elsamsi log

Menu

Apakah Akad Ganda merupakan Illat Hukum Larangan Muamalah?

Apakah Akad Ganda merupakan Illat Hukum Larangan Muamalah?

Banyak yang menganggap bahwa keberadaan akad ganda merupakan illat larangan suatu praktik muamalah. Benarkah demikian?

Umumnya, pihak ini menggunakan dasar hadits dari Baginda Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang bai’atain fi bai’atin (satu akad dalam dua akad jual beli) dan shafqatain fi shafqatin (satu kesepakatan dalam dua kesepakatan). Bagaimana penjelasan para ulama tentang kedua hadits tersebut?

Imam Abd al-Karim al-Rafii (w. 623 H) dari kalangan Syafiiyah di dalam kitabnya menjelaskan:

لو كانت الحديقة لواحد وساقى اثنين على أن لاحدهما نصف الثمرة وللاخر ثلثها أما في صفقة أو في صفقتين جاز إذا تميز من له النصف ومن له الثلث

“Jika ada sebuah kebun yang digarap oleh dua orang dengan akad musaqah, satu pihak mendapatkan nisbah bagi hasil setengah dari buah yang dihasilkan, sementara pihak lainnya mendapat 1/3 -nya, baik hal itu terjadi dalam satu kesepakatan atau dua kesepakatan, maka hukumnya adalah boleh dengan catatan bisa dirinci siapa pihak yang mendapat bagian ½ dan siapa yang mendapat bagian ⅓.” (Abdul Karim al-Rafii, Fathu al-Aziz Syarah al-Wajiz (Al-Syarh al-Kabir li al-Rafii), Juz 12, halaman 128)

Sementara itu, Syeikh Muhammad Mukhtar al-Syinqithy, salah satu ulama dari kalangan Hanabilah menjelaskan:

لا يجوز أن يدخل العقدين في عقد واحد، خاصة إذا أوجب الغرر، أو كان فيه شيء من التلاعب وشيء من الغبن يُقصد به جبر كسر هذه الصفقة بالربح في الصفقة الثانية

“Tidak boleh memasukkan dua akad dalam satu akad secara khusus apabila dapat menyebabkan terjadinya gharar (ketidakpastian / spekulatif).” (Syarah Zad al-Mustaqni’ li al-Syinqithy, Juz 3, halaman 151)

Berangkat dari kedua ibarat ini, dapat ditarik benang merah, bahwa akad murakkabah sebagaimana yang dilarang oleh Baginda Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah:
  1. Menurut kalangan Syafiiyah: bilamana di dalam akad tersebut tidak bisa diperinci (tafriq al-shafqah) antara satu akad dengan akad lainnya. Alhasil, ketiadaan perincian ini menjadi sebab timbulnya jahalah, sehingga menyebabkan timbulnya gharar.
  2. Menurut kalangan Hanabilah: adanya dua akad yang dimuat dalam satu akad dan dua jual beli dalam satu akad jual beli, merupakan penyebab timbulnya gharar.

Dilihat dari banyak catatan, sebenarnya para fuqaha mutaakhirin bersepakat bahwa dalil asal dari akad murakkabah adalah boleh, selama di dalam akad tersebut tidak dijumpai adanya mani’, yaitu penghalang sahnya akad.

الأصل في العقود المركبة هو الحل ما لم يكن في اجتماعها محذور شرعي من ربا، أو غرر، أو ظلم لأحد المتعاقدين

“Dalil asal al-uqud al-murakkabah adalah boleh selagi tidak ditemui adanya perkara yang dilarang oleh syara’ sebagai konsekuensi penggabungan akad, seperti riba, penipuan, berlaku dhalim terhadap salah satu dari pihak yang berakad (dlarar dan idlrar).” (Diban al-Diban, al-Muamalatu al-Maliyah Ashalah wa Mu’ashirah, Juz 12, halaman 327)

Selanjutnya di dalam al-Mausu’at al-Fiqhiyyat al-Kuwaitiyah, juga disampaikan:

والنتيجة … أن التحويل المصرفي أو البريدي عملية مركبة من معاملتين أو أكثر، وهو عقد حديث بمعنى أنه لم يجر العمل به على هذا الوجه المركب في العهود السابقة، ولم يدل دليل على منعه، فهو صحيح جائز شرعا

“Kesimpulan….sesungguhnya mekanisme transfer antar lembaga keuangan dan pos merupakan mekanisme yang terangkai dari dua atau lebih akad. Akad ini merupakan akad baru, yakni merupakan akad yang belum pernah ditemui berlaku pada masa-masa sebelumnya, serta tidak ditemukan adanya dalil yang melarang. Oleh karenanya, akad ini merupakan akad yang legal dan boleh secara syara.” (Al-Mausu’atu al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, Bab Hiwalah, halaman 235).

Alhasil, melalui beberapa ibarat di atas, dapat disimpulkan bahwa beberapa illat mu’tabar dan mu’tamad dalam nash syariah yang melarang akad murakkabah adalah apabila dalam akad tersebut dijumpai adanya praktik riba, gharar, dlarar, idlrar, jahalah, ghabn dan memakan harta orang lain secara batil. Dengan demikian pula dapat ditarik kesimpulan bahwa akad murakkab, adalah bukan illat hukum sehingga tidak bisa dijadikan dasar penentuan status batal atau sahnya akad. Sebab hukum dalam syariat adalah senantiasa berkutat pada ada atau tidak adanya illat (cacat hukum).
Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: