el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Pengertian Insentif

Seseorang yang telah bekerja sesuai dengan kontrak pekerjaan yang diberikan padanya oleh atasan akan mendapatkan upah (ujrah). Upah ini selanjutnya kita kenal sebagai gaji (salary). 

Di luar pendapatan berupa gaji, seorang karyawan terkadang juga mendapatkan income berupa insentif, tunjangan, atau bonus. Biasanya, ketiga hal ini diberikan karena momen-momen tertentu. Misalnya, karena masa kerjanya yang sudah lama, atau karena loyalitasnya terhadap perusahaan dan pekerjaannya. 

Kalau insentif diberikan atas dasar masa kerjanya, biasanya perusahaan menyediakan pola perhitungannya. Misalnya, bila ia telah 5 tahun bekerja di perusahaan tersebut, maka gajinya ditambah menjadi 5 x 25% dari gaji pokoknya. Insentif jenis ini sering kita kenal sebagai tunjangan.

Dan bila insentif ini diberikan karena loyalitas pekerja terhadap perusahaan, biasanya insentif ini diberikan atas nama bonus atau komisi. 

Baik, insentif tadi diberikan dalam rupa tunjangan atau bonus atau bahkan komisi oleh perusahaan, tetaplah dapat dinyatakan bahwa insentif merupakan obyek dan sekaligus item yang terdiri dari sesuatu yang bernilai (mutaqawwam). Alhasil, insentif tersebut berstatus sebagai harta (maal) atau sesuatu yang dapat dinilai sebagai harta (mutamawwal). 

Arti Penting Pemberian Insentif bagi Karyawan dan Pengusaha

Sudah barang tentu arti penting keberadaan insentif bagi karyawan, adalah: 

  1. Meningkatkan perolehan gaji per bulan, 
  2. Meningkatkan kesejahteraan hidup karyawan dan keluarga
  3. Mendorong peningkatan loyalitasnya terhadap perusahaan

Sementara itu, jika dilihat dari sudut pandang pengusaha, maka arti penting pemberian insentif, adalah:

  1. Dapat mempertahankan keberadaan karyawan yang terampil dalam pekerjaannya sehingga bermanfaat bagi peningkatan kinerja perusahaan
  2. Mampu menarik karyawan lain dari luar untuk turut bergabung dalam perusahaan sehingga tercipta daya saing dan kinerja karyawan

Akad yang mendasari Pemberian Insentif bagi Pekerja 

Sebagaimana telah dijelaskan di muka, bahwa perusahaan dapat melakukan perencanaan (planning) pemberian insentif kepada karyawannya melalui berbagai langkah, antara lain:

  1. Masa kerja, yang berarti akadnya adalah akad ijarah (sewa jasa). Karena besarnya insentif bersifat pasti, maka insentif tersebut berkedudukan layaknya gaji.
  2. Jumlah anggota keluarga, yang berarti akadnya adalah hibbah atau bahkan akad tabarru’ (sukarela). Sebab, setiap karyawan sudah barang tentu memiliki jumlah anggota keluarga yang berbeda-beda
  3. Bonus atau Komisi atas kinerja yang telah dilakukan. Akad yang mendasari adalah akad ju’alah, sebab pemberiannya didasarkan pada penilaian ketercapaian target. 

Macam-Macam Insentif untuk Karyawan

Ada beberapa macam jenis insentif yang bisa diterima oleh karyawan, antara lain:

  1. Kenaikan gaji karena masa kerja
  2. Tunjangan keluarga
  3. Bonus atau komisi berupa uang, promosi jabatan, atau kesempatan untuk ikut andil dalam membeli saham perusahaan (Employee Stock Option Plan / ESOP). 

Insentif yang diberikan oleh Pemilik Modal

Insentif terhadap karyawan memang bisa datang dari siapa saja, yakni: dari para pemilik perusahaan atau dari ‘amil selaku atasannya. 

Barangkali, persoalannya hanyalah tergantung pada jenis kontrak usaha yang mereka lakukan, jenis insentif, dan waktu pemberian insentif tersebut.

Setidaknya ada 2 jenis kontrak usaha dalam Islam, yaitu: qiradl dan syirkah. Keduanya memiliki karakter sendiri dalam perjalanan usahanya dan sekaligus kedudukan karyawan terhadap pemilik perusahaan. Oleh karena itu, datangnya insentif juga dapat dikelompokkan menurut 2 karakter kontrak usaha tersebut.

Pertama, Insentif dari Perusahaan berjenis Kontrak Mudlarabah

Jika kontrak usahanya berjenis kontrak mudlarabah / qiradl, maka sudah barang tentu insentif tersebut mengharuskan datangnya dari pihak ‘amil qiradl. Kajian mengenai hal ini, dapat anda simak di link ini.

Kedua, Insentif dari Perusahaan berjenis Kontrak Syirkah

Ketika insentif diberikan oleh perusahaan yang bertipe kontrak syirkah, maka insentif bisa datang dari pemilik perusahaan (rabbu al-maal). Sudah barang tentu, penyampaian insentif tersebut menghendaki adanya kesepakatan lewat rapat umum pemegang saham (RUPS). Mengapa? Sebab, masing-masing musahim (Stockholder) yang terlibat adalah berlaku sebagai ‘amil. Alhasil, karyawan menempati kedudukan sebagai pihak yang dipekerjakan dan diangkat oleh musahim (pemegang saham) itu sendiri. Selaku pihak yang merekrut karyawan, maka musahim memiliki kewajiban selaku pemberi gaji karyawan, bonus, komisi atau hak-hak karyawan lainnya.

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content