el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Transaksi COD dalam Islam

Sistem COD adalah sistem yang sah dan legal secara syara’. Sistem ini dibangun dengan landasan akad jual beli kontan

el-samsi.com

Sekilas mengenal Transaksi Online

Era digital merupakan era yang ditandai oleh kemajuan internet yang memasuki ruang dan relung kehidupan. Dengannya kita dimudahkan untuk melakukan komunikasi dengan berbagai pihak dan bermuamalah dengan siapa saja tanpa mengenal batas dan ruang gerak. Termasuk dalam hal berbelanja, yang sebelumnya kita harus mendatangi pasar, bertemu dengan penjual, lalu mengadakan transaksi jual beli. 

Namun, dengan wasilah internet, kita bisa belanja dengan hanya duduk di rumah, masuk ke dalam marketplace tertentu, dan memesan barang sesuai dengan yang kita inginkan. Soal harga, jangan ditanya lagi. Soal barang, kita bisa membacanya lewat deskripsi yang sudah disajikan. Ada kelemahannya memang, akan tetapi keuntungannya juga besar. 

Di antara keuntungannya, adalah kita tidak kehilangan waktu bekerja atau aktifitas lain. Kita juga tidak kehilangan bea transportasi fisik yang terkadang biayanya jauh lebih tinggi dibanding harga barang. Ibarat mahu beli harang dengan 100 ribu, namun bea transportnya bisa 700 ribu lebih. Ya, contoh mudahnya, adalah saya sendiri yang tinggal dan menghuni Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Untuk menyeberang, dibutuhkan, setidaknya ongkos 700 ribu rupiah untuk Pulang-Pergi. Itu belum lain-lain, seperti bea makan, transportasi darat, penginapan, dan lain sebagainya. 

Dengan hadirnya sistem belanja online ini, kita paling kehilangan ongkir 50 ribu, atau paling besar 100 ribu. Jauh lebih hemat dari berangkat sendiri, bukan?

Bagaimana dengan kerugiannya? Ya memang sistem belanja online tidaklah sama dengan belanja yang langsung datang bertemu penjual dan sesuka hati melihat dan memilih barang. Ada sisi-sisi kelemahannya. Kadang barang tidak sesuai dengan ekspektasi. Barangnya dideskripsikan sebagai yang super, ternyata begitu datang, barangnya jelek. 

Menyadari akan hal itu, maka dilakukan langkah inovasi oleh para perintis marketplace ini, yaitu memperkenalkan sistem Cash on Delivery. Kita biasa menyebutnya sebagai COD. Basis dari sistem ini, adalah:

  1. Anda ingin beli barang, harganya ditentukan saat hari di mana anda menginginkannya dan melakukan pemesanan
  2. Barang selanjutnya dikirim kepada anda, dan jika cocok, maka anda bisa membayarnya sesuai dengan harga waktu anda pesan. Dan bila anda tidak cocok karena tidak sesuai dengan ekspektasi, anda bisa mengembalikannya. 

Tujuan dari diperkenalkannya sistem ini, adalah untuk menutup kelemahan skema jual beli sebelumnya, yakni order barang dengan pembayaran terlebih dahulu, atau sistem salam.

Nah, bagaimanakah takyif fikih dari sistem jual beli dengan skema cash on delivery (COD) ini? Sah atau tidakkah muamalah demikian ini? Mari simak kajiannya!

Cash on Delivery (COD)

Dilihat dari namanya saja, sistem ini sudah mengesankan basic akad yang digunakan, yaitu pembayaran diserahkan apabila barang sudah dikirimkan dan sampai di rumah pemesan. Sudah barang tentu, ketentuan yang berlaku adalah apabila barang itu sesuai dengan minat pembeli dan sesuai dengan yang dipromosikan oleh pelapak. Karena bila barang tidak sesuai ekspektasi pemesan, maka barang bisa diretur seketika itu juga lewat jasa pengiriman yang digunakan.

Ilustrasi Akad COD

Ketika pembeli memesan barang secara COD, seolah terjadi transaksi akad antara penjual dan pembeli, yaitu: “Saya sanggup membeli barang yang anda promosikan ini sesuai dengan harga yang tertera, ditambah dengan ongkos kirimnya, dengan catatan saya bisa melihat barangnya terlebih dulu. Kalau cocog dengan promosinya, maka saya akan bayar lewat jasa kurir yang mengantar barang. Akan tetapi, bila ternyata tidak cocog, maka dengan terpaksa, barang itu saya kembalikan. Jika anda menerima syarat saya ini, maka silahkan kirim barangnya ke saya”.

Elemen Penyusun (Takyif Fikih) Transaksi COD

Ketika terjadi akad sebagaimana di atas, maka masing-masing pelaku yang terlibat dalam akad COD dapat diperinci sebagai berikut:

  1. Barang yang dikirim ke pembeli, belum berstatus sebagai barang yang dijual. Barang tersebut masih sah menjadi milik penjual atau pelapak di marketplace tempat COD itu diperkenalkan dan barang tersebut dipromosikan
  2. Pembeli belum berstatus sebagai pembeli, melainkan orang yang ingin melihat barang yang ingin dibelinya lewat promo yang disampaikan oleh pelapak di marketplace tempat COD itu diperkenalkan
  3. Penjual belum berstatus sebagai penjual, melainkan orang yang ingin menunjukkan sampel barang yang dipromosikannya di marketplace ke calon pembeli potensial
  4. Kurir berstatus sebagai orang suruhan yang diupah oleh calon penjual untuk mengantar barang milik penjual ke pembeli potensial dan sekaligus menjadi orang yang diupah untuk menerima pembayaran apabila pembeli cocog dengan barang tersebut
  5. Transaksi jual beli terjadi ketika pembeli telah melihat barang dan merasa cocog dengan barang tersebut karena sesuai dengan apa yang dipromosikan oleh pelapak di marketplace. 
  6. Transaksi jual beli terjadi antara pemakai jasa COD (pembeli potensial) dengan orang suruhan (kurir) yang dibayar oleh pelapak. 

Kesimpulan Hukum COD

Berdasarkan uraian di atas, maka sistem COD adalah sistem yang sah dan legal secara syara’. Sistem ini dibangun dengan landasan akad jual beli kontan yang terjadi antara pembeli potensial dengan orang suruhan pelapak (kurir). 

Daftar Rujukan

التذكرة في الفقه الشافعي ١/‏٧٣ — ابن الملقن (ت ٨٠٤)

من صح تصرفه بنفسه صح أن يوكل أو يتوكل فيه

بداية المحتاج في شرح المنهاج ٢/‏٢٤٦ — بدر الدين ابن قاضي شهبة (ت ٨٧٤)

توكيل المشتري البائع، أو المسلم المسلم إليه في أن يوكل من يقبض عنه، فإنه يصحُّ مع استحالة مباشرته القبضَ من نفسه

المجموع شرح المهذب – ط المنيرية ٩/‏٢٨٠ — النووي (ت ٦٧٦)

وَلَوْ قَالَ لِلْبَائِعِ وَكِّلْ مَنْ يَقْبِضُ لِي مِنْكَ جَازَ وَيَكُونُ وَكِيلًا لِلْمُشْتَرِي فِي التَّوْكِيلِ وَكَذَا لَوْ وَكَّلَ الْبَائِعُ بِأَنْ يَأْمُرَ مَنْ يَشْتَرِي مِنْهُ لِلْمُوَكِّلِ

عمدة السالك وعدة الناسك ١/‏١٥١ — ابن النقيب (ت ٧٦٩)

فصلٌ [في شروطِ المبيعِ] للمبيعِ شروطٌ خمسةٌ أنْ يكونَ طاهرًا، منتفَعًا بهِ، مقدورًا على تسليمهِ، مملوكًا للعاقدِ، أو لمن ناب العاقد عنه، معلومًا فلا يصحُّ بيعُ عينٍ نجسةٍ كالكلبِ، أوْ متنجسةٍ ولمْ يمكنْ تطهيرها، كاللبنِ والدهنِ مثلًا، فإنْ أمكنَ كثوبٍ متنجسٍ جازَ.

ولا يصحُّ بيعُ ما لا ينتفعُ بهِ، كالحشراتِ، وحبةِ حنطةٍ، وآلاتِ الملاهي المحرَّمةِ. ولا بيعُ ما لا يقدرُ على تسليمهِ، كعبدٍ آبقٍ، وطيرٍ طائرٍ، ومغصوبٍ، لكنْ إنْ باعَ المغصوبَ ممنْ يقدرُ على انتزاعهِ جازَ، فإنْ تبينَ عجزهُ فلهُ الخيارُ، ولا بيعُ نصفٍ معيَّنٍ منْ إناءٍ، أوْ سيفٍ، أوْ ثوبٍ، وكذا كلُّ ما تنقصُ قيمتُهُ بالقطعِ والكسرِ، فإنْ لمْ تنقصْ كثوبٍ ثخينٍ جازَ. ولا يجوزُ بيعُ المرهونِ دونَ إذنِ المرتهِنِ، ولا بيعُ الفُضوليِّ وهوَ أنْ يبيعَ مالَ غيرهِ بغيرِ ولايةٍ ولا وكالةٍ.

ولا بيعُ ما لمْ يُعيَّنْ كأحدِ العبدينِ، ولا بيعُ عَيٍن غائبةٍ عن العَينِ، مثلُ بعتُكَ الثوبَ المرْوزيِّ الذي في كُمِّي، والفرسَ الأدهمَ الذي في اصطبلي، فإنْ كانَ المشتري رآها قبلَ ذلكَ وهيَ مما لا يتغيرُ في مدةِ الغَيْبةِ غالبًا جازَ. ولوْ باعَ عُرْمةَ حنطةٍ ونحوها وهيَ مشاهدةٌ ولمْ يُعلمْ كيلُها، أوْ باعَ شيئًا بعُرْمةِ فضةٍ مشاهدةٍ ولمْ يُعلمْ وزنها جازَ، وتكفي الرؤيةُ. ولا يصحُّ بيعُ الأعمى ولا شراؤهُ، وطريقُهُ التوكيلُ، ويصحُّ سلَمُهُ بعِوَضٍ في ذمَّتهِ.

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content