elsamsi log

Menu

Bedah Fikih Etika Kedokteran dan Sales Produk Farmasi (Bag. 5)

Bedah Fikih Etika Kedokteran dan Sales Produk Farmasi (Bag. 5)

RELASI DOKTER DAN PERUSAHAAN FARMASI: PINTU MASUK TERJADINYA KONSPIRASI

Pada tulisan kali ini, peneliti akan menyampaikan sejumlah ringkasan dari hasil penelusuran dan tulisan-tulisan sebelumnya dan telah dimuat di situs eL-Samsi ini. 

Permasalahan awal dari kajian ini adalah berkaitan dengan telah ditemukannya praktik konspirasi antara dokter dan perusahaan farmasi. 

Baca Juga:

Bedah Fikih Etika Kedokteran dan Sales Produk Farmasi (Bag. 1) – El-Samsi (el-samsi.com)
Bedah Fikih Etika Kedokteran dan Sales Produk Farmasi (Bag. 2) – El-Samsi (el-samsi.com)
Bedah Fikih Etika Kedokteran dan Sales Produk Farmasi (Bag. 3) – El-Samsi (el-samsi.com)
Bedah Fikih Etika Kedokteran dan Sales Produk Farmasi (Bag. 4) – El-Samsi (el-samsi.com)

Sebagaimana telah disampaikan pada pembahasan sebelumnya, bahwa indikasi adanya konspirasi antara dokter dan perusahaan farmasi lewat petugas lapangan adalah berkaitan dalam hal-hal sebagai berikut:

  1. Adanya komisi di luar tugas profesi kedokteran yang menambah finansial dokter dan berasal dari perusahaan farmasii
  2. Dokter menerima sponsorship dari perusahaan farmasi
  3. Dokter memiliki profesi lain di luar tugas utamanya
  4. Harga obat yang mahal ketika sampai di tangan pasien

Sumber terjadinya dugaan konspirasi, di indikasi ada 2, yaitu:

  1. Hak kebebasan dokter dalam melakukan diagnosa, penanganan dan tindakan medis terhadap pasien
  2. Pemasaran produk farmasi yang dibedakan menjadi 2, yaitu secara Over the Counter (tawar-menawar) dan ethical (terbatas dan harus melalui peresepan dokter). Dari kedua mekanisme marketing ini, pemasaran yang dilakukan secara ethical ini yang ditemukan oleh beberapa peneliti dan PPATK sebagai pintu masuk utama konspirasi / suap.

Pertimbangan utama dari diberlakukannya sistem marketing ethical tersebut, adalah: 

  1. Setiap obat memiliki dosis sendiri-sendiri yang tidak semua orang bisa mengkonsumsinya
  2. Untuk kategori obat keras, rawan terjadinya penyelewengan sehingga membutuhkan pembatasan strategi pemasaran

Konsekuensi utama dari pembatasan marketing produk farmasi ini, adalah :

  1. Tenaga Medical Representative (Medrep/Detailer) selaku duta perusahaan farmasi, harus secara langsung menemui dokter untuk memasarkan produknya
  2. Tingkat kesulitan pemasaran menjadi semakin tinggi, disebabkan sulitnya menemui dokter selaku the key of decision maker
  3. Buntut dari kesulitan adalah membengkaknya biaya pemasaran di lapangan
  4. Untuk mengatasi hal tersebut, pihak manajemen pemasaran perusahaan farmasi mengatur strategi pemasarannya dengan menawarkan janji / komisi kepada dokter. Jika tidak, maka pihak perusahaan sendiri yang akan kesulitan menemui dokter.
  5. Komisi dari perusahaan farmasi kepada dokter cenderung tinggi, yakni minimal sebesar 30% berupa diskon harga produk. 
  6. Terkadang komisi itu disampaikan berupa uang tunai secara langsung kepada dokter, atau lewat program sponsorship baik untuk kegiatan di dalam keprofesian dokter maupun di luar keprofesian dokter.

Pandangan terhadap komisi yang diterima oleh dokter menurut sejumlah hasil temuan, adalah dinilai sebagai tindakan risywah

Topik permasalahannya, adalah:

  1. Bolehkah seorang dokter menerima komisi dari perusahaan farmasi sebagaimana telah diuraikan di atas? 
  2. Apakah profesi dokter bisa diqiyaskan sebagai layaknya qadli sehingga dilarang menerima hadiah yang berasal dari pihak-pihak tertentu yang beroperasi di wilayah hukumnya? 
  3. Risiko dari pembedaan strategi marketing obat pada dasarnya juga untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan obat oleh kalangan masyarakat dan sekaligus bisa dijadikan dalih kemudahan distribusi obat kepada tenaga kesehatan. Oleh karenanya berlaku prinsip ekonomi: harga obat berbanding lurus dengan tingkat kesulitan. Harga obat berbanding lurus dengan distribusi barang. Secara syara’, berapa besaran komisi yang boleh diterimakan oleh perusahaan farmasi kepada dokter, mengingat strategi marketing itu adalah sebuah keniscayaan?

Topik-topik permasalahan ini merupakan hal-hal yang membutuhkan jawaban secara tegas secara syara’, mengingat indikasi terjadinya konspirasi di kalangan dokter ini sudah tercium sejak lama, dan belum mendapatkan jawaban secara pasti. Salah satu nilai penting dari pembahasan, adalah karena harga obat yang sampai di tangan pasien, cenderung mahal. Besar dugaan, telah terjadi mark up terhadap harga obat-obatan tersebut, lewat pemberian komisi kepada dokter, dan komisi-komisi lain buah dari praktik strategi marketing. 

Selanjutnya, di tulisan mendatang, kita akan menyoroti dari sisi fikihnya. Insyaallah. 

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: