el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Khithab Syar’i lewat Jenis Kelamin

Manusia diciptakan sebagai makhluk biner yang berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Adanya jenis kelamin yang berbeda, menuntut pembagian beban, peran dan tanggung jawab yang berbeda pula secara syara’. Semua itu dimaksudkan agar manusia senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT. Allah SWT telah berfirman di dalam Q.S. Al-Nisa: 1:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسࣲ وَ ٰ⁠حِدَةࣲ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالࣰا كَثِیرࣰا وَنِسَاۤءࣰۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِی تَسَاۤءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَیۡكُمۡ رَقِیبࣰا﴾ [النساء ١]

Khitab Syar’i atas Kaum Laki-Laki

Peran pokok yang secara tegas merupakan khithab syar’i terhadap kaum laki-laki, adalah peran pemimpin dan menjadi imam bagi kaum perempuan. Allah SWT berfirman:

ٱلرِّجَالُ قَوَّ ٰ⁠مُونَ عَلَى ٱلنِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضࣲ وَبِمَاۤ أَنفَقُوا۟ مِنۡ أَمۡوَ ٰ⁠لِهِمۡۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتࣱ لِّلۡغَیۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّـٰتِی تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِی ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُوا۟ عَلَیۡهِنَّ سَبِیلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِیࣰّا كَبِیرࣰا﴾ [النساء ٣٤]

Al-Imam Ibn Jarir al-Thabary [w 310 H] telah memberikan penafsiran bahwa beban taklif ini terjadi disebabkan karena adanya kelebihan yang dianugerahkan oleh Allah SWT terhadap kaum adam. Sebagaimana hal itu tercermin dari pennafsiran berikut:

تفسير الطبري جامع البيان – ط دار التربية والتراث ٨/‏٢٩٠ — أبو جعفر ابن جرير الطبري (ت ٣١٠)

قال أبو جعفر: يعني بقوله جل ثناؤه:(١) “الرجال قوّامون على النساء”، الرجال أهل قيام على نسائهم، في تأديبهن والأخذ على أيديهن فيما يجب عليهن لله ولأنفسهم =”بما فضّل الله بعضهم على بعض”، يعني: بما فضّل الله به الرجال على أزواجهم: من سَوْقهم إليهنّ مهورهن، وإنفاقهم عليهنّ أموالهم، وكفايتهم إياهن مُؤَنهنّ. وذلك تفضيل الله تبارك وتعالى إياهم عليهنّ، ولذلك صارُوا قوّامًا عليهن، نافذي الأمر عليهن فيما جعل الله إليهم من أمورهن

Khithab Syar’i atas Kaum Perempuan

Senafas dengan pemahaman di atas, kita selanjutnya tidak heran bila kemudian mendapati adanya banyak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan kepada muslim mukallaf agar menikah dengan perempuan yang memiliki potensi banyak anak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

التلخيص الحبير – ط أضواء السلف ٥/‏٢١٥٣ — ابن حجر العسقلاني (ت ٨٥٢)

تَناكحُوا تَكْثُرُوا أُبَاهِي بِكُمْ الأمم يَومَ القِيامَة

“Menikahlah dan perbanyaklah keturunan, karena aku akan berbangga-bangga dengan jumlah kalian kelak di hari Kiamat.”

Di dalam redaksi lain, Syeikh Ibn Hajar al-Asyqalany menyampaikan ragam hadits yang menyimpan makna anjuran menikahi wanita berpotensi hamil dan meninggalkan pernikahan yang tidak berorientasi pada terjadinya kehamilan.

الإفصاح عن أحاديث النكاح ١/‏٣٤ — ابن حجر الهيتمي (ت ٩٧٤)

تزوجوا الْوَلُود الْوَدُود واسناده صَحِيح دعوا الْحَسْنَاء العاقر وَتَزَوَّجُوا السَّوْدَاء الْوَلُود فَإِنِّي مُكَاثِر بكم الْأُمَم يَوْم الْقِيَامَة ذَروا الْحَسْنَاء الْعَقِيم وَعَلَيْكُم بِالسَّوْدَاءِ الْوَلُود الا اخبركم بنسائكم من اهل الْجنَّة السَّوْدَاء الْوَلُود انكحوا امهات الولاد فَإِنِّي أباهي بهم الامم يَوْم الْقِيَامَة وَسَيَأْتِي حَدِيث  لَا تتزوجوا عجوزا وَلَا عاقرا انكحوا امهات الولاد فَإِنِّي أباهي بهم الامم يَوْم الْقِيَامَة

Makna Khithab Syar’i atas Laki-Laki dan Perempuan

Dengan mencermati terhadap berbagai teks hadits yang disampaikan oleh Syeikh Ibnu Hajar al-Asyqalany di atas, selanjutnya kita bisa menarik pemahaman yang senafas [mafhum muwafaqah] dengan hadits-hadits tersebut, antara lain sebagai berikut:

  1. Bahwa khithab syar’i seorang perempuan adalah selaku wasilah lahirnya keturunan. 
  2. Bahwa karena beban syar’i ini pula, maka syara’ memberikan jaminan terhadap kaum perempuan berupa pemberian beban syar’i pasangannya, yakni: kewajiban memberikan nafkah sandang, pangan dan papan bagi terhadap istrinya
  3. Bahwa, sebagai bagian dari jaminan syar’i atas perannya selaku wasilah melanjutkan keturunan, maka perempuan diberikan hak dan kewenangan untuk mengajukan fasakh nikah kepada hakim apabila ia menjumpai pasangannya adalah orang yang mu’sir [miskin] yang ditandai sulit memberikan nafkah.

Maraji’:

البيان في مذهب الإمام الشافعي ١١/‏٢٢٠ — العمراني (ت ٥٥٨)

باب الإعسار بالنفقة واختلاف الزوجين فيها

إذا كان الزوج موسرًا، فصار معسرًا.. فإنه ينفق على زوجته نفقة المعسر، ولا يثبت لها الخيار في فسخ النكاح؛ لأن بدنها يقوم بنفقة المعسر وإن أعسر بنفقة المعسر.. كانت بالخيار: بين أن تصبر، وبين أن تفسخ النكاح، وبه قال عمر، وعلي، وأبو هريرة، وابن المسيب، والحسن البصري

Kesimpulan

Kaum laki-laki memiliki tugas syar’i selaku pemimpin kaum perempuan. Kaum perempuan memiliki tugas syar’i sebagai wasilah lahirnya keturunan. Untuk menjalankan peran dan tugas masing-masing secara optimal, maka syara’ memberikan beban taklif keterjaminan nafkah bagi istrinya kepada kaum adam dan memberikan hak khiyar bagi istri untuk melakukan fasakh nikah saat suaminya tidak bisa menjalankannya.  

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content