elsamsi log

Menu

Teologi Tanah: Pembukaan Lahan menyalahi Prosedur yang ditetapkan Negara

Teologi Tanah: Pembukaan Lahan menyalahi Prosedur yang ditetapkan Negara

Di era Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, saat beliau memutuskan untuk melakukan iqtha’u al-ardly kepada al-Zubair ibn Awwam, kebijakan itu di satu sisi bisa disebut sebaagai ihyau al-mawwat apabila dilihat dari sisi statusnya muslimnya al-Zubair dan keberadaan tanah iqtha' tersebut ada di wilayah taklukan yang didapat dari hasil penundukan (taslith). 

Namun di sisi yang lain, juga bisa dibaca sebagai bukan ihyau al-mawwat jika melihat indikasi adanya pohon kurma dan beberapa pepohonan lain yang masih ada di dalamnya. Itu sebabnya, kebijakan sebagaimana yang disampaikan dalam contoh tersebut juga dilabeli oleh fuqaha’ sebagai iqthau al-ardly saja. Tergantung lokasinya, ada di bumi taklukan atau bukan.

Mengikut pada jalur pemahaman kedua ini, selanjutnya kita menariknya pada kasus negara bangsa. Di negara bangsa, semua tanah yang berada dalam wilayah teritorial suatu negara, sebagai yang dikuasai oleh negara. 

Jadi, apabila negara melakukan pembagian tanah kepada warganya, maka kebijakan itu hanya bisa masuk dalam rumpun hibah kepemilikan saja sebab tidak didahului penundukan.

Madhinnah (indikasi) penguat dalam hal ini, adalah sebagai berikut:

Pertama, Warga negara di negara bangsa kondisinya bukan hanya umat Islam saja. Dan mereka semua memiliki peluang yang sama dalam menerima pembagian tanah tersebut. Dengan demikian, tidak memenuhi syarat muhyi yang dilegalkan dalam syara’ sebab syarat muhyi adalah menghendaki terdiri dari umat Islam. Tujuan dari disyariatkannya Ihyaul mawat sendiri awalnya untuk kemaslahatan umat Islam (li mashalihi al-musliimin). Imam Abu Hanifah sebagaimana dikutip oleh Ibn Bathal (w. 449 H) dalam kitabnya, menegaskan:

قال أبو حنيفة: إن إحياء الموات من مصالح المسلمين، لأن الأرض مغلوب عليها، فوجب ألا تملك إلا بإذن الإمام كالغنيمة (شرح صحيح البخارى لابن بطال ٦/‏٤٧٦ — ابن بطال (ت ٤٤٩))

“Imam Abu Hanifah mengatakan: sesungguhnya ihyau al-mawat adalah bagian dari mashalihnya kaum muslimin. Karena tanah yang dihidupkan, diperoleh dari tanah tundukan. Itu sebabnya tidak bisa dikuasai tanpa idzin dari Imam, sebagaimana harta ghanimah.” Syarah Shahih Bukhari li Ibn bathal, Juz 6, halaman 476)

Kedua, pembagian tanah adalah tidak berangkat dari wilayah penundukan, melainkan teritorial kesepakatan. Alhasil, tanah yang ada di dalamnya adalah tanah yang diperoleh dengan jalan damai antar warganya. Dalam kondisi damai, akad pindah milik hanya berlaku melalui jalan hibah, jual beli, waris, wakaf dan wasiat, shadaqah, ghanimah dan ihya

فَإن أحْيا المُسلم مواتا فِي بلد صولح الكفّار على الإقامَة فِيهِ لم يملك بذلك الموات لِأن الموات تابع للبلد فَإذا لم يجز تملك البَلَد عَلَيْهِم فَكَذَلِك ما تبعه (جواهر العقود ١/‏٢٤٠ — المنهاجي الأسيوطي (ت ٨٨٠))

“Jika seorang muslim menghidupkan bumi mati di suatu negeri yang mana orang kafir diajak hidup damai berdampingan di dalamnya, maka ia tidak bisa menguasai bumi mati yang dihidupkannya tersebut, karena sesungguhnya al-mawat mengikut pada negeri. Apabila negeri itu tidak boleh ditundukkan maka demikian halnya dengan segala sesuatu yang ada di dalamnya.” (Jawahiru al-’Uqud li al-Manahijy al-Asbuthy, Juz 1 halaman 240).

Imam Nawawi (w.   676 H) dalam Majmu’ Syarah Muhadzab, Juz 15, halaman 208, menjelaskan: 

أما العامر فلاهله الذى قد ملكوه بأحد أسباب التمليك وهى ثمانية: ١ – الميراث ٢ – المعاوضات ٣ – الهبات ٤ – الوصايا ٥ – الوقف ٦ – الصدقات ٧ – الغنيمة ٨ – الاحياء. فإذا ملك عامرا من بلاد المسلمين بأحد هذه الاسباب الثمانية صار مالكه له ولحريمه ومرافقيه من بناء وطريق ومسيل ماء وغير ذلك من مرفق العامر التى لا يستغنى العامر عنها فلا يجوز ان يملك ذلك على أهل العامر باحياء ولا غيره فمن أحياه لم يملكه

“Adapun wilayah yang berpenghuni maka tanah itu adalah milik warganya dan bisa dikuasai melalui salah satu dari 8 sebab, yaitu waris, pertukaran, hibbah, wasiat, wakaf, shadaqah, ghaimah dan ihyau al-mawwat. Apabila seseorang menguasai tanah berpenghuni itu melalui salah satu dari 8 sebab yang dimaksud, maka ia berhak memilikinya, batas-batasnya, dan segala manfaat yang terkandung di dalamnya, misalnya dibanguni bangunan, jalan, aliran air, dan lain sebagainya yang merupakan fasilitas yang dimiliki oleh wilayah berpenghuni yang tidak mungkin sebuah wilayah tanpanya. Tidak boleh bagi warganya menguasainya, baik dengan alasan ihyai al-mawwat atau alasan lainnya. Barang siapa beralasan ihyau al-mawwat, maka baginya tetap tiada hak memiiliki.” (Majmu’ Syarah Muhadzab li al-Nawawy, Juz 15, halaman 208, 

Ketiga, penggunaan tanah negara tanpa seidzin dari pejabat yang berwenang adalah termasuk kategori perilaku ghashab sehingga haram. 

Muwaffiquddin ibn Qudamah (w. 620 H) menyampaikan:

الغصب هو الاستيلاء على مال غيره بغير حق، وهو محرم بالكتاب والسنة والإجماع (المغني لابن قدامة ٥/‏١٧٧ — المقدسي، موفق الدين (ت ٦٢٠))

“Ghashab itu adalah menguasai harta milik orangg lain dengan cara yang tidak benar. Hukumnya adalah haram berdasar Al-Qur’an, Al-Sunnah dan Ijma.” (Al-Mughny li Ibn Qudamah, Juz 5, halaman 177).

Ibn Maudud al-Mushily (w. 683 H), di dalam Al-Ikhtiyar li Ta’li al-Mukhtar, juga menyampaikan bahwa ghashab secara syara, adalah:

أخذ مال متقوم محترم مملوك للغير بطريق التعدي (الاختيار لتعليل المختار ٣/‏٥٨ — ابن مودود الموصلي (ت ٦٨٣))

“Mengambil harta berharga yang mulya milik pihak lain dengan jalan melampaui batas.” (Al-Ikhtiyar li Ta’lil al-Mukhtar li Ibn Maudud al-Mushily, Juz 3, halaman 68)

Keempat, memindahmilikkan tanah yang dikuasai negara atau pihak lain tanpa mengikuti prosedur yang berlaku, adalah sama dengan menguasai barang hasil meng-ghashab tanpa ada niatan mengembalikan, sehingga masuk dalam rumpun delik pencurian (sariqah) (dan cabangnya) secara syara’

السرقة  …. في الشَّرعِ: عبارةٌ عن أخذِ الواجدِ منْ مِلكِ غيرِهِ نصابًا فأكثرَ من حرزِ مثله خفيةً بقصدِ السرقةِ (التدريب في الفقه الشافعي ٤/‏١٧٩ — سراج الدين البلقيني (ت ٨٠٥))

“Pencurian….secara syara’ adalah suatu ungkapan yang menggambarkan tindakan seseorang yang mengambil harta milik pihak lain sebesar 1 nishab pencurian (¼ dinar) atau lebih dari tempat penyimpanan secara sembunyi-sembunyi dengan niat mencurinya.” (Al-Tadrib fi al-Fiqh al-Imam al-Syafii li Sirajuddin al-Bulqiny, Juz 4, halaman 179).

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

Tinggalkan Balasan