف علي التهانوي رحمه الله تعالى الذي كان يعتبر من مقدمة الفقهاء الحنيفة في الهند ولا يخفى أن المؤونة والمشقة في السمسرة ربما لا تختلف بإختلاف الأثمان ومع ذلك جاز بناء أجرة السمسرة على النسبة المئوية عند هؤلاء الفقهاء، فيقاس عليه أجرة الأعمال الإدارية في مسألتنا لعدم الفارق بينهما.

ولكن هذه النسبة المئوية لا بد أن تكون ضئيلة لا يرتاب في كونها رسم الخدمة ولا يجوز أن تتعدى أجرة مثل هذه الأعمال في حال من الأحوال وإلا صارت منفعة مجلوبة بالقرض وحراما دون أي تردد.

وبما أن تحديد هذه النسبة المئوية التي لا تجاوز أجر المثل يخاف فيه التعدي بما يمكن أن يتدرج إلى الاحتيال لأخذ الربا فالمناسب أن يحددها البنك في إطار مجموع التكاليف الفعلية الواقعة على مجموع القروض وذلك بأن تحدد مجموع التكاليف الفعلية التي تحملها البنك على مجموع القروض في سنة واحدة ثم توزعه على مجموع المبالغ التي أقرضها في تلك السنة وتحصل من ذلك نسبة التكاليف على كل مئة من مبالغ القرض وتجعل هذه النسبة المئوية مقابل الخدمات الإدارية يتقاضاها البنك من المستقرضين كرسم الخدمة دون أن تدخل في تفاصيل التكاليف الفعلية التي تحملها بالنسبة لكل مشروع على حده

Jadi, kalau misalkan ditanya, berapa idealitas bea yang bisa dipungut oleh admin? 

Maka jawabnya bisa diperinci sebagai berikut:

  1. Sesuai dengan ujrah mitsil, dengan standar besarannya ditetapkan menurut urf atau adat yang berlaku di perusahaan atau unit usaha sejenis yang ditanggung oleh admin
  2. Sesuai dengan ujrah musamma, yaitu ditetapkan besarannya secara pasti berdasarkan kesepakatan yang sudah dibentuk
  3. Penggunaan pendekatan antara akad ijarah atau akad ju’alah. Alhasil, siapa yang menyuruh maka dia yang memberikan ujrah atau ju’lu. Kalau dua-duanya yang menyuruh, maka otomatis ujrah itu berasal dari 2 pihak.
Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

Tinggalkan Balasan