elsamsi log

Menu

Agen Asuransi dan Perannya dalam Pemasaran Jasa Asuransi

Agen Asuransi dan Perannya dalam Pemasaran Jasa Asuransi

Asuransi dalam format keputusan lembaga Fatwa Majelis Ulama Indonesia, adalah dikelompokkan dalam akad takaful, tadlamun dan ta’min. Ketiganya, secara berurutan memiliki arti pengcoveran, penjaminan risiko dan pengamanan. 

Ditilik dari sisi latar belakang akad yang mewadahi, maka asuransi adalah berangkat dari akad kafalah (pengcoveran), dlaman (penjaminan risiko kerugian). 

Berdasarkan hasil penelusuran sejumlahh nushush al-syariah, kedua akad ini legal adalah karena dilatarbelakangi oleh qashd al-ta’awun (maksud tolong-menolong) sehingga legalitasnyya adalah semata karena pengaruh dlarurah li al-hajah (desakan kebutuhan masyarakat). 

Semangat yang dibawa oleh kedua akad memang sangatlah luhur, seiring manusia tidak bisa hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan uluran orang lain. 

Pelembagaan menjadi Takaful

Saat kafalah dan dlaman itu dilembagakan sehingga menjadi takaful atau tadlmin, di mana secara bahasa maknanya berubah menjadi “identik dengan saling mengcover / tolong menolong”, maka keberadaan kafalah menjadi mengalami perubahan motif. 

Kafalah dan dlaman, motif dasarnya adalah karena adanya jiwa kepedulian sosial dari seorang individu terhadap pihak yang sedang mengalami masalah. Sebagaimana kisah Sayyidina Umar radliyallahu ‘anhu yang menjamin seorang sahabat (di masanya) yang tertuduh melakukan pembunuhan. Jaminan (kafalah) yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ini sifatnya berangkat dari inisiatif beliau sendiri. Jadi, tidak ada yang mendorong atau mempengaruhinya. Alhasil, kemahuan menjamin dari Sayyidina Umar ini adalah 100% karena faktor kemanusiaan / sosial 

Saat faktor kemanusiaan itu dilembagakan sehingga berlaku menjadi wajib, maka di sini selanjutnya terbit berbagai persoalan. 

Persoalan pertama, karena dalam akad takaful ada biaya premi yang wajib dibayarkan secara rutin. 

Kedua, ada manfaat yang dijanjikan oleh perusahaan asuransi kepada member yang terlibat dalam takaful. 

Ketiga, asuransi lahir karena diwajibkan / diharuskan sehingga tidak lagi hadir karena inisiatif pribadi seorang member (kafil). 

Keempat, member pemegang polis tidak mengetahui kepada siapa dana premi yang diserahkannya itu dibayarkan. Apakah habis karena dipakai operasional oleh lembaga jasa asuransi, ataukah dibayarkan kepada pihak yang mengajukan klaim. 

Kelima, peserta asuransi senantiasa berganti-ganti seiring masa kontraknya habis. Alhasil, apabila dimasukkan dalam bagian akad dlaman, maka ada utang yang di bawa pergi oleh pihak yang sudah mendapatkan pengcoveran sebelumnya. 

Keenam, asuransi dibangun dengan janji berupa “produk manfaat pengcoveran.” Sebagaimana kita ketahui, bahwa yang dimaksud sebagai “manfaat” ini bisa berupa akumulasi uang premi, dan bisa juga berupa harta milik pihak lain yang statusnya setara dengan harta utang. Sementara pihak yang uanngnya dibawa oleh member yang sudah mendapatkan manfaat, adalah tidak ada ikatan apapun dalam bentuk ujrah (upah pekerjaan) atau ganti barang (dark al-mabi’).

Ketujuh, agen asuransi mendapatkan komisi dari hasil premi yang dibayarkan oleh peserta asuransi. Premi ini dibayarkan dengan besaran-besaran tertentu setiap tahunnya. 

Pola sedemikian ini, seperti tidak ada ubahnya “sebagai layaknya (mirip) dengan arisan berantai (ponzi) atau skema piramida. Hal ini diperkuat dengan ketiadaan produk (instrumen) yang menjembataninya. 

Karena hal ini pulalah, maka banyak orang berlomba untuk berprofesi menjadi agen asuransi guna mendapatkan imbal jasa.

Sumber Fee Agen Asuransi

Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 69 / POJK.05 / 2016, definisi agen asuransi adalah orang yang bekerja sendiri atau bekerja pada badan usaha yang bertindak untuk dan atas nama Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Asuransi Syariah dan memenuhi persyaratan untuk mewakili Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Asuransi Syariah memasarkan produk asuransi atau produk asuransi syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian.

Berdasarkan definisi di atas, maka peran utama agen asuransi adalah menjadi wakil perusahaan. Selaku wakil maka pihak agen semestinya mendapatkan fee dari pihak yang diwakilinya (muwakkil). Jadi, fee agen, semestinya adalah berasal dari perusahaan dan bukan dari member pemegang polis asuransi. Mengapa? Karena perusahaan adalah pihak yang butuh terhadap keberadaan agen asuransi.

Fakta yang berlaku di lapangan justru sebaliknya. Untuk lebih lengkapnya simak di tulisan mendatang! 

Semoga tulisan ini dapat membantu pembaca dalam menemukan gambaran mengenai apa itu asuransi dan agen asuransi! 

Bagi anda yang memiliki permasalahan seputar akad muamalah, maka dapat berkirim ke email redaksi@el-samsi.com. Kontribusi peserta untuk satu topik permasalahan adalah 100 ribu rupiah ke rekening yang telah ditentukan. Contact Person: 082330698449

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: