el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Cara Mengatasi Kecanduan Game Anak Sekolah

Tulisan ini berangkat dari fakta persoalan yang disampaikan oleh para sahabat penulis di Kajian Fikih Terapan. Isi permasalahannya adalah sebagai berikut: “Ngapunten poro yai, di MI dkt rumah sdg rame , bbrapa anak tiba2 punya hutang 500rb sampai ada yg 2 jt , krn main game online dg teman2nya  ,orang tuanya kaget sampek utang2 dg temannya. Gmn sebenarnya hukum game online?”

Ya, ini memang sekelumit fakta kejadian yang kebetulan disampaikan oleh peserta diskusi. Di luar sana, sudah barang tentu ada banyak fakta dan kejadian lain yang kurang lebih sama dan tidak pernah diungkap sebelumnya. Bagaimana fikih Islam memberikan solusi terhadap masalah ini? 

Penulis dalam hal ini hanya akan menyampaikan peta konsepnya saja. Kalau soal ibarat dan dalil fikih lainnya, itu adalah persoalan yang tidak terlampau sulit jika peta konsep tersebut sudah diketahui. 

Pertama-tama, adalah bahwa setiap masalah yang menimbulkan adanya dampak kerugian (dlarar) pada pihak lain, mengindikasikan adanya beberapa struktur pembentuk akad itu yang tidak benar atau kurang mendapat pengendalian. 

Dalam kasus game online di atas, yang bermasalah sebenarnya adalah keberadaan 2 pihak yang berakad. Tentu dalam konteks ini, adalah pihak anak selaku aqid, lawan dari pihak penjual game online. 

Seharusnya, pihak penjual game online ini bisa selektif terhadap siapa yang bisa membeli chip game online miliknya. Jika yang membeli adalah pihak yang belum memasuki usia baligh, maka hal yang lebih bijak adalah tidak melayaninya, apalagi dengan akad utang (qardl) dan nominal akhir yang tinggi. 

Sejauh pengamatan penulis, token game itu harus dibeli dengan uang cash terlebih dulu. Jika sampai ada kasus tunggakan sebagaimana permasalahan yang disampaikan di atas, itu tandanya pihak anak bertindak selaku yang melakukan utang. Uniknya, kog dibolehkan oleh penjual? Seharusnya pihak penjual melarang hal tersebut, apalagi tanpa disertai oleh orang tuanya. Bagaimana hukum transaksinya anak kecil ini menurut syara’? Pembaca disyarankan untuk membaca kembali link berikut:  Bai’ Mu’athah: Hukum Jual Belinya Anak Kecil dan Jual Belinya Mesin di Bandara – El-Samsi. Semoga bermanfaat!

Simak Video berikut!

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content