elsamsi log

Menu

Aspek Morfologi dan Fisiologi Khuntsa dalam Pandangan Fuqaha

Aspek Morfologi dan Fisiologi Khuntsa dalam Pandangan Fuqaha

Hermaprodit dalam dunia tumbuhan sering diartikan sebagai satu jenis bunga yang memiliki dua alat kelamin pejantan (benang sari) dan betina (putik). Dua-duanya bisa sama-sama berfungsi dan bisa tidak berfungsi sama sekali. Untuk jenis bunga yang benang sari dan putiknya sama-sama berfungsi normal, maka ditandai dengan adanya penyerbukan sendiri (interbreeding). Adapun yang tidak sama-sama berfungsi, maka penyerbukan diperoleh dari tumbuhan lain (crossbreeding). Berdasarkan hal ini, untuk tumbuhan kelompok berbunga hermaprodit, adalah tidak disertai penetapan jenis kelamin pastinya. Asalkan punya dua organ penyerbukan dalam satu bunga, maka disebut hermaprodit (bunga banci). 

Di dunia hewan dan khususnya manusia, kasus berkelamin ganda ini ternyata juga ada dan merupakan fakta kejadian yang tidak bisa dipungkiri. Di dalam banyak literasi fikih, kasus ini disemati dengan istilah khuntsa

Apa itu khuntsa? 

Di dalam Kitab al-Bayan fi Madzhab al-Imam al-Syafii (9/79), Kasyafu al-Qina’ (4/395) dan Hasyiyah Dur al-Mukhtar (6/727), disebutkan bahwa khuntsa menurut ulama’ faraidl, adalah diistilahkan sebagai:

الآدمي الذي له آله ذكر وآله أنثى، أو شيء لا يشبه واحدًا منهما

“Seorang anak adam yang memiliki dua organ kelamin (identik) pria dan wanita sekaligus, atau organ yang sama sekali tidak identik (la yusybihu) dengan keduanya.” 

Ketika menyebut penyamaan organ sex pria atau perempuan normal dengan khuntsa ini, di satu sisi para ulama menggunakan pilihan diksi syibhun (identik). Menurut mu’jam al-ma’any, istilah syibhun ini memiliki pengertian yang setara dengan kalimat:

شبَّه عليه الأمرَ/ شبَّه له الأمرَ: أبهمه عليه حتى اختلط بغيره وأُلبس عليه

“menyerupakan sesuatu dengannya atau kepada lainnya, mengidentikkan sesuatu dengan lainnya sehingga bercampur dan menjadi kabur (talbis).”

Walhasil, pihak yang diserupakan (musyabbah bih) adalah bukan seperti perkara yang dijadikan acuan penyerupaan (musyabbih). Mungkin benar serupa di bagian luar namun tak sama di bagian dalam, hanya identik saja atau bahkan sama sekali berbeda.

Dengan demikian, pilihan diksi fuqaha pada ta’rif khuntsa sudah barang tentu juga tidak dimaksudkan hanya karena kesamaan bentuk secara fisik organ, melainkan juga mencakup fungsinya (fisiologis). Fungsi fisiologis itu adalah fungsi fa’al sex, antara lain sebagai saluran kencing (baul) (pria/wanita), saluran keluarnya mani (pria/wanita), tempat terjadinya haidl (khusus wanita), dan saluran wiladah (melahirkan) (khusus wanita). 

Beberapa Perhatian Fuqaha’ terhadap Morfologi dan Fisiologi Khuntsa

Pertama, Ibnu Mundzir (w. 318 H)

Kita lihat misalnya pernyataan dari Ibnu Mundzir (w. 318 H), di dalam al-Ijma li Ibni Mundzir, halaman 98, disebutkan:

وأجمعوا على أن الخنثى يرث من حيث يبول: إن بال من حيث يبول الرجال؛ ورث ميراث الرجال، وإن بال من حيث تبول المرأة؛ ورث ميراث المرأة

“Para ulama telah sepakat (ijma’), bahwasanya khuntsa mewaris menurut cara ia kencing. Jika ia kencing seperti layaknya laki-laki, maka ia mewaris sebagai laki-laki. Dan bila ia kencing seperti caranya perempuan, maka ia mewaris sebagai perempuan.” (Al-Ijma’ li Ibn Al-Mundzir, 98).

Kedua, Ibnu Qudamah (w. 620 H)

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah seorang ulama otoritatif dari kalangan Madzhab Hanafi menyatakan:

الخنثى هو الذي له ذكر وفرج امرأة، أو ثقب في مكان الفرج يخرج منه البول. وينقسم إلى مشكل وغير مشكل، فالذي يتبين فيه علامات الذكورية، أو الأنوثية، فيعلم أنه رجل، أو امرأة، فليس بمشكل، وإنما هو رجل فيه خلقة زائدة، أو امرأة فيها خلقة زائدة، في إرثه وسائر أحكامه حكم ما ظهرت علاماته فيه، ويعتبر بمباله في قول من بلغنا قوله من أهل العلم

“Khuntsa itu orang yang memiliki Mr P atau Miss V, atau lubang pada bagian kemaluan, sebagai saluran kencing. Khuntsa dibedakan menjadi musykil dan ghairu musykil. Untuk pihak yang memiliki penampakan morfologis tanda kelamin laki-laki, atau perempuan maka jenis kelaminnya diberitakan sebagai laki-laki atau sebagai perempuan. Keduanya bukan termasuk khuntsa musykil. Keduanya tetap diidentifikasi sebagai laki-laki yang memiliki organ tambahan (khilqatin zaidah) atau perempuan dengan organ tambahan. Adapun cara mewaris keduanya, serta semua hukum yang berlaku atas keduanya, adalah didasarkan pada penampakan tanda-tanda morfologisnya. Selanjutnya, kecondongan kepada lawan jenis dijadikan sebagai penentu jenis kelamin, khususnya menurut pihak yang disebut kalangan scientist.” (al-Mughny li Ibn Qudamah, Juz 9, halaman 109-110).

Ketigga, Imam al-Qurthuby (w. 671 H)

Imam al-Qurthuby (w. 671 H), salah seorang ulama ahli tafsir, menyampaikan: 

لما قال تعالى: ﴿لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ﴾ [النساء ١١]، تناول الخنثى وهو الذي له فرجان، وأجمع العلماء على أنه يورث من حيث يبول: إن بال من حيث يبول الرجل؛ ورث ميراث الرجل، وإن بال من حيث تبول المرأة؛ ورث ميراث المرأة

“Ketika Allah Ta’ala berfirman “Laki-laki mewaris sama dengan bagian dua orang perempuan”, maka firman ini adalah mencakup Al-Khuntsa, yaitu pihak yang memiliki dua organ kemaluan. Para ulama ber-ijma’ bahwasanya al-khuntsa bisa mewaris menurut cara ia kencing. Jika ia kencing seperti orang laki-laki, maka ia mewaris sebagai laki-laki. Dan jika ia kencing seperti perempuan, maka ia mewaris sebagaimana ahli waris perempuan.” (al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Juz 6, halaman 109). 

Keempat, Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H)

Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H), menyampaikan:

أعلم أن الخنثى على ضربين: أحدهما: أن يكون له آلة الرجال وآلة النساء… اعتبر أمره أولًا بالبول، فإن بال من الذكر فهو رجل، فإن بال من فرج المرأة فهو أنثى، وإن بال بهما فهو مشكل

“Aku mengetahui bahwasanya al-khuntsa itu ada 2 macam: Pertama, jika memiliki alat kelamin laki-laki dan alat kelamin perempuan….. Pengenalan jenis kelaminnya ditetapkan pertama kalinya melalui saluran kencing. Jika kencing melalui saluran kelamin laki-laki maka laki-laki, jika kencing dari farji perempuan, maka ia perempuan.” (Nihayatu al-Mathlab, Juz 9, halaman 304). 

Kesimpulan

Semua pernyataan para ulama di atas ini hanya merupakan sekilas cuplikan saja. Dan masih banyak lagi para ulama dan fuqaha lain yang juga memberikan penekanan, bahwa fungsi fa’al (fisiologis) dan morfologis sex khuntsa, adalah menduduki peran penting (pertama kalinya) dan diperhatikan oleh para fuqaha’, guna menentukan jenis kelamin seorang khuntsa. Apabila berhasil dikenali, maka tugas para fuqaha’, sementara waktu sudah selesai dalam penetapan jenis kelamin khuntsa.. Status jenis kelamin khuntsa sudah tidak lagi menjadi musykil sebab sudah dikenali morfologis dan fungsi fisiologi tubuhnya .

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: