elsamsi log

Menu

Hukum Trading: Permasalahan Trading System dan Validitas Data (Bagian 5)

Hukum Trading: Permasalahan Trading System dan Validitas Data (Bagian 5)

Trading system sering juga dikenal dengan istilah automated-trading system, merupakan:

Automated trading systems — also referred to as mechanical trading systems, algorithmic trading, automated trading or system trading — allow traders to establish specific rules for both trade entries and exits that, once programmed, can be automatically executed via a computer. In fact, various platforms report 70% to 80% or more of shares traded on U.S. stock exchanges come from automatic trading systems.” (Sumber: Investopedia)

[Automated trading systems – sering diartikan juga sebagai suatu sistem trading berbasis mesin, algorithmic trading, trading yang diotomatisasi atau system trading – merupakan sebuah perangkat yang digunakan oleh para trader dan dilengkapi sejumlah aturan khusus guna melakukan entry atau exit trading. Alat ini telah diprogram secara khusus dan secara otomatis dapat melakukan perintah eksekusi oleh para trader via sebuah komputer. Berdasarkan data, dilaporkan bahwa terdapat 70-80% atau bahkan lebih, keputusan dagang lewat pasar bursa saham di USA adalah dilakukan oleh automatic trading systems.”

Dengan memperhatikan definisi di atas, dalam riset kali ini, paparan data mengenai mekanisme transaksi yang terjadi pada trading system sangat besar pengaruhnya terhadap keputusan hukum tentang trading. Alasan sederhananya adalah: 

  1. Trading system merupakan sebuah wasilah yang terdiri atas suatu media / mesin. Dengan demikian, instrumen ini juga bisa menjadi a) instrumen spekulasi atau sebaliknya b) bukan menjadi instrumen spekulasi melainkan wasilah memantau pergerakan komoditas yang ditradingkan oleh trader.
  2. Di dalam trading system yang dikembangkan oleh broker, berjalan keputusan trader untuk entry dan melakukan open position trading, atau melakukan exit dan close position
  3. Di dalam sistem ini terjadi transaksi otomatis berbasis keputusan engine (mesin) yang terprogram dan penetapan aturan. Maksud dari penetapan aturan ini adalah pihak trader bisa memprogram dan melakukan manajemen terhadap modal dan komoditas yang dimilikinya lewat penetapan batas (margin) transaksi.
  4. Dengan demikian, maka transaksi yang dilakukan berbasis engine bersifat mempengaruhi capital dan komoditas yang dimiliki oleh para trader
  5. Karakteristik dari trading system, adalah:
  1. Seorang trader melakukan entry dan open position trading dengan jalan membeli komoditas secara spot via engine
  2. Aktivitas stop loss dan take profit ditentukan oleh broker berbasis engine dan dikendalikan oleh trader melalui via pengaturan
  3. Pergerakan grafik harga dan pertumbuhan berlangsung otomatis berbasis pasar
  4. Seorang trader melakukan exit dan close position trading secara otomatis seiring selesainya kontrak (ijbary). 

Ragam Trading System

See the source image
Automated Trading System

Ada banyak ragam trading system yang ditawarkan oleh sebuah broker. Namun, dari kesekian ragam system tersebut, seluruhnya menunjukkan adanya kesamaan dalam tools (fasilitas perangkat) yang dimilikinya. 

Di samping kesamaan, juga ada perbedaan yang berlaku di antara ragam sistem tersebut. Perbedaan itu biasanya berkaitan dengan masalah biaya transaksi (spread) dan kecepatan respon system terhadap pasar dan transaksi. 

Broker dan Validitas Sumber Data Perangkat Trading

Perangkat trading selalu berhubungan dengan tugas dan fungsi seorang broker. Broker merupakan pihak penyelenggara yang fungsinya adalah menjembatani pihak trader dengan pialang berjangka yang ada di dalam pasar internasional, atau bursa efek. 

Karena harus mengakses data dari suatu pasar bursa, maka setiap penyelenggara perdagangan berjangka komoditi (broker), menjadi wajib terdaftar, diawasi dan tunduk pada peraturan yang berlaku dan mengikat dengan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI). Selain itu, karena setiap broker pasti menyelenggarakan sistem perdagangan efek melalui perangkat elektronik, maka dia harus terdaftar di dalam PSE (Penyelenggara Siaran Elektronik) sebagaimana yang termaktub di dalam situs KOMINFO (Kementrian Komunikasi dan Informasi).

Tanpa legalitas ini, maka data chart yang disampaikan oleh broker trading lewat sistem trading dan ditunjukkan kepada trader, tidak bisa dijamin validitasnya, atau bahkan mungkin bisa jadi bukan data yang bersift real time. 

Sebuah risiko, jika data broker tidak bersifat real time, adalah dapat dipastikan bahwa para trader yang terdaftar dan tergabung dalam trading system yang dibangun oleh seorang broker, menjadi tidak melakukan perdagangan SPOT. Sebab, data yang diinformasikan adalah data palsu dan sudah berjalan selang beberapa waktu sebelumnya. 

Dengan demikian, basis penyelenggaraan sistem trading model terakhir ini, hanyalah menjadi sistem perdagangan binary yang murni spekulatif, karena hanya berisi tebak-tebakan antara naik atau turun. Jika tepat tebakannya, maka dia menang. Jika tidak tepat, maka dia kalah. Sistem ini tidak ubahnya sebagai judi (maisir). Contoh dari sistem ini, adalah Binomo. 

Setidaknya, ada 2 sistem trading yang berhasil dihimpun oleh peneliti berdasarkan ketidakvalidan data yang disajikan berdasarkan chart, yaitu:

  1. Sistem trading itu menyajikan data pergerakan komoditas yang dipalsukan. Untuk sistem trading semacam ini, secara nyata menyimpan unsur adanya tadlis (pemalsuan) dan kecurangan (ghabn). 
  2. Sistem trading itu menyajikan data pergerakan komoditas yang tidak real time. Untuk sistem trading semacam ini, secara nyata menyimpan unsur gharar (pengelabuan) dan ghabn (kecurangan)
  3. Ciri dari kedua sistem trading di atas, hanya mengedepankan tebak-tebakan antara naik atau turun. 

Broker Resmi dan Validitas Data Pergerakan Pasar

Secara teknis, payung hukum untuk bisa disebut sebagai broker resmi (selain sebagaimana sudah disampaikan di atas), adalah beberapa peraturan lain yang bersifat mengikat dan harus ditepati oleh seorang broker sistem trading di Indonesia. Peraturan itu antara lain, adalah sebagai berikut:

  1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi (“UU 32/1997”) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi (“UU 10/2011”);
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Komoditi (“PP Perdagangan Berjangka”); dan
  3. Peraturan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi Nomor 3 Tahun 2018 tentang Izin Usaha Pialang Berjangka dan Persetujuan Pembukaan Kantor Cabang Pialang Berjangka (“Per-Bappebti 3/2018”)

Berbekal peraturan-peraturan di atas, maka dalam penerapannya di lapangan, seorang broker menjadi wajib memenuhi hal-hal sebagai berikut:

  1. Broker wajib berbentuk badan hukum sebagai Perseroan Terbatas (Pasal 31 ayat (1) UU 32/1997)
  2. Broker wajib wajib menjadi anggota bursa berjangka (Pasal 31 ayat (1) dan (2) UU 32/1997)
  3. Broker wajib telah memiliki izin usaha pialang berjangka dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (“Bappebti”). Izin usaha hanya diberikan kepada anggota bursa berjangka yang memiliki integritas keuangan, reputasi bisnis yang baik, dan kecakapan profesi (Pasal 31 ayat (1) dan (2) UU 32/1997)
  4. Broker wajib memenuhi ketentuan permodalan, yakni modal disetor minimal Rp 2,5 miliar (untuk penanaman modal dalam negeri) atau Rp 5 miliar (untuk penanaman modal asing patungan) (Pasal 46 ayat (1) PP Perdagangan Berjangka jo Pasal 5 ayat (1) huruf g Per-Bappebti 3/2018)
  5. Kegiatan broker dapat dilakukan oleh perseorangan yang telah memperoleh izin wakil pialang berjangka dari Bappebti; dan beberapa ketentuan persyaratan lainnya (Pasal 31 ayat (3) UU 32/1997)

Dengan broker ditetapkan sebagai wajib menjadi anggota bursa berjangka, maka adalah yang sesuatu yang rasional bila data yang disampaikan kepada trader lewat sistem trading yang diselenggarakan menjadi bersifat real time (tepat waktu). Alhasil, transaksinya juga menjadi relatif tepat waktu, dan tidak mungkin hanya berbasis pilihan antara naik atau turun. Ada analisis fundamental dan analisis teknis yang dikedepankan. 

Rasionalitas trading berbasis data real time juga menjadi bisa diterima seiring instrumen komoditas yang ditradingkan adalah terdiri dari aset namma’ (aset produktif) yang terdiri atas forex dan sekuritas. 

Obyek Permasalahan Fikih Sistem Trading

Permasalahan fikih yang lahir akibat trading system yang dibangun berbasis automated trading system (ATS) ini, adalah:

  1. Apa kedudukan instrumen trading system tersebut di dalam fikih transaksi?
  2. Bagaimana status transaksi yang dilakukan berdasar mesin ini? Apakah sah secara syara”? 

Kedua permasalahan tersebut, setidaknya membutuhkan indikator hukum sebagai penguat (murajjih) untuk dinyatakan sebagai sah atau tidak dalam ranah fikih transaksi. Salah satu yang mungkin bisa didekati adalah lewat jenis instrumen yang ditradingkan. Sekali lagi, perlu digarisbawahi adalah, bahwa instrumen yang ditradingkan dalam trading system adalah forex, sekuritas, reksadana, komoditas. Seluruhnya merupakan aset produktif yang setiap harinya bisa berubah-ubah valuasinya. Wallahu a’lam bi al-shawab

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: