elsamsi log

Menu

Muqaradlah Arisan dan Muqaradlah Bagi Hasil

Muqaradlah Arisan dan Muqaradlah Bagi Hasil

Arisan merupakan sebuah akad saling menghutangi antar anggota masyarakat yang terlibat di dalam sebuah perkumpulan yang bisa dipertanggungjawabkan. Praktiknya dilakukan dengan jalan menyetorkan uang yang dikumpulkan secara bersama-sama ke seseorang yang menjadi ketua kelompok. Kemudian diundi, dan siapa yang keluar undiian maka ia mendapatkan seluruuh uang yang terkumpul. (Baca Juga: Arisan Qurban)

Akad ini merupakan akad yang masyhurah dan bahkan terkenal sejak masa sebelum al-Imam Al-Qalyubi (w. 1069 H). Saking masyuhurnya, sampai-sampai masalah arisan itu diabadikan dalam salah satu Kitab Hasyiyah beliau sebagai berikut:

الجمعة المشهورة بين النساء بأن تأخذ امرَأةٌ من كل وَاحدَة مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فِى كُلِّ جُمْعَةٍ أَوْ شَهْرٍ فَتَدْفَعَهُ لِوَاحِدَةٍ إلَى آخِرِهِنَّ جَائِرَةٌ كَمَا قَالَهُ الوَلِيُّ العَرَاقِيُّ.

“Kerukunan yang sudah terkenal di antara para wanita, dengan jalan salah seorang wanita mengambil dari para jamaah mereka sejumlah uang tertentu pada setiap hari Jumat atau setiap bulan, kemudian wanita tersebut memberikan jumlah yang terkumpul secara bergiliran dari satu wanita ke wanita yang lain sampai akhir giliran, hukumnya adalah boleh, sebagaimana hal ini juga dinyatakan oleh Waliyuddin al-Iraqi.” (Hasyiyah Qolyubi: juz 2 halaman 321)

Mengingat penyerahan tersebut merupakan penyerahan harta kepada pihak lain yang disertai jaminan bisa kembalinya harta pihak yang menyerahkan, maka akad penyerahan sebagaimana model ini adalah termasuk akad hutang (qardl). Bila hal itu dilakukan di dalam sebuah perkumpulan yang dilakukan secara bergiliran, maka disebut dengan akad iqradl (menghutangi) atau muqaradlah (saling menghutangi). (Baca Juga: Membangun Fasilitas Pribadi di Atas Tanah Milik Publik)

Jadi, diksi muqaradlah di sini tidak berasal dari قارض – يقارض- مقارضة – وقراضا  yang maknanya adalah saling menghutangi modal (qiradl), melainkan berangkat dari kata dasar قرض yang bermakna hutang kemudian ditambah dengan alif untuk menunjukkan pengertian saling. Sudah barang tentu, pemakaian kedua diksi ini akan sangat berbeda dalam penjabarannya dan imbas hukumnya. Nah, arisan di masyarakat kita adaah berangkat dari dasar qaradla sehingga merupakan cabang dari akad utang (qardl). Apa perbedaan hukumnya? Simak ulasan berikut ini!

Muqaradlah sebagai Cabang Akad Qardl (Utang)

Jika akad muqaradlah berangkat dari cabang akad qardl, maka ketentuan yang harus dipatuhi bagi sahnya akad ini adalah bahwa harta yang diterima oleh anggota harus kembali sebesar hisab harta yang diserahkan sebelum atau sesudahnya. 

Jadi, misalnya ada 10 orang, yang setiap Jum’at setor uang sebesar 10 ribu rupiah, maka uang yang diterima oleh setiap anggota tersebut setelah mendapatkan giliran adalah harus berjumlah total 100 ribu rupiah. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang. 

Bila terjadi lebih pada harta yang diserahkan, maka kelebihan itu disebut qardlun jara naf’an fahuwa riba. RIbanya adalah jenis riba qardli (riba utang). Hukumnya adalah haram. Sekarang mari kita bandingkan bila muqaradlah itu berangkat dari cabang akad qiradl. (Baca Juga: Hutang Piutang dalam Situasi Beda Kurs)

Muqaradlah sebagai Cabang Akad Qiradl

Akad qiradl merupakan akad permodalan. Akad ini masyhurnya adalah di tanah Arab dan merupakan ‘urf ahli Madinah ketika menyebut akad mudllarabah sebagai akad muqaradlah sebagaimana mereka menyebut akad ijarah sebagai akad bai al-manfaah (Mausu’ah al-Fiqhiyyah: 1/377). 

Penjelasan yang sama dapat ditemui pada keterangan dari Imam Malik bin Anas rahimahullah pada Kitab al-Mudawwanah. Alhasil, meskipun asal sebenarnya diksi muqaradlah ini adalah dari akar kata qiradl, namun berdasarkan ‘urf, maka pada dasarnya pelaksanaannya dan ketentuannya adalah mengikuti ketentuan akad mudlarabah (bagi hasil keuntungan / profit sharing), sehingga modal kembali kepada pemodal (rabbu al-maal). 

Sebagai catatan sahnya akad muqaradlah ini, adalah:

  1. adanya ruang usaha. Bila tidak ada ruang usaha, maka akad muqaradlah hukumnya adalah haram. 
  2. Pemodal mengetahui / mengenal pihak yang dimodali. 
  3. Ruang usaha itu harus jelas-jelas halal. (Baca juga: Hukum Bagi Hasil Pemeliharaan Sapi)

Imam Malik radliyallahu ‘anhu menyampaikan: 

 لا أحب للرجل أن يقارض رجلا إلا رجلا يعرف الحلال والحرام وإن كان رجلا مسلما فلا أحب له أن يقارض من يستحل شيئا من الحرام في البيع والشراء‏

“Aku tidak suka seseorang yang melakukan akad bagi hasil dengan orang lain, kecuali pihak yang diajak tersebut telah mengenal halal dan haram. Meskipun orang itu adalah orang Islam. Apalagi orang yang diajak itu adalah orang yang gemar menghalalkan sesuatu yang haram, meskipun lewat akad jual beli.” (Ibnu Rusyd, Al-Bayan wa al-Tafshil, 12/381)

Kesimpulan

Alhasil, beda bukan? Dua akad yang sama-sama sebutannya adalah muqaradlah. Muqaradlah yang pertama adalah cabang dari akad qardl (utang). Alhasil, ketentuan yang diikuti, adalah mengikuti ketentuan akad utang piutang. Muqaradlah yang kedua, adalah istilah lain dari akad mudlarabah. Istilah ini merupakan urf ahli Madinah. 

Yang berlaku berdasarkan ‘urf di indonesia, akad muqaradlah yang berlaku adalah akad arisan. Sahnya akad ini adalah pengembalian utangnya harus bisa dijamin. Jika tidak, maka haram. Jika lebih, maka haram. Jika sama, maka boleh. Jika kurang, perlu ditafshil hukumnya. Jika tidak diberikan kepada orang yang sama-sama ikut arisan, maka haram sebab riba. Jika diberikan kepada perkumpulan, maka boleh dengan syarat besarannya harus diketahui di awal. Wallahu a’lam bi al-shawab

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

1 Comment

Avarage Rating:
  • 0 / 10

Tinggalkan Balasan