el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Maksud dari saham tak berpenghuni adalah peluang nisbah (persentase) kepemilikan individu atas perusahaan yang akan diberikan setelah melakukan kinerja selama beberapa waktu sehingga pihak yang diberikan hak itu berhak untuk mengakuisisinya saat hak pemesanan itu sudah diberikan oleh perusahaan kepadanya. 

Saham tak berpenghuni ini, kita kenal dengan istilah ESOP. Beberapa pihak menyebutnya sebagai hak opsi karyawan untuk mengakuisisi saham perusahaan sebagai insentif dan prestasi kerjanya. Baca kembali Keunikan Pembagian Saham di Era Modern, Ada Saham ESOP yang tak Berpenghuni

Apa itu Hak Opsi Karyawan?

Karyawan yang telah bekerja lama dan baik, umumnya akan diapresiasi oleh perusahaan dengan pemberian insentif kepadanya. 

Di era modern ini, insentif ini diberikan dalam bentuk hak opsi. Teknis pemberiannya adalah sebagai berikut:

Pertama, seorang karyawan diberikan hak untuk mengakuisisi saham perusahaan dengan nilai yang sudah dipatok dan tanggal kadaluarsanya juga sudah dipatok. 

Suatu misal, karyawan A, diberi hak membeli saham mulai dari 01 Juli 2023 sampai dengan 31 Desember 2023. Harga saham dipatok sebesar 20 juta rupiah dengan nisbah kepemilikan sebesar 10% atas perusahaan. Pada tanggal 10 November 2023, ternyata karyawan A mengetahui bahwa harga saham sudah meningkat menjadi 40 juta rupiah. 

Karena melihat adanya pergerakan harga yang bagus tersebut, maka di tanggal 10 November itu, A memantapkan diri untuk mengambil tawaran hak opsi saham tersebut. Sudah barang tentu, harganya adalah 20 juta rupiah sesusai dengan hak kontrak opsinya. Alhasil, di saat pembelian itu, karyawan A seolah telah memiliki keuntungan pula senilai 20 juta rupiah dalam bentuk nilai saham. 

Kedua, meskipun saham dengan nisbah kepemilikan senilai 10% perusahaan itu sudah dibelinya, akan tetapi karyawan A tidak boleh menjualnya saat itu juga. Ia hanya bisa melego saham yang dimilikinya pada tanggal yang telah ditetapkan. Proses melego ini tidak dalam bentuk hak wajib, melainkan kalau mahu saja. 

Istilah-Istilah pada EPSO

Hak membeli opsi saham oleh karyawan (EPSO) di atas, dikenal dengan istilah call option. Sementara itu, hak menjual kembali saham di tanggal yang telah ditetapkan oleh perusahaan, dikenal dengan istilah put option

Harga beli karyawan terhadap opsi saham ini dikenal dengan istilah stricke option. Karena “stricke option” diadakan sebagai insentif bagi karyawan, maka harga saham cenderung di bawah harga pasar, atau bahkan free sama sekali, alias gratis.

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content