el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Wp 1646673782911

Siapa yang tidak kenal Indra Kenz? Pria yang kerap disapa crazy rich (manusia dengan kekayaan gila, atau memang gila kekayaan) dan kerap mondar-mandir di youtube serta stasiun televisi, belakangan ini, sebelum pada akhirnya dilaporkan atas tuduhan penipuan menggunakan aplikasi Binomo. Buntut dari laporan ini, dia terancam singgah sementara di hotel prodeo – hotel yang konon bisa disulap menjadi hotel kelas bintang 5 – selama kurang lebih 20 tahun, sebagai balasan atas penipuan yang ia lakukan. 

Binomo sendiri adalah sebuah aplikasi digital yang menawarkan skema bisnis trading binary option. Binary itu satu suku kata dengan biner, maknanya “dua”. Option artinya adalah opsi yang bermakna pilihan. Alhasil, option dalam skema trading binary option ini bukanlah opsi yang merupakan aset derivatif di pasar modal dan memiliki arti saham. Meskipun sama pelafalannya, namun maknanya berbeda. Ibarat “beton”, yang dalam istilah Jawa diartikan sebagai biji nangka atau biji kluwih. Namun, dalam bahasa Indonesia, beton itu adalah campuran pasir, semen dan kerikil yang biasa dikenal di dunia arsitektur. 

Karena penggunaan kata “option” yang identik dengan opsi (saham) inilah, maka sistem trading binary option dipandang sebagai penipuan. Aslinya, tidak ada obyek yang diperdagangkan, namun karena kata “option” tersebut, menjadikan banyak orang merasa seolah-olah ada barangnya.

Lalu darimana keuntungan yang didapat oleh Indra Kenz?

Saya tidak tahu, apakah Indra Kenz ini pemilik dari Aplikasi Binomo atau bukan? Di sini, penulis hanya mengumpamakan bahwa Indra Kenz adalah pemiliknya. Tujuannya, ya biar mudah untuk memberi ilustrasi dan gambaran saja, bagaimana Binomo itu melakukan penipuan. 

Di atas sudah kita uraikan, bagaimana binary option itu dipraktekkan. Di dalam aplikasi ini, para peserta sebenarnya hanya diminta menebak antaa dua hal (binary). Terserah, materi tebakannya bisa apa saja. Bisa naik turun chart grafik signal trading seperti Metatrader atau lainnya. Atau kalau perlu, merk kendaraan yang lewat pun bisa dijadikan instrumen. 

Agar terkesan sederhana, maka materi tebakannya diringkas menjadi 2, gerakan chart ke depan akan naik ataukah turun. Ya… Semudah itu, sebagaimana iklan pemasarannya. Dan gilanya, itulah yang ia perkenalkan sebagai investasi lewat jalur trading. Padahal, sejatinya adalah judi (maisir). Jangan tanya soal kebenara tebakan. Sudah pasti untung-untungan (maisir) dan spekulatif (gharar). 

Namanya saja tebak-tebakan. Sudah pasti ada yang salah menebak dan ada yang benar. Secara logika, pihak yang salah menebak hartanya ditarik, dan dibayarkan ke pihak yang benar tebakannya. Sisanya, untuk bandar. 

Bandar!!?? Maksunya, bandar judi??? 

Ya iya laahhh…. 

Karena tidak ada obyek yang diperdagangkan, dan hanya bermaterikan tebak-tebakan saja, maka peran pengembang aplikasi Binomo adalah selaku Bandar. Jadi, andaikata benar bahwa Binomo itu milik Indra Kenz, maka kekayaan yang diperoleh oleh Indra Kenz adalah berasal dari profesi menjadi bandar. Sudah barang tentu, kecuali kalau ada usaha lain.

Nah, uniknya, meskipun judi itu dilarang di negeri ini lewat UU Nomor 7 Tahun 1974, dan PP Nomor 9 Tahun 1981 serta dikuatkan oleh KUHP Pasal 303, praktik judi itu masih marak dan bahkan turun temurun. Berita soal Totohan Gelap (Togel) juga masih sering kita dengar. Adanya beberapa lokasi yang menyelenggarakan judi, juga masih santer kita dengar. Sudah menjadi tabiat warisan kali. Bukankah dulu juga pernah ada judi yang dilegalkan secara nasional? Generasi tahun 70 sampai 80-an pasti tidak asing dengan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah), NALO, Lotre, dan semacamnya. Tidak ada satupun penggagas yang diseret ke penjara, bukan?

Namun, mengapa Indra Kenz yang menjadi satu-satunya person yang dituntut ke penjara dan diancam dengan pidana kurungan 20 tahun penjara? Padahal, perangkat hukumnya sama. KUHPnya juga sama. Bedanya, di masa Indra Kenz, ada tambahan perangkat hukum UU ITE (Informasi dan Transformasi Elektronik). Bahkan, ia diancam tuk dimiskinkan dengan jalan di sita seluruh harta kekayaannya. Hukum kog kayak mencari sensasi saja. Pelaku yang lain, mana?

Padahal, pada kasus Indra Kenz, pelapor yang merasa dirugikan, itu hanya terakumulasi sekitar 3,8 Milyar. Tentu, angka ini tidak sebanding dengan salah satu harga koleksi mobil milik Indra Kenz di rumahnya, di kota Medan sana. Kalau hanya segitu, andaikata Indra Kenz mahu, ia bisa dengan mudah mengembalikan uang tersebut, hanya dengan menjual 1 mobilnya saja. Selesailah urusan. Namun, itu nanti kurang heroic. Tidak ada yang menjadi sosok pahlawan bertopeng, nantinya.

Ditambah lagi, faktanya, Indra Kenz juga masih diancam dengn pidana penjara sekurang-kurangnya. 20 tahun. Ingat, ya! 20 tahun itu bukan waktu yang singkat. Andaikata Indra Kenz sekarang berusia 30 tahun, maka 20 tahun lagi, ia sudah berusia 50 tahun. Sudah sepuh.

Inilah yang saya maksud dengan judul tulisan di atas, bahwa Indra Kenz itu hanyalah korban. Maksudnya, ia adalah korban penipuan yang kebetulan ketahuan dan diframing seolah-olah kasusnya adalah kasus terbesar penipuan lewat aplikasi online. 

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content