elsamsi log

Menu

Takyif Fikih Deviden menjadi Ongkos Sewa saat Saham berlaku sebagai Komoditi

Takyif Fikih Deviden menjadi Ongkos Sewa saat Saham berlaku sebagai Komoditi

Di tulisan yang lalu, penulis pernah menyampaikan pernyataan sebagai berikut:

“Saat aset usaha di balik saham itu sudah dibeli oleh trader, kemudian aset itu digunakan oleh pihak perusahaan untuk dijadikan alat produksi, maka aset itu menempati derajat disewa. Sebagai aset yang disewa, maka pihak pemilik saham, berhak atas upah sewa.” el-samsi.com

Tulisan ini terdapat di dalam bagian pembahasan saham saat berlaku sebagai komoditi sehingga bisa ditradingkan. Ingat, ya! Biasakan untuk mencermati perbedaan antara saham sebagai komoditi, dengan sebagai instrumen investasi. 

Yang ditanyakan oleh netizen, adalah bagaimana takyif fikihnya, sehingga deviden berubah menjadi ujrah / upah sewa? 

Sudah barang tentu, maksud dari upah sewa (fee / ujrah) di sini juga bisa dialihkan menjadi ju’lu (komisi) melalui prosedur akad ju’alah (sayembara). Hanya prosedurnya saja, yang menghendaki untuk dicermati dan digubah sedikit. 

Langsung saja kita meluncur ke pembahasan mengenai takyif fikih deviden berubah menjadi upah sewa (fee) atau komisi (ju’lu / reward). 

Deviden

Deviden itu adalah buah dari kinerja produksi. Deviden dibagi menurut ushul akadnya, yaitu akad mudlarabah dan/atau akad syirkah. 

Karakteristik dari akad mudlarabah atau qiradl, adalah adanya perjanjian bagi hasil di awal antara pihak pemodal dan pengelola. Jika tidak ada perjanjian, dan tidak ada urf yang berlaku dalam bagi hasil mudlarabah semacam ini, maka nisbah bagi hasilnya ditaqrib (didekati) dengan 50:50 (nishfain). 

Ini adalah ketentuan masyhur yang berlaku di kalangan Madzhab Maliki dan Madzhab Syafii. 

Dengan demikian, secara umum butuh akad membangun kesepakatan bagi hasil di awal antara mudlarib (pengelola) dan rabbu al-maal (investor). 

Persoalannya, di dalam trading saham, tidak ada kesepakatan semacam itu. Demikian halnya, pada umumnya – dalam dunia trading – seorang trader juga tidak mengetahui seberapa besar bagi hasil yang akan dia dapatkan dari mengakusisi satu lembaar saham. Tahu-tahu, mereka menerima sejumlah besar uang saat waktu bagi hasil itu tiba. 

Karena ketidaktahuan peluang bagi hasil inilah, maka akad qiradl atau mudlarabah yang berlaku saat saham itu diakuisisi oleh trader dalam bentuk komoditi saham, maka akad tersebut adalah fasad (rusak). Jadi, akad mudlarabahnya menjadi mudlarabah fasidah. Illatnya karena jahalah. Alhasil, mudlarabah tersebut menjadi spekulatif (gharar). 

Upah atau Komisi

Saat akad musaqah, mudlarabah atau qiradl itu berlangsung rusak, maka akad yang otomatis berlaku adalah dikembalikan ke ushul akad mudlarabah itu dicabangkan. 

Karena akad qiradl/mudlarabah adalah cabang dari akad ijarah, maka secara otomatis mudlarabah fasidah berubah peran menjadi akad ijarah. Alhasil, deviden berubah menjadi ujrah. Jika dikembalikan ke akad ju’alah, maka deviden berubah menjadi ju’lu. 

Selanjutnya ketika konversi akad ini terjadi, maka yang kita perlukan adalah memerinci mengenai siapa di kedua pihak di atas yang bergerak selaku penyewa dan yang disewa? Apa obyek sewanya? Berapa ongkos sewanya? Demikian seterusnya. 

Sebagai jawabannya, kita perlu menelaah riwayat transaksinya. Di dalam trading saham selaku komodiiti, yang terjadi, adalah:

  1. Trader membeli komoditas saham. Artinya ia memiliki bagian dari aset produksi.
  2. Aset produksi itu hanya diserahkan secara hukum, yaitu bukti kepemilikan saja. Dan selanjutnya, perusahaan masih menggunakan aset fisik underlying saham, untuk terus berproduksi. Padahal, tidak ada perjanjian baru yang terjadi pasca akuisisi
  3. Karena asetnya masih terus digunakan, maka pihak trader yang mengakuisisi saham berhak mendapatkan upah / ujrah / ju’lu karena kinerja aset yang dimilikinya
  4. Ju’lu yang diberikan karena pemanfaatan aset yang dimiliki oleh orang lain, adalah sama dengan ongkos sewa (kura’). 

Alhasil, rukun ijarah yang berlaku untuk konversi akad di atas, adalah:

  1. Pemilik aset, adalah trader
  2. Penyewa aset, adalah emiten
  3. Upah dari penyewaan itu adalah deviden
  4. Syarat dari ujrah adalah harus ma’lum (diketahui / musamma)
  5. Jika ujrahnya tidak musamma, maka ijarahnya menjadi ijarah fasidah. 

Dengan demikian, jika ditilik dari ujrah majhulah yang diterima pemilik aset karena imbas dari perdagangan saham sebagai komoditi, maka akad sewa itu juga berlangsung fasidah. Jadi, mahu tidak mahu, mentradingkan saham sebagai komoditi sebagaimana kasus di atas adalah juga dihukumi sebagai tijarah fasidah

Namun, karena saham juga bisa beraku sebagai komoditi karena berfundamental aset tetap, maka hukum membeli saham juga bisa dihukumii sah. Demikian halnya, untuk menjualnya. 

Karena ada ta’arudl antara hukum kebolehan dan keharaman itu, maka langkah solutifnya ditarik ke pengendalian etika, yaitu:

  1. Trading saham harus berlangsung tunai. Illatnya adalah, tunai merupakan batas dari terbitnya keridlaan (an taradlin) sebab sudah saling serah terima harga dan barang. Kalau membeli, maka harus sampai putus. Demikian halnya, jika bermaksud menjual, maka harus sampai dengan putus. 
  2. Trading saham tidak dimaksudkan untuk melakukan tala’ub (bermain-main) dengan pasar. Trading hanya sah bila dimaksudkan untuk maksud investasi (istitsmary). Jika dimaksudkan untuk menggoreng saham tertentu, maka hukumnya menjadi spekulatif (gharar) sebab indikasi adanya khida’ah (testimoni palsu).
  3. Melakukan trading dengan niatan tala’ub dan semata karena niatan untuk gain capital, adalah berdosa, namun sah. 
Solusi ini merupakan yang sejalan dengan apa yang pernah disampaikan oleh Syeikh Ali Jum'ah di status media sosial beliau, dan sekaligus Syeikh Syauqi Ibrahim 'Allam di media yang dikelola Dar al-Ifta' Mesir. 

Catatan:

Ketika saham dinyatakan sebagai aset yang berfundamental fisik pabrik atau ‘ain, maka secara tidak langsung pengertian komoditi saham itu telah berubah fungsi tidak lagi sebagai penyertaan modal, melainkan berubah menjadi sukuk. Anda bisa melihat kembali mengenai pengertian sukuk di redaksi el-samsi ini. 

Konsultasi Bisnis

Konsultasikan Plan Bisnis anda ke eL-Samsi Group Consulting & Planning. Pastikan bahwa plan bisnis anda sudah bergerak di atas rel dan ketentuan syara’! Awal perencanaan yang benar meniscayakan pendapatan yang halal dan berkah! Hubungi CP 082330698449, atau ke email: elsamsi2021@gmail.com! Negosiasikan dengan tim kami! Kami siap membantu anda melakukan telaah terhadap plan bisnis anda dan pendampingan sehingga sah dan sesuai dengan sistem bisnis syariah.

Muhammad Syamsudin

eL-Samsi Group Consulting & Planning bisnis berorientasi Bisnis Syariah. Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: