elsamsi log

Menu

Kajian Kapitalisasi Pasar: “Kripto Haram, Harganya Kog meroket di Pasaran?”

Kajian Kapitalisasi Pasar: “Kripto Haram, Harganya Kog meroket di Pasaran?”

Saham umumnya dimaknai sebagai surat berharga yang menyatakan nisbah kepemilikan sebuah aset usaha dan menawarkan nisbah bagi hasil keuntungan dan kerugian. Karena keberadaan nisbah kepemilikan tersebut, maka saham merupakan bagian dari instrumen investasi. Ada kegiatan pengembangan harta (tanmiyatu al-amwal) di dalamnya lewat sebuah aktifitas produksi. 

Suatu aktifitas produksi meniscayakan adanya modal produksi, kegiatan produksi dan bahan baku (raw material). Tiga elemen produksi ini merupakan sebuah keniscayaan, sebab ketiadaan ketiganya, menandakan tidak ada produksi, sebagaimana penjelsan ini disampaikan oleh Syeikh Abdullah bin Bayah dalam sebuah manuskrip karyanya dan dimuat dalam Jurnal OKI. 

Saham diterbitkan untuk maksud melakukan crowdfunding (penggalangan dana) yang dilakukan lewat sebuah pasar yang disebut dengan istilah pasar bursa (stock exchange). Orang membeli saham, pada dasarnya adalah sama pengertiannya dengan urun modal di dalam sebuah akttifitas produksi. Tujuan utamanya adalah mendapatkan pembagian deviden. 

Seiring adanya aset berkembang di balik saham, maka saham memiliki sejumlah nilai emisi. Nilai ini divalidasi secara rutin oleh emiten (perusahaan penerbit saham), dan diawasii penunaiannya oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). 

Karena keberadaan nilai ekonomi yang dijamin oleh badan yang berwenang inilah, maka saham menjadi suatu komoditi dan sekaligus sebagai efek berharga. 

Sebagai komoditi, maka harga saham menjadi tergantung pada hukum supply and demand (permintaan dan penawaran). Semakin banyak yang melakukan penawaran, maka harga saham menjadi naik. Semakin sedikit yang melakukan penawaran, maka harga akan turun. Transaksi penawaran dan permintaan ini selanjutnya disebut trading

Total harga saham berdasarkan seluruh jumlah saham yang beredar dikalikan dengan harga per lembar saham, dikenal dengan istilah kapitalisasi pasar, yang istilah kasarnya akumulasi modal yang terbentuk akibat saham yang diedarkan dan dipengaruhi oleh permintaan saham.

Hukum melakukan trading saham, yang meniscayakan adanya praktik beli di satu waktu dan menjualnya di waktu yang berbeda dipandang sebagai boleh oleh Syeikh Ali Jum’ah dengan catatan niat untuk andil dalam proses produksi. Akan tetapi, apabila perjalanan trading itu hanya dimaksudkkan untuk sekedar mempengaruhi harga pasar, bermain-main dengan harga saham, maka hukumnya menjadi tidak diperbolehkan sebab masuknya illat maisir (judi) dan gharar (spekulatif) di dalamnya. 

Aset Kripto

Aset kripto sejak awal diterbitkan sudah dinyatakan sebagai tidak memiliki underlying asset dan tidak memiliki wujud fisik. Itu sebabnya, keberadaannya hanyalah sebuah entitas yang hanya terdiri dari rangkaian angka dan huruf dengan dalih produk penambangan (mining). 

Karena tidak memiliki wujud fiisik dan aset dibalik kripto, maka kripto bukanlah sebuah aset melainkan hanya sebuah catatan (ledger) saja yang disajikan dalam bentuk data virtual. Karena hanya sebuah catatan, maka kripto tidak memiliki aset penjamin, melainkan hanya sekedar pengubahannya dari satu program ke program yang lain. Persis seperti angka ketika diubah secara otomatis menjadi huruf dengan berbekal formula / rumus tertentu yang dimasukkan. 

Valuasi harga kripto terbentuk karena angka dan huruf tersebut diproduksi oleh rumus yang rumit sehingga membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya. Padahal sejatinya, dengan rumus yang mudah pun bisa dihasilkan kriptografi, sebagaimana hal ini cukup mafhum bagi kalangan programmer aplikasi. 

Tidak ada jaminan aset di balik kripto, dan tidak ada jaminan utilitas (manfaat) apapun. Tidak lebih dari sekedar catatan-catatan tak bermanfaat dan tak berfaedah.

Terbentuknya harga kripto, tidak lebih disebabkan karena beberapa hal, antara lain: Pertama, karena merasa ada aktifitas penambangan. Padahal, sejatinya aktifitas ini adalah pengelabuan (tadlis) semata, sebab pihak platform penerbit pun juga tidak memberi upah bagi penambang. Platform justru menikmati bayaran yang disetorkan penambang sebagai upah pemberian lisensi bahhwa kriptografi yang dihasilkannya merupakan cryptocurrency dari kelompoknya. Just it is. 

Selanjutnya, pihak penambang melepaskannya ke bursa kripto yang di situ sudah ada kripto-kripto yang lain dan diperoleh dengan jalan dan cara yang sama. Sesama aset fiktif, terjadilah yang dinamakan tarik ulur harga. Di sisi lain, masuk para spekulan yang mempermainkan harga sehingga seolah aset fiktif tersebut menjadi seolah-olah barang berharga. 

Aksi spekulatif dari para spekulan kripto memancing para spekulan lainnya untuk masuk ke pasaran dan ikut nimbrung melakukan tawar menawar harga. Akibatnya pergerakan harga kripto menjadi fluktuatif dan menyerupai fluktuasinya harga saham di bursa saham. Dari sinilah terbentuk yang dinamakan proses kapitalisasi pasar. Akhirnya kripto memiliki market cap, menyerupai market sharenya saham dan efek berharga lainnya.

Padahal, sejatinya kripto hanyalah merupakan aset yang dibikin untuk bermain-main saja. Tak lebih dari sekedar instrumen spekulasi. Ia sejatinya tidak ada, namun dibikin seolah ada. Hanya catatan-catatan hasil rumus yang diprogramkan lewat miner. 

Itulah perbedaan Saham dan Aset Kripto. Sama-sama memiliki kapitalisasi pasar, akan tetapi landasan pokok berangkatnya berasal dari entitas yang berbeda. Saham berangkat dari aset yang mendasari berupa aset produktif. Sementara kripto, hanyalah produk logika programming, tak lebih dari sekedar catatan. Ingat, catatan!!! Bila input sama, maka hasilnya pasti sama. Itulah ciri khas produk rumus yang sejatinya tak ada produk. Wallahu a’lam bi al-shawab

Muhammad Syamsudin

Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: