elsamsi log

Menu

Pengobatan Alternatif dalam Islam. Kencing Onta, Darah dan Bangkai serta Transfusi Darah

Pengobatan Alternatif dalam Islam. Kencing Onta, Darah dan Bangkai serta Transfusi Darah

Di dalam banyak manuskrip karya para fuqaha dari kalangan mutaqaddimin, telah banyak dijelaskan bahwa barang haram atau najis hukumnya tidak sah untuk dijualbelikan. 

Hukum jual beli dengan kedua obyek barang tersebut, menurut konteks Madzhab Hanafi dipandang bai’ fasad. Dengan demikian, dalam kondisi normal meniscayakan harga kembali kepada pembeli dan barang kembali pada penjual. 

Di sisi lain, hukumnya juga masih dipandang boleh apabila kedua obyek haram tersebut digunakan untuk kemaslahatan umum, misalnya minyak yang terkena najis untuk kebutuhan penerangan jalan, dan bukan penerangan masjid.

الدر المختار وحاشية ابن عابدين (رد المحتار) ٥/‏٢٢٨ — ابن عابدين (ت ١٢٥٢)

ويَجُوزُ بَيْعُ دُهْنٍ نَجِسٍ أيْ مُتَنَجِّسٍ كَما قَدَّمْناهُ فِي البَيْعِ الفاسِدِ (ويُنْتَفَعُ بِهِ لِلِاسْتِصْباحِ) فِي غَيْرِ مَسْجِدٍ كَما مَرَّ

Artinya, “Boleh menjualbelikan minyak najis atau terkena najis sebagaimana penjelasan terdahulu dalam bai’ al-fasid namun bila dimanfaatkan untuk memberi penerangan di selain masjid, sebagaimana telah dikupas pada kesempatan yang lalu.”

Di dalam beberapa hadits juga banyak direkam mengenai hukum bolehnya meminum kencing onta dan darah untuk maksud pengobatan penyakit yang membahayakan nyawa (maradlun mukhawwaf). Hal ini sebagaimana bisa ditemui pada penjelasan mushannif kitab Al-Kifayah Syarh al-Hidayah dan Kitab Hasyiyah Ibn Abidin.

الدر المختار وحاشية ابن عابدين (رد المحتار) ٥/‏٢٢٨ — ابن عابدين (ت ١٢٥٢)

يجوز للعليل شرب البول والدم والميتة للتداوي إذا أخبره طبيب مسلم أن فيه شفاء، ولم يجد من المباح ما يقوم مقامه

Artinya, “Boleh bagi pihak yang sakit untuk meminum kencing dan darah serta memakan bangkai untuk pengobatan, dengan catatan bahwa hal tersebut diberitahukan oleh seorang dokter muslim, bahwa pada ketiga bahan tersebut terdapat obat serta belum ditemukan adanya barang mubah lain yang bisa menggantikan kedudukannya.”

Adanya hukum larangan menandakan bahwa hal itu memang merupakan bagian yang diperingatkan keharamannya oleh syara’. 
Namun, karena adanya illat dlarurat yang bisa menimbulkan halak (kebinasaan), maka menjadikan pihak yang sakit atau mengalami dlarurah itu menjadi boleh untuk mengonsumsinya dengan disertai sebuah catatan, yaitu: 
  1. Bila yang memberikan resep adalah dokter muslim
  2. Tidak ada obat atau alternatif lain yang bisa dipakai 

Alasan inilah yang menjadi landasan bagi beberapa fatwa mengenai kebolehan praktik donor dan transfusi darah dari pihak lain. Misalnya Fatwa al-Syeikh Muhammad ibn Ibrahim, Mufti Kerajaan Arab Saudi. Ia mengatakan:

فتاوى الشيخ محمد بن إبراهيم ٣/‏١٧٤، ١٧٥

وجه الدلالة من هذه الآيات (آيات الضرورة) أنها أفادت إذا توقف شفاء المريض أو الجريح وإنقاذ حياته على نقل الدم إليه من آخر بأن لا يوجد من المباح ما يقوم مقامه في شفائه وإنقاذ حياته، جاز نقل هذا الدم إليه

Dalam proses transfusi tersebut, tidak dibedakan mengenai darah orang muslim ataupun darah orang kafir. Hukum kebolehan adalah karena alasan dlarurah li al-hajah dan termasuk min babi al-aula dibanding praktek lainnya, seperti cangkok atau transplantasi organ.

الانتفاع بأجزاء الآدمي في الفقه الإسلامي، للشيخ عصمت الله عناية الله، رسالة ماجستير من كلية الشريعة، جامعة أم القرى، مكة المكرمة، ١٤٠٨ (ص ١٨٨)

ولا فرق بين دم المسلم ودم الكافر في أصل مشروعية الانتفاع وإباحة النقل عند الحاجة؛ لأنه إذا أبيح زواج المسلم بالكتابية وتكون الأولاد من هذا الزواج بدمائها، فإباحة نقل الدم من باب الأولى حيث إنه مجرد إسعاف لا يتكون منه أصل الجسد

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Sayyid Abu al-A’la al-Maududi, dalam karyanya:

ترجمان القرآن (يناير ١٩٦٢) ورسائل ومسائل: ٣/‏٢٩٢ – ٢٩٥، الطبعة الثامنة ١٩٧٩

يجوز –عندي- نقل الدم للمريض إنقاذًا لحياته ولا وجه لتحريمه ومنعه

Majelis Ulama Pakistan juga berfatwa hal yang sama. Dalam konteks ini, Mufti Mesir, Syeikh Husnain Makhluf merupakan yang teridentifikasi sebagai orang pertama yang berfatwa akan hukum kebolehan itu: 

Apakah transfusi darah dapat berpengaruh terhadap hukum kemahraman? 

Sebuah fatwa yang dirilis oleh OKI pada tahun 1409 H, menyatakan tidak berpengaruh terhadapp kemahraman.

وقد جاء في الفتوى الصادرة في ١٣/‏٧/١٤٠٩ تحريم بيع الدم، وأن نقل الدم من امرأة إلى طفل دون الحولين لا يأخذه حكم الرضاع المحرم.

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

Tinggalkan Balasan