elsamsi log

Menu

9 Maret, Hari Kedaulatan Hidung Nasional

9 Maret, Hari Kedaulatan Hidung Nasional

Di bulan Maret 2022 ini, ada beberapa peristiwa bersejarah yang dicetuskan oleh pemerintah. Peristiwa pertama, masih ada hubungannya dengan peristiwa bersejarah Serangan Umum 1 Maret 1949. Ada 2 momen penting yang kembali dilakukan perbaruan pembacaannya oleh pemerintah yang sudah barang tentu lewat dukungan para sejarawan.

Tanggal 1 Maret kinii tidak lagi dibaca sebagai memperingati serangan umum yang dikomandani oleh Letnan Kolonel Soeharto (Mantan Presiden RI yang kedua). Pada tanggal ini pula, kini diperingati juga Hari mempertahankan Kedaulatan Bangsa dengan tokoh sentralnya terdiri dari Ir Soekarno, Mohammad Hatta, Jenderal Soedirman dan Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono IX. 

Mengapa tidak ada Letkol Soeharto sebagai pimpinan serangan? Padahal buku-buku sejarah mencatat  bahwa beliaulah yang berperan besar dalam peristiwa janur kuning tersebut. Menkopolhukam Prof Mahfud MD menjelaskan bahwa titik tekan pencanangan 1 Maret sebagai Hari mempertahankan Kedaulatan Bangsa adalah dimaksudkan agar tokoh inisiator di balik serangan umum itu juga tidak turut dilupakan. 

Umumnya, secara struktural, tokoh yang ada dibalik peristiwa acap dilupakan oleh sejarah. Padahal, mereka-merekalah yang bertanggung jawab dengan segala risikonya ke depan. Itu sebabnya, kemunculan mereka harus tetap dilakukan, sembari tidak mengenyampingkan tokoh kunci di lapangan, yaitu Letkol Soeharto. 

Peristiwa Kedua, terjadi pada 09 Maret 2022. Mulai hari ini, kebijakan test PCR dan Test Antigen sudah tidak diperlukan lagi oleh para musafir jalanan, khususnya yang sudah menerima Vaksin Kedua Covid-19. Pemerintah, lewat keterangan yang disampaikan oleh Menteri Luhut B Pandjaitan memutuskan pelonggaran kebijakan test antigen dan Test PCR itu seiring adanya perkembangan yang baik dalam penanganan Covid 19 di dalam negeri dan berbagai negara. 

Sungguh, ini merupakan berita suka cita bagi masyarakat, karena mereka tidak perlu lagi takut melakukan perjalanan ke luar negeri dan khususnya tidak perlu menjalankan karantina wajib setelah kepulangannya dari luar negeri. Alhasil, biaya perjalanannya pun juga otomatis bisa ditekan. Mengapa?

Selama masa diberlakukannya kebijakkan wajib test antigen dan PCR sebelumnya, masyaarakat acap harus menyediakan biaya ekstra dalam perjalanannya. Mereka harus merogoh koceknya lagi untuk melakukan test PCR atau test antigen dengan besaran beragam. Ada yang 40 ribu rupiah, bahkan ada juga yang hingga 300 ribu rupiah, untuk sekali surat jalanan. Kelak ketika kembali mereka juga masih harus mengeluarkan biaya yang sama, dengan masa berlaku mulai dari 24 jam sejak tanggal diterbitkannya surat test antigen, sampai dengan 3×24 jam untuk hasil test PCR. Alhasil, selama 3 hari perjalanan, masyarakat dengan moda transportasi yang sama, hidungnya bisa dijajah dengan alat test swab antigen selama 2 kali, saat keberangkatan dan saat kepulangan. 

Berbekal apa yang disampaikan oleh Menteri Luhut B Panjaitan itu, otomatis semua bentuk test yang pernah terjadi itu akan diminimalisir. Apalagi apabila sudah pernah vaksin 2 kali Covid-19. Lepas, bebas merdekalah hidung ini. Kiranya tanggal 09 Maret ini juga bisa dicatat dalam sejarah, sebagai Hari Penjagaan Kedaulatan Hidung Nasional (HP-KHN) atau Hari Pertahanan Kemerdekaan Hidung Nasional (HP-KHN). Sebab, penjajahan di atas hidung, harus dilakukan.

Muhammad Syamsudin

Peneliti eL-Samsi

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: