el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Bagaimana Jika Lalai Membagikan Harta Warisan
Pengantar Ilmu Mawarits

Islam hadir dengan risalah berupa syariat yang paripurna. Misi keadilan senantiasa tercermin dalam setiap ajarannya. Satu di antara kesekian ilmu yang ditegakkan seiring kehadiran agama Islam adalah ilmu mawarits atau yang lebih dikenal dengan istilah faraidl. Apa itu faraidl?

Secara bahasa, faraidl bermakna sebagai taqdir (penetapan kadar). 

اﻟﻔﺮاﺋﺾ ﺟﻤﻊ ﻓﺮﻳﻀﺔ ﻣﺄﺧﻮﺫﺓ ﻣﻦ اﻟﻔﺮﺽ ﻭﻫﻮ اﻟﺘﻘﺪﻳﺮ ﻗﺎﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ {ﻓﻨﺼﻒ ﻣﺎ ﻓﺮﺿﺘﻢ} ﺃﻱ ﻗﺪﺭﺗﻢ ﻫﺬا ﻓﻲ اﻟﻠﻐﺔ

Adapun secara syara’, maka yang dimaksud dengan faraidl adalah:

ﻭﺃﻣﺎ ﻓﻲ اﻟﺸﺮﻉ ﻓﺎﻟﻔﺮﺽ ﻧﺼﻴﺐ ﻣﻘﺪﺭ ﺷﺮﻋﺎ ﻟﻤﺴﺘﺤﻘﻪ

“Suatu bagian yang telah ditetapkan secara syara’ untuk diberikan kepada pihak yang berhak menerima (mustahiq).”

Kehadiran ilmu faraidl, merupakan penasakh (penghapus) terhadap tradisi lama tata cara pembagian warisan dalam masyarakat jahiliyah. Dalam tradisi masyarakat jahiliyah, orang laki-laki merupakan pihak yang menerima warisan. Adapun untuk orang perempuan, maka dia tidak berhak atas suatu warisan. 

Demikian halnya dengan orang dewasa (kibar). Di masa jahiliyah, hanya orang dewasa saja yang berhak menerima warisan. Adapun bagi anak-anak, dia tidak diberi warisan sama sekali. Terkadang pembagian warisan itu harus disertai dengan sumpah. 

Semua tradisi itu kemudian diganti dengan ajaran yang terdapat dalam Islam. Terutama, ketika turun beberapa ayat yang termuat di Al-Qur’an Surat Al-Nisa, yang mengatur secara tegas berapa bagian masing-masing ahli waris itu. 

Pada akhirnya, pasca turunnya ayat tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: 

ﺇﻥ اﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ ﻗﺪ ﺃﻋﻄﻰ ﻛﻞ ﺫﻱ ﺣﻖ ﺣﻘﻪ ﺃﻻ ﻻ ﻭﺻﻴﺔ ﻟﻮاﺭﺙ

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah memberi anugerah kepada setiap orang yang berhak untuk menerima haknya. Ingatlah! Tidak ada washiyat bagi Ahli Waris.”

Sabda beliau ini merupakan pembuka bagi diterapkannya ilmu mawaris dalam Islam. Di samping itu, beliau menetapkan suatu batasan, bahwa suatu wasiyat tidak boleh disampaikan kepada ahii waris. Wasiyat hanya boleh disampaikan kepada selain ahli waris. 

Semenjak diberlakukannya ketetapan penerapan waris ini, muncul 4 orang sahabat yang masyhur dalam menguasai ilmu faraidl. Keempatnya itu adalah Sayyidina Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan sahabat Zaid bin Tsabit radliyallahu ‘anhum ajma’in. 

Adapun Imamuna al-Syafii, beliau memilih itba’ terhadap pendapat yang disampaikan oleh sahabat Zaid bin Tsabit, atas dasar ketetapan nash dari lisan Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam: 

ﺃﻓﺮﺿﻜﻢ ﺯﻳﺪ

“Orang yang paling ahli dalam Ilmu Faraidl di antara kalian, adalah Zaid bin Tsabit.” 

Wallahu a’lam bi al-shawab

Hubungi Kami di :

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content