el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Fb Img 16396624190514435

assalamualaikum ustad. Saya ingin bertanya. saya kesulitan sekali berniat dalam hati untuk melakukan ibadah misalkan wudhu dan sholat. mau mengucap kata wudhu dalam hati itu sangat sulit sekali. bagaimana solusinya ya ustad, terimakasih banyak jika ustad berkenan menjawab. saya capek ustad ketika sholat pun saya kesusahan berniat dalam hati hingga tidak jadi jadi sholatnya. saya harus bagaimana ya ustad? saya sudah putus asa ustad karena saya sangat capek terus seperti ini. saya stres mikir niat terus ustad. tolong berikan saya solusi ustad. Apakah boleh niat hanya dimulut tanpa dihari ustad? apakah sah niat hanya dimulut tanpa dihadirkan dihati ustad?  wassalamualaikum.. (Fatimatuzzahra)

Jawaban

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah. Wassholatu wassalamu ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi washahbih ajma’in. 

Penanya, rahimakumullah.

Niat secara syara’ itu pengertiannya adalah tindakan “menyengaja” yang disertai dengan melakukan. Miisalnya kita mahu melakukan wudlu. Tindakan kita dengan berjalan dan menuju tempat air, itu sudah masuk dalam kategori “menyengaja”. Saat kita benar-benar melakukannya dengan bukti mengambil air dan membasuh muka, maka saat itu pula, kita sudah disebut menjalankan wudlu

Adapun lafadh niat, seperti nawaitu al-wudlu-a li raf’i al-hadatsi al-ashghar fardlan lillahi ta’ala, itu pada dasarnya hanyalah instrumen membantu hadlirnya niat. Seandainya, kita menggantinya dengan nawaitu al-wudlu’ (aku mau wudlu), maka itu sudah bisa disebut menjalankan niat wudlu, apalagi bila dibarengi dengan tindakan mengucurkan air di tangan dan bersiap membasuh muka dan dibasuhkan beneran. 

Niat sholat pun demikian, sama dengan niat wudlu. Misalnya, masuk waktu ashar, kita bersiap menjalankan sholat dan menutup aurat, menghadap qiblat, bermakmum atau munfarid (sendirian), maka cara berniat itu cukup dengan “menyengaja untuk menjalankan sholat ashar berjamaah sebagai makmum” lalu takbiratul ihram. Adapun lafadh ushalli fardla al-ashri …dst, itu hanya berlaku sebagai bahasa penuntun hadlirnya kesengajaan. Tidak dibaca pun tidak jadi soal, asalkan sudah sengaja melakukan sholat ashar berjamaah lalu takbir. 

Hanya saja, tindakan sebagaimana yang saya sampaikan di atas itu kadang berbahaya bila disepelekan. Sebab, tidak semua orang ada dalam kondisi siiap menjalankan wudlu atau shalat. Hatinya kadang sedang kacau dan kefikiran dengan berbagai masalah duniawi. Nah, di situlah peran lafadh niat itu penting dan dianjurkan oleh para fuqaha’ dari madzahib al-arba’ah secara ijma’. Tujuannya, jika secara batin susah menyengaja, paling tidak secara dhahir (di mulut) sudah melafadhkan niat. Sekacau-kacaunya hati, bila mulut sudah mengucapkan, maka sudah terbilang berniat. Sebagaimana thalaq, sekacau-kacaunya fikiran seorang suami, bila mulut sudah melepaskan kata thalaq, maka jatuh thalaq, meskipun secara batin, ia tidak berniat menthalaq.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat menjawab permasalahan saudari penanya. 

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content