el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Deskripsi Masalah Insentif Karyawan berupa Saham Opsi

Ada sebuah perjanjiian mudlarabah antara 2 pihak, yaitu: 

  1. Pihak A selaku penyuplai modal sebesar 100% dengan nominal modal sebesar 1 Milliar Rupiah
  2. Pihak B selaku yang menjalankan modal (working capital)

Dari kerjasama ini, disepakati bahwa nisbah bagi hasil adalah 50% untuk penyuplai modal (rabbu al-maal) dan 40% untuk mudlariib (working capital). Sisanya sebesar 10% akan diberikan kepada karyawan yang memiliki kinerja baik dan berprestasi dalam menjalankan usaha tersebut atas nama insentif. 

Alhasil, insentif karyawan dirupakan dalam bentuk peluang memiliki saham perusahaan dan menerima bagi hasil usaha (deviden) kelak di akhir masa tutup buku.

Hak ini, akan diumumkan kelak di Tri Wulan Pertama – dengan nama karyawan yang diberikan hak sebagai yang dipilih oleh perusahaan di tengah perjalanan usahanya nanti dan dinyatakan kadaluarsa pada saat memasuki Tri Wulan Ketiga. Harga saham senilai 10% tersebut dipatok di awal senilai 120 juta rupiah. 

Mekanisme Penyampaian Insentif Saham Opsi pada Karyawan

Apabila di Tri Wulan pertama, ternyata harga sahamnya melejit senilai 300 juta rupiah per nisbah 10%nya, maka karyawan tersebut akan tetap bisa membeli hak akuisisi saham tersebut, senilai 120 juta. Alhasil, tidak ikut naik sebagaimana harga saham di pasaran.

Topik Permasalahan Insentif Saham Opsi

  1. Apakah kontrak mudlarabah di atas adalah sah?
  2. Bolehkah menetapkan insentif kepada karyawan berprestasi di awal kontrak mudlarabah itu disepakati? 
  3. Bila tidak boleh, lalu bagaimana solusinya agar kerjasama tersebut berlangsung sah?

Status Akad Mudlarabah akibat Pemberlakuan Insentif Saham Opsi

Menurut dhahir ibarat dari Hasyiyah al-Qalyuby, yang dimaksud dengan mudlarabah adalah penyerahan modal dari seorang pemilik modal (rabbul maal) kepada mudlarib (‘amil qiradl) untuk diniagakan dengan perjanjian bahwa keuntungan pengelolaan akan dibagi berdua. 

حاشيتا قليوبي وعميرة ٣/‏٥٢ — القليوبي (ت ١٠٦٩)

كِتَابُ الْقِراض (الْقِرَاضُ وَالْمُضَارَبَةُ) وَالْمُقَارَضَةُ. (أَنْ يَدْفَعَ إلَيْهِ) أَيْ إلَى شَخْصٍ. (مَالًا لِيَتَّجِرَ فِيهِ وَالرِّبْحُ مُشْتَرَكٌ) بَيْنَهُمَا وَدَلِيلُ صِحَّتِهِ إجْمَاعُ الصَّحَابَةِ رضي الله عنه أَجْمَعِينَ

Menurut penjelasan dari Syeikh Mushthofa Smith dalam Mukhtashar Tuhfatul Muhtaj bi Syarh al-Minhaj, menyatakan bahwa tidak masuk dalam bagian ribhun, yaitu wakil dan budak yang diidzinkan. 

مختصر تحفة المحتاج بشرح المنهاج ٢/‏٣٨١ — مصطفى سميط

وخرج بذكر الربح الوكيل والعبد المأذون

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Syeikh al-Khathib al-Syirbiny di dalam Mughny al-Muhtaj:

مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج ٣/‏٣٩٨ — الخطيب الشربيني (ت ٩٧٧)

وَخَرَجَ بِقَوْلِهِ: «وَالرِّبْحُ مُشْتَرَكٌ» الْوَكِيلُ وَالْعَبْدُ الْمَأْذُونُ

Mafhum dari kedua pendapat ini adalah wakil dan budak tidak masuk bagian dari yang ditanggung bersama antara investor dan ‘amil. Wakil dan budak merupakan kewajiban dari ‘amil qiradl selaku pihak yang mengangkatnya atau mengidzinkannya. 

Hal ini didasarkan pada penjelasan Imam Nawawi rahimahullah ta’ala yang mengatakan:. 

روضة الطالبين وعمدة المفتين ١١/‏١٥٥ — النووي (ت ٦٧٦)

وَأُجْرَةُ السَّجَّانِ عَلَى الْمَحْبُوسِ وَأُجْرَةُ الْوَكِيلِ عَلَى مَنْ وُكِّلَ بِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِي بَيْتِ الْمَالِ مَالٌ، وَصُرِفَ إِلَى جِهَةٍ أَهَمَّ مِنْ هَذِهِ.

قُلْتُ: وَقَدْ أَلْحَقْتُ فِي كِتَابِ التَّفْلِيسِ مَسَائِلَ كَثِيرَةً تَتَعَلَّقُ بِالْحَبْسِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Pengalokasian Insentif Saham Opsi di Awal Kontrak Mudlarabah 

Menurut Ibarat dari Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala di atas, kesepakatan pengalokasian itu boleh, namun berlaku pada badan hukum (syakhshiyah i’tibariyah) baitu al-maal

Akan tetapi, lembaga baitu al-maal itu tidak serupa dengan badan hukum usaha yang dibangun berdasarkan kontrak mudlarabah. Oleh karena itu, tidak tepat bila dilakukan qiyas atau ilhaq terhadap keduanya. 

Solusinya, adalah dengan melakukan istishab, yaitu mengembalikan pada ta’rif dasar dari kontrak mudlarabah yang hanya terdiri dari kontraknya dua pihak – yaitu antara ‘amil dan rabbu al-maal – dan ditambah dengan kesepakatan bagi hasil  (profit sharing) antara keduanya . 

Sejauh hasil pengamatan penulis di lapangan, kas perbendaharaan akad qiradl adalah senantiasa menjadi satu antara ‘amil dan rabbu al-maal, selama kontrak qiradlnya belum habis. Alhasil, pihak wakil atau karyawan yang diangkat oleh ‘amil, digaji dari kas perusahaan dan bukan dipotongkan dari nisbah bagi hasilnya kedua penyusun kontrak mudlarabah. 

Hal yang membedakan dengan persoalan yang dikemukakan dalam deskripsi di atas, adalah pengalokasian 10% sebagai porsi insentif karyawan yang berprestasi dalam bentuk saham opsi,  dilakukan saat awal kontrak mudlarabah itu ditandatangani. Alhasil, porsi tersebut dapat dimaknai sebagai 2, yaitu:
  1. Porsi 10% tersebut menjadi penyebab rusaknya kontrak qiradl / mudlarabah
  2. Yang berhak mengalokasikan insentif adalah pihak ‘amil qiradl 
  3. Karena dalam setiap akad yang rusak (fasid) memerlukan upaya pengoreksiannya (tashhih) dengan jalan istishab, maka metode tashih kontrak mudlarabah yang rusak di atas, adalah hendaknya dilakukan dengan jalan menambahkan porsi 10% tersebut sebagai bagian dari nisbah bagi hasilnya ‘amil dan selanjutnya, pihak ‘amil berhak untuk mengalokasikan 10% tersebut sebagai insentif untuk para karyawan yang telah dipekerjakannya guna mengelola modal mudlarabah. 

Daftar Rujukan Kajian Insentif Saham Opsi pada Karyawan

حاشيتا قليوبي وعميرة ٣/‏٥٢ — القليوبي (ت ١٠٦٩)

كِتَابُ الْقِراض (الْقِرَاضُ وَالْمُضَارَبَةُ) وَالْمُقَارَضَةُ. (أَنْ يَدْفَعَ إلَيْهِ) أَيْ إلَى شَخْصٍ. (مَالًا لِيَتَّجِرَ فِيهِ وَالرِّبْحُ مُشْتَرَكٌ) بَيْنَهُمَا وَدَلِيلُ صِحَّتِهِ إجْمَاعُ الصَّحَابَةِ رضي الله عنه أَجْمَعِينَ -. (وَيُشْتَرَطُ لِصِحَّتِهِ كَوْنُ الْمَالِ دَرَاهِمَ أَوْ دَنَانِيرَ خَالِصَةً، فَلَا يَجُوزُ عَلَى تِبْرٍ وَحُلِيٍّ وَمَغْشُوشٍ) مِنْ الدَّرَاهِمِ أَوْ الدَّنَانِيرِ. (وَعُرُوضٍ) وَفُلُوسٍ وَقِيلَ يَجُوزُ عَلَى الْمَغْشُوشِ الرَّائِجِ وَقِيلَ يَجُوزُ عَلَى الْفُلُوسِ (وَمَعْلُومًا) فَلَا يَجُوزُ عَلَى مَجْهُولِ الْقَدْرِ قَالَ ابْنُ يُونُسَ وَغَيْرُهُ أَوْ الصِّفَةِ. (مُعَيَّنًا وَقِيلَ يَجُوزُ عَلَى إحْدَى الصُّرَّتَيْنِ) الْمُتَسَاوِيَتَيْنِ فِي الْقَدْرِ، وَالصِّفَةِ كَأَنْ يَكُونَ كُلٌّ مِنْهُمَا أَلْفًا صِحَاحًا، قَالَ فِي الرَّوْضَةِ فَعَلَى هَذَا يَتَصَرَّفُ الْعَالِمُ فِي أَيِّهِمَا شَاءَ، فَيَتَعَيَّنُ لِلْقِرَاضِ وَفِيهَا كَأَصْلِهَا، لَوْ قَارَضَ عَلَى دَرَاهِمَ غَيْرِ مُعَيَّنَةٍ ثُمَّ عَيَّنَهَا فِي الْمَجْلِسِ قَطَعَ الْقَاضِي وَالْإِمَامُ بِجَوَازِهِ، كَالصَّرْفِ وَالسَّلَمِ وَقَطَعَ الْبَغَوِيّ بِالْمَنْعِ وَعِبَارَةُ الشَّرْحِ الصَّغِيرِ جَازَ، وَفِي التَّهْذِيبِ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ، وَفِي الْمُحَرَّرِ وَغَيْرِهِ لَا يَجُوزُ أَنْ يُقَارِضَهُ عَلَى دَيْنٍ فِي ذِمَّتِهِ أَوْ ذِمَّةِ غَيْرِهِ (وَمُسْلَمًا إلَى الْعَامِلِ فَلَا يَجُوزُ شَرْطُ كَوْنِ الْمَالِ فِي يَدِ الْمَالِكِ) يُوَفِّي مِنْهُ ثَمَنَ مَا اشْتَرَاهُ الْعَامِلُ؛ لِأَنَّهُ قَدْ لَا يَجِدُهُ عِنْدَ الْحَاجَةِ.

(وَلَا) شَرْطَ (عَمَلِهِ مَعَهُ)؛ لِأَنَّ انْقِسَامَ التَّصَرُّفِ يُفْضِي إلَى انْقِسَامِ الْيَدِ. (وَيَجُوزُ شَرْطُ عَمَلِ غُلَامِ الْمَالِكِ مَعَهُ عَلَى الصَّحِيحِ) وَالثَّانِي لَا كَشَرْطِ عَمَلِ الْيَدِ؛ لِأَنَّ يَدَ عَبْدِهِ يَدُهُ، وَفُرِقَ الْأَوَّلُ بِأَنَّ الْعَبْدَ مَالٌ فَجُعِلَ عَمَلُهُ تَبَعًا لِلْمَالِكِ بِخِلَافِ السَّيِّدِ، نَعَمْ إنْ ضَمَّ إلَى عَمَلِهِ أَنْ يَكُونَ بَعْضُ الْمَالِ فِي يَدِهِ أَوْ أَنْ لَا يَتَصَرَّفَ الْعَامِلُ، دُونَهُ فَسَدَ الْعَقْدُ قَطْعًا قَالَ فِي الْكِفَايَةِ وَصُورَةُ الْمَسْأَلَةِ أَنْ يَكُونَ الْغُلَامُ مَعْلُومًا بِالْمُشَاهَدَةِ أَوْ الْوَصْفِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعْلُومًا فَسَدَ الْعَقْدُ. (وَوَظِيفَةُ الْعَامِلِ التِّجَارَةُ وَتَوَابِعُهَا، كَنَشْرِ الثِّيَابِ وَطَيِّهَا) وَذَرْعِهَا وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا سَيَأْتِي أَنَّهُ عَلَيْهِ (فَلَوْ قَارَضَهُ لِيَشْتَرِيَ حِنْطَةً فَيَطْحَنَ وَيَخْبِزَ)

مختصر تحفة المحتاج بشرح المنهاج ٢/‏٣٨١ — مصطفى سميط

وعلى (أن يدفع إليه مالا ليتجر فيه والربح مشترك) بينهما، فخرج بيدفع مقارضته على دين عليه أو على غيره (١)، وقوله بع هذا وقارضتك على ثمنه، واشتر شبكة واصطد بها فلا يصح، نعم يصح البيع وله أجرة المثل وكذا العمل إن عمل (٢)، والصيد في الأخيرة للعامل وعليه أجرة الشبكة التي لم يملكها كالمغصوبة. وخرج بذكر الربح الوكيل والعبد المأذون

مغني المحتاج إلى معرفة معاني ألفاظ المنهاج ٣/‏٣٩٨ — الخطيب الشربيني (ت ٩٧٧)

وَأَمَّا (الْقِرَاضُ وَالْمُضَارَبَةُ) وَالْمُقَارَضَةُ شَرْعًا فَهُوَ (أَنْ يَدْفَعَ) أَيْ الْمَالِكُ (إلَيْهِ) أَيْ الْعَامِلِ (مَالًا لِيَتَّجِرَ) أَيْ الْعَامِلُ (فِيهِ، وَالرِّبْحُ مُشْتَرَكٌ) بَيْنَهُمَا، فَخَرَجَ بِيَدْفَعَ عَدَمُ صِحَّةِ الْقِرَاضِ عَلَى مَنْفَعَةٍ كَسُكْنَى الدَّارِ، وَعَدَمُ صِحَّتِهِ عَلَى دَيْنٍ سَوَاءٌ أَكَانَ عَلَى الْعَامِلِ أَمْ غَيْرِهِ، وَخَرَجَ بِقَوْلِهِ: «وَالرِّبْحُ مُشْتَرَكٌ» الْوَكِيلُ وَالْعَبْدُ الْمَأْذُونُ.

روضة الطالبين وعمدة المفتين ١١/‏١٥٥ — النووي (ت ٦٧٦)

وَأُجْرَةُ السَّجَّانِ عَلَى الْمَحْبُوسِ وَأُجْرَةُ الْوَكِيلِ عَلَى مَنْ وُكِّلَ بِهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِي بَيْتِ الْمَالِ مَالٌ، وَصُرِفَ إِلَى جِهَةٍ أَهَمَّ مِنْ هَذِهِ.

قُلْتُ: وَقَدْ أَلْحَقْتُ فِي كِتَابِ التَّفْلِيسِ مَسَائِلَ كَثِيرَةً تَتَعَلَّقُ بِالْحَبْسِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.

Selanjutnya, bisa ditunggu hasil kajian eL-Samsi mengenai status insentif berupa Saham Opsi dalam pandangan Fikih Klasik. Insyaallah akan segera dilansir di postingan mendatang. 

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content