el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Pengertian Akhlak

Akhlak merupakan bentuk singular dari khuluq, yang secara bahasa memiliki makna:

السجية والطبع والمروءة والدين

“Watak alami, watak, menjaga kehormatan diri dan agama.”

Adapun secara istilah, akhlak didefinisikan secara beragam oleh para ulama’. 

Pertama, menurut Imam al-Ghazali rahimahullah: 

إحياء علوم الدين، (٣/ ٥٣) المؤلف: أبي حامد محمد بن محمد الغزالي، الناشر: دار المعرفة بيروت

عرف الإمام الغزالي رحمه الله الخلق بأنه عبارة عن هيئة في النفس راسخة، عنها تصدر الأفعال بسهولة ويسر من غير حاجة إلى فكر وروية

“Akhlak adalah suatu ungkapan tentang kondisi psiko seorang individu dan bersifat mengakar, yang darinya muncul beragam perbuatan dengan mudahnya, dan berjalan alami tanpa perlu berfikir atau meniru.”

Kedua, menurut Dr Abdul Karim Zidan – salah seorang dari Universitas al-Iman Iraq – mendefinisikan:

أصول الدعوة، (ص: ٧٩) المؤلف: الدكتور عبد الكريم زيدان، الناشر: مؤسسة الرسالة، الطبعة التاسعة (١٤٢٣ هـ ٢٠٠٢).

…..بأنها مجموعة من المعاني والصفات المستقرة في النفس، وفي ضوئها وميزانها يحسن الفعل في نظر الإنسان أو يقبح

“Akhlak merupakan gabungan dari sifat ma’nawi dan sifat yang mengakar pada diri individu, yang keberadaannya mampu menerangi jiwa, menjadi acuan bagusnya perbuatan indivdiu di hadapan orang lain atau sebaliknya buruknya perbuatan.” 

Berangkat dari 2 definisi ini, kita dapat menarik benang merah, bahwa yang dimaksud dengan akhlak itu adalah berhubungan erat dengan kondisi kejiwaan seorang individu [psycho personal temptation] di hadapan orang lain. Ia hadir sebagai watak yang dinilai baik-buruknya oleh orang lain. 

Sementara itu, yang kita maksud sebagai akhlak di sini, adalah akhlak yang sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran Islam [al-akhlaq al-Islamiyyah]. Bukan berarti bahwa kita hendak mengatakan bahwa dua definisi yang disampaikan oleh para ulama di atas dari zaman yang berbeda adalah tidak sejalan dengan Islam, melainkan kita hanya ingin memberikan ruang batasan, bahwa yang sedang kita pelajari adalah dalam konteks “akhlak Islami” di dalam “keluarga Islami.” 

Alhasil, kita tidak membahas terminologi akhlak ini menurut konteks keluarga non-muslim atau misalnya adalah konsep keluarga ‘ala masyarakat Eropa. Mengapa? Sebab, Islam sendiri telah memiliki sejumlah aturan yang mengikat dan berlaku dalam semua sendi kehidupan masyarakat muslim-mukallaf serta bersumber dari ajaran pokok Islam, yakni Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ dan Qiyas.

Selanjutnya, yang dimaksud sebagai akhlak Islami dalam konsep HKI, adalah sebagaimana ta’rif yang diwakili oleh Dr Abdul Karim Zidan, yaitu:

مكارم الأخلاق لمن أراد الخلاق ١/‏٦ — أنور بن أهل الله (معاصر)

الأخلاق الإسلامية هي مجموعة الأقوال والأفعال التي يجب أن تقوم علي أصول وقواعد وفضائل مرتبطة ارتباطا وثيقا بالعقيدة والشريعة الإسلامية من خلال القرآن الكريم وسنة الأكرم صلي الله عليه وسلم.

“Akhlak Islami merupakan suatu kumpulan aqwal dan af’al yang dibangun di atas landasan-landasan pokok ajaran, kaedah-kaedah dan keutamaan-keutamaan yang berkorelasi kuat dengan aqidah dan syariat Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Pengertian Tashawuf

Melalui pendefinisian yang jami’-mani’, kita diharapkan tidak salah paham terhadap pengertian tashawuf. Untuk itu, penulis merasa perlu untuk menghadirkan beberapa definisi yang disampaikan oleh para ulama’ terkait dengan istilah tashawwuf

Pertama, Ibn Khaldun

Menurut Ibn Khaldun dalam kitab Muqaddimah karyanya, beliau mendefinisikan bahwa tashawuf, adalah:

مقدمة ابن خلدون ٣٣٣

التصوف هو العكوف على العبادة والانقطاع إلى الله تعالى والإعراض عن زخرف الدنيا وزينتها، والزهد فيما يقبل عليه الجمهور من لذة ومال وجاه، والانفراد في الخلوة للعبادة

“Tashawwuf adalah sikap melulu beribadah, menggantungkan diri kepada Allah Ta’ala dan berpaling dari kemewahan dunia serta perhiasaannya dan berlaku zuhud – sebagaimana penjelasan jumhur ulama – terhadap segala kelezatan, harta dan pangkat, menyendiri menyepi untuk semata beribadah.” 

Kedua, Abd al-Wahhab Al-Sya’rany

Menurut Syeikh Abd al-Wahhab al-Sya’rany, beliau menyatakan, bahwa:

شذرات الذهب (٨/ ٣٧٢)

ليس علم التصوف إلا معرفة طريق الوصول إلى العمل بالإخلاص لا غير

“Tidaklah disebut sebagai ilmu tashawwuf melainkan bisa membawa seseorang mengenal jalan wushul / sampai kepada amal yang ikhlas.”

Ketiga, Syeikh Junaid al-Baghdady

Menurut Syeikh Junaid al-Baghdady, tashawwuf itu adalah:

الرسالة القشيرية: ٢٨٢ – والتعريفات للجرجانى: ٨٨.

تصفية القلب عن موافقة البرية، ومفارقة الأخلاق الطبيعية، وإخماد صفات البشرية، ومجانبة الدعاوى النفسانية، ومنازلة الصفات الروحانية، والتعلق بعلوم الحقيقة، واستعمال ما هو أولى على السرمدية، والنصح لجميع الأمة، والوفاء لله تعالى على الحقيقة، واتباع رسول الله ﷺ في الشريعة

“Usaha membersihkan hati dari menuruti nafsu makhluk daratan, menjauhi pekerti yang berbangsa watak, membasmi sifat-sifat kemanusiaan, menjauhi seruan-seruan hawa nafsu, berorientasi pada membina karakteristik-karakteristik ruhani, senantiasa bergantung pada pengetahuan haqiqat, dan menggunakan segala sesuatu menurut jalan yang utama dibanding jalan biasa, memberi nasehat kepada  semua umat, menunaikan haqnya Allah Ta’ala sesuai dengan haq-Nya, dan mengikuti syariat Rasulullah SAW.”

Keempat, Syeikh Al-Syibly

Menurut Syeikh al-Syibly, tasawuf itu adalah:

الرسالة القشيرية: ٢٨٢ – والتعريفات للجرجانى: ٨٨.

التصوف الجلوس مع الله تعالى بلا هم

“Tasawuf adalah duduk bersama Allah Ta’ala tanpa merasa susah.”

Kelima, Ibn Araby

Menurut Ibn Araby, tasawuf adalah:

رسائل ابن عربي: ٥٤١.

الوقوف مع الآداب الشرعية ظاهرًا وباطنًا وهى الخلق الإلهية، وقد يقال بإزاء إتيان مكارم الأخلاق، وتجنب سفاسفها

“Duduk yang disertai adab-adab syar’iyyah, baik dhahir maupun bathin, dan inilah yang dinamakan dengan akhlak ketuhanan. Terkadang juga dikatakan sebagai memakai jubah akhlak yang mulia dan menjauhi hal-hal yang mengotorinya.”

Sebenarnya, masih banyak definisi lain dari tashawwuf. Namun, lewat kelima definisi di atas, kita bisa menariik benang merah, bahwa yang dimaksud dengan tashawwuf, adalah:

  1. Tetap mengacu pada konsistensi mengikuti ajaran syariat yang telah diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabinya
  2. Berakhlak kepada Allah SWT lewat syariat yang telah diturunkan sehingga mampu menangkap hakikat dari ajaran tersebut

Maqashid Akhlak Tasawuf di HKI

Hukum Keluarga Islam [HKI], merupakan salah satu jurusan yang berorientasi pada mencetak calon mahasiswa yang ahli dalam menangani kasus / konflik dalam lingkup keluarga Islam di lingkup Pengadilan Agama. 

Karena Islam memiliki bangunan sendiri terkait dengan tata cara membina keluarga Islam yang sakinah mawaddah dan warahmah, pengasuhan anak, perceraian, mawaris dan sebagainya, maka dari itu setiap mahasiswa mutlak memerlukan pengetahuan umum mengenai akhlak-tasawuf di balik berbagai ketentuan yang telah ditetapkan syariat tersebut. 

Melalui penguasaannya, mahasiswa dapat menjadi sejak dini mengantisiipasi dan menganalisa berbagai konfliik yang terjadi melalui jalur penyelesaian yang diridlai oleh syara’. Hal ini merupakan hal penting guna menghadirkan solusi pada saat dirinya kelak berhadapan dengan kasus mediasi dan konflik keluarga. Dan ini merupakan salah satu dari fungsi pengadil / qadly.

Ruang Lingkup Mata Kuliah Akhlak Tasawuf dalam Jurusan HKI

Dengan mengacu pada ta’riif Akhlak Tasawuf serta tujuan dibukanya jurusan Hukum Keluarga Islam, maka ruang lingkup kajian mata kuliah Akhlak Tasawuf di jurusan HKI, adalah meliputi pokok-pokok bahasan internalisasii nilai-nilai akhlak tasawuf ke dalam:

  1. Ta’aruf Pra Nikah dan memilih pasangan serta Anjuran menikah dan menjauhi Bahaya Zina 
  2. Batas Usia Pernikahan dalam Syara’ dan Kompilasi Hukum Islam (KHI)
  3. Aqdun Nikah dan Persoalan Wali
  4. Mu’asyarah bi al-Ma’ruf antara Suami Istri
  5. Mahar dan Ketentuan yang berlaku dalam Syara’
  6. Hak Nafkah dan batasannya
  7. Thalaq, Fasakh dan Khulu’ / Gugat Cerai
  8. Hadlanah / Konflik seputar Hak Pengasuhan Anak
  9. Qadzaf, Ila’ dan Li’an
  10. Kehamilan
  11. ‘Iddah Perceraian dan ditinggal Mati Pasangan
  12. Hubungan Pasca-Perceraian
  13. Mawarits 
  14. Washiyat
  15. Penyimpangan Orientasi Seksual
  16. Khuntsa Musykil
Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content