elsamsi log

Menu

Bolehkah Tawar Menawar dalam Transaksi Jual Beli?

Bolehkah Tawar Menawar dalam Transaksi Jual Beli?

Sebelumnya, kita sudah mengupas mengenai transaksi murabahah. Transaksi itu dicirikan oleh pengetahuan pembeli terhadap harga kulak barang oleh penjual, dan penjual mengetahui besaran keuntungan yang akan diberikan kepadanya oleh pembeli. Karena ada illat sama-sama tahu itulah, maka hikmah jual beli berupa al-taradly baina al-muta’aqidain (saing rela antara kedua penjual dan pembeli) bisa tercapai. Dan ini adalah ketentuan dasar dari transaksi jual beli. 

Selanjutnya, karena adanya kondisi yang tidak memungkinkan, disebabkan watak masyarakat itu berbeda-beda, maka jual beli mengalami pergeseran makna. HIkmatu al-tasyri’ jual beli yang mana harus saling merelakan adalah tetap dipegang. Akan tetapi, ada sedikit penurunan tensi kualitas ideal dari transaksi jual beli.

Baca Juga: (Istibdal: Ganti Rugi akibat Rusaknya Murabahah – El-Samsi (el-samsi.com))

Tawar Menawar

Jika pada bai’ murabahah, pemberitahuan harga kulak merupakan sesuatu yang wajib diberitahukan, maka kali ini harga awal itu sama sekali tidak disebutkan. Bahkan, pihak penjual dan pembeli sama sekali tidak melirik atau memicingkan mata sedikitpun terhadap harga awal ini. Pedoman mereka, adalah mengacu pada harga pasar (qimatu al-mitsli). 

Tidak hanya pada harga awal, bahkan berapa besaran keuntungan yang akan diterima oleh penjual, apakah ia rugi atau untung, juga sama sekali tidak dilirik oleh kedua pihak yang sedang berakad. Adanya adalah barang ada di hadapan mata penjual dan pembeli. Masing-masing sudah siap untuk serah terima harga dan barang. Tinggal mencapai kesepakatan saja, mengenai berapa harga barang itu akan diserahkan. 

Upaya mencapai kesepakatan itu umumnya kita kenal dengan istilah tawar menawar (saum). Jual beli yang disertai dengan proses saling tawar menawar ini dikenal dengan istilah bai’ musawamah. Seorang Syeikh, bernama Syeikh Ismail al-Muqaddam merekam praktik ini melalui sebuah definisi:

[النوع الأول: بيع المساومة] هو بيع عن طريق مساومة تحدث بين الطرفين، فيحصل نوع من المساومة في هذا النوع من البيع، ثم يتفق المتبايعان على ثمن البيع، بغض النظر عن الثمن الأول الذي كلف البائع لشراء السلعة أو إنتاجها بغض النظر عن كثرة الربح أو قلته أو خسارة البائع

“Tipe jual beli yang pertama adalah bai’ musawamah yaitu jual beli yang dilakukan melalui jalan tawar menawar antara kedua pihak penjual dan pembeli sehingga tercapai kesepakatan jual dan beli. Kesepakatan yang diambil adalah kesepakatan atas harga barang, sembari mengabaikan atas harga kulak penjual atas dagangannya, atau proses produksinya. Demikian halnya, pengabaian juga terjadi pada berapa besar laba yang akan diperoleh penjualnya, atau sedikit tidaknya laba itu, rugi atau tidaknya penjual atas dagangannya.” (Durus al-Syeikh Isma’il al-Muqaddam, Juz 87/3)

Yang jadi pertanyaan kemudian, adalah manakah yang lebih utama untuk dipraktikkan dalam jual beli. Apakah menerapkan praktik jual beli secara musawamah, ataukah secara murabahah? Di sini terjadi perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha’. 

Baca Juga:
Cara mengambil Keuntungan Niaga (Murabahah) dalam Islam
Macam-macam Pembagian Jual Beli – El-Samsi (el-samsi.com)
Jual Beli Muthlaq, Barter, Lelang dan Sharf – El-Samsi (el-samsi.com)

Mana yang lebih utama, Murabahah ataukah Musawamah?

Namun demikian, titik persamaan pendapat para fuqaha’ adalah berpandangan bahwa murabahah adalah pondasi utama daripada akad jual beli. Mereka juga sepakat, bahwa kedua akad jual beli musawamah dan murabahah adalah sama-sama boleh diterapkan. Perbedaan pendapat hanya terjadi pada pertimbangan sisi keutamaan berdasarkan pertimbangan sisi akhlaqy. 

Para pengkaji fikih muamalah di dalam Kitab Fiqh al-Muamalat, Juz 1, halaman 29, menyimpulkan hal demikian itu lewat sebuah maqalah sebagai berikut:

وسبب التفضيل في تقديرهم هو سبب أخلاقي. لأن المرابحة وهي بيع مؤسس على رأس مال السلعة المبيعة بمعنى تكلفتها يحتاج لبيان كثير من الأشياء التي قد لا يتيسر دائما للبائع ضبطها لسبب أو آخر. وبما أنه مؤتمن لأداء هذا الواجب , فقد يخل بحقوق هذه الأمانة فيأثم , في حين أن بيع المساومة يخلو من هذا الالتزام

“Adanya sebab pengutamaan bai musawamah dalam pertimbangan para fuqha tersebut adalah karena faktor akhlak saja. Sebab bai murabahah didirikan di atas pondasi harga kulak barang yang dijualbbelikan. Alhasil, ini bermakna adanya beban kewajiban yang harus ditanggung penjual untuk menjelaskan segala hal yang dijualnya kepada pembeli. Hal ini bukan perkara yang mudah baginya untuk menunaiikannya dengan sebenar-benarnya. Padahal ia adalah selaku orang yang terbebani amanah wajib dalam hal tersebut. Jika sampai amanah itu tidak tertunaikan, maka ia selaku orang yang berdosa. Sementara itu, dalam bai’ musawamah, hal-hal sebagaimana dimaksud di atas pada bai’ murabahah, tidak berlaku mengikat atas penjual.” (Fiqh al-Muamalat, Juz 1, halaman 29)

Jadi, pertimbangan fuqaha adalah dari sisi akhlaq, bai’ murabahah menjadi berat disebabkan karena beban amanah, di mana jika seorang penjual tidak mampu menunaikannya, maka ia terbebani dosa. Lain halnya dengan bai musawamah, sama sekali tidak ada ikatan amanah tersebut. Itu sebabnya al-Dasuqy, dalam suatu kesempatan menyampaikan: 

جاز البيع حال كونه مرابحة والأحب خلافه

“Boleh melakukan akad jual beli secara murabahah, namun sebaiknya tidak secara murabahah.” (Al-Syarh al-Kabir li Al-Syaikh al-Dardiry wa Hasyiyat al-Dasuqy, Juz 3/159)

Selanjutnya, ia menyampaikan dalam kesempatan lain mengapa kog sebaiknya tidak menggunakan akad murabahah, lewat ungkapnya:

وأما هو فهو غير محبوب لكثرة احتياج البائع فيه إلى البيان

“Adapun murabahah tidak dianjurkan sebab terlalu membebani penjual untuk menyampaikan penjelasan.” (Hasyiyah al-Dasuqy, Juz 3, halaman 244)

Jadi, pertimbangan al-Dasuqy dalam hal ini adalah semata menjaga kemaslahatan penjual, agar tidak tercebur dalam dosa sebab teledor dalam menjalankan amanah. Sementara beralih ke bai’ musawamah sebagai yang tidak menentang kaidah pokok akad jual beli itu sendiri. 

Pendapat senada juga ditemukan pada qaulnya Imam Ahmad Ibn Hanbal rahimahullahu ta’ala. Beliau mengatakan:

والمساومة عندي أسهل من بيع المرابحة وذلك لأن بيع المرابحة تعتريه أمانة واسترسال من المشتري , ويحتاج فيه إلى تبين الحال على وجه , ولا يؤمن هوى النفس في نوع تأويل أو غلط فيكون على خطر وغرر , وتجنب ذلك أسلم وأولى

“Bai musawamah menurutku lebih gampang dibanding bai’ murabahah. Hal itu dikarenakan bai murabahah semangatnya adalah pada penunaian amanah dan penjelasan kepada pembeli. Sehiingga, praktiknya membutuhkan banyak upaya penjual menjelaskan kondisi barang di satu sisi, sementara hawa nafsu manusia tidak selalu aman dari beraneka macam tanggapan atau kesalahan yang mendorong potensi lahirnya kekhawatiran dan tipu daya. Alhasil, upaya menjauhi segala potensi timbulnya tipu daya dan kecemasan serta kesalahan tersebut adalah yang lebih selamat dan lebih utama.” (al-Mughny li Ibn Qudamah, Juz 23, halaman: 3055). 

Sebenarnya masih banyak pendapat para fuqaha yang lain yang belum kita kutip di sini. Ada Ibn Rusyd, yang menyebut bai’ musawamah ini sebagai bai mumakasah (مماكسة) atau bai’ mukayasah, yaitu jual beli saling target. Maksudnya, ya saling tawar menawar itu. Intinya adalah sama dengan keterangan yang disampaikan di atas, yakni jual beli dengan jalan tawar menawar (musawamah) adalah sebagai yang lebih disukai oleh para fuqaha’ dan lebih utama dibanding bai’ murabahah itu sendiri disebabkan pertimbangan akhlaqy. Wallahu a’lam bi al-shawab. 

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: