elsamsi log

Menu

Konsultasi Muamalah: Bolehkah menjual atau membeli Akun Youtube dan Adsense yang sudah dimonetisasi

Konsultasi Muamalah: Bolehkah menjual atau membeli Akun Youtube dan Adsense yang sudah dimonetisasi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apakah boleh atau halal menjual atau membeli akun youtube dan adsense yang sudah di monetasi? 

Misalnya saya mau membeli akun youtube yang sudah di monetisasi beserta dengan akun adsense yang sudah di verifikasi dari seseorang yang kebetulan ingin menjual akun youtubenya di mana verifikasi tersebut menggunakan data dan identitas orang tersebut. Apakah boleh? 

Karena ingin cepat mendapat penghasilan akhirnya saya memutuskan untuk membeli akun youtube dan adsense tersebut. 

Apakah penghasilan dari youtube halal dimana akun youtube dan adsense yang digunakan adalah hasil membeli dari seseorang? Terimakasih. [Penanya: Fulanah]

Jawaban

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله مولانا محمد ابن عبد الله وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه أما بعد

Bolehkah membeli Akun Youtube dan Adsense yang sudah dimonetisasi?

Penanya yang dirahmati Allah SWT. Untuk menjawab pertanyaan saudara, hal pertama yang harus kita tanyakan terlebih dulu, adalah apakah Akun Youtube dan Adsense serta Monetisasinya adalah termasuk kategori harta?

Jawaban atas pertanyaan ini penting seiring syarat sah barang yang bisa dijualbelikan atau disewakan, adalah ada 5, yaitu:

ويصح بيع كل طاهر منتفع به مملوك ولا يصح بيع عين نجسة ولا ما لا منفعة فيه.

“Sah menjualbelikan setiap barang yang (1) suci, (2) bisa diambil jasanya, (3) dimiliki, (4) tidak sah menjualbelikan barang najis, dan (5) barang yang tidak bisa diambil jasanya.” (Matan Ghayah Taqrib li Abi Syuja’).

Berdasarkan penjelasan di atas, Akun Youtube dan Akun Adsense, adalah bagian dari sesuatu yang bisa diambil jasanya. Oleh karena itu, kedua jenis akun ini bisa dikategorikan sebagai far’un (cabang) dari “maal manfaat” atau “harta berbasis jasa”, yang selanjutnya dilabeli sebagai “hak.” 

Hak merupakan istilah lain dari “syaiin” (sesuatu). Alhasil, “akun” dalam istilah fikih disebut juga sebagai syaiin maushuf fi al-dzimmah (sesuatu yang berjamin), dengan jenis jaminan berupa fi’lin (kinerja) dari conten. Jaminan berupa kinerja konten semacam ini masuk rumpun akad kafalah. Dengan demikian, membeli akun, adalah sama dengan membeli kinerja conten yang menjadi basis jaminannya. Hal ini sesuai dengan bunyi ta’bir berikut ini:

كُلُّ مَا يَقـْتَضِى وَ يَحُوْزُهُ الْإِنْسَانُ بِالْفِعْلِ سَوَاءٌ أَكاَنَ عَيْنًا أَوْ مَنْفَعَةً كَذَهَبٍ أَوْ فِضَّةٍ أَوْ حَيَوَانٍ أَوْ نَبَاتٍ أَوْ مَنَافِعٍ الشَّيْءِ كَاَلرُّكُوْبِ وَاللُّبْسِ وَالسُّكْنَى

“Segala sesuatu yang dibutuhkan dan bisa diperoleh oleh manusia dengan suatu usaha baik berupa benda yang tampak  (materi) seperti emas,  perak,  binatang,  tumbuh-tumbuhan,  maupun berupa fungsi dari suatu aset, misalnya dikendarai, dikenakan,  dan ditinggali.”

Mafhum dari ta’bir di atas, adalah bahwa yang dinamakan aset itu senantiasa memiliki ushul tsabitah (aset landasan yang sudah berlaku) sebagai sumber asal kinerja produksi. Akun Youtube dan Adsense memiliki basis kinerja berupa konten. Alhasil membeli akun, adalah sama artinya dengan membeli kontennya. 

Apabila hal terakhir ini terpenuhi dalam transaksi saudara saat melakukan akad pembelian akun youtube dan akun adsense tersebut, maka tidak diragukan lagi bahwa hukum akad pembelian itu adalah sah dan boleh

Akun Youtube dan Adsense-nya diverifikasi dengan menggunakan Data dan Identitas Pemilik Asal

Sebagaimana telah disampaikan di muka, bahwa “akun” adalah bagian dari aset manfaat yang dilabeli sebagai “hak”. Ada 2 jenis hak dalam pandangan fuqaha kontemporer, yaitu haq ibtikary (hak cipta / hak immateriil) dan haq istihlaky (hak materiil). Perbedaan keduanya terletak pada cara penggunaannya. 

Mencermati terhadap akad yang berlaku pada pertanyaan yang saudara sampaikan, hak mengakuisisi di atas adalah termasuk haq istihlaky (hak mateiil). Artinya, material (syai’) yang anda akuisisi harus bisa berpindah secara total kepada anda. 

Oleh karena itu, ketika akad tersebut sudah disepakati deal dan terjadi, maka risiko yang berlaku atas pihak yang menjual, adalah ia harus mengurus terjadinya perpindahan data untuk verifikasi akun, mengingat bahwa verifikasi adalah bagian dari tanda penyerahan kepemilikan (tamalluk). 

Tanpa disertai bisanya pindah data verifikasi, maka sifat kepemilikan anda terhadap akun menjadi berstatus kepemilikan tidak sempurna (milkun naqish). 

Bertransaksi dengan obyek akad (ma’qud ‘alaih) berupa milkun naqish adalah boleh selagi masih memungkinkan peralihannya menjadi milik sempurna (milkun tamm). 

Ketiadaan bisanya ma’qud ‘alaih berubah menjadi milkun tamm, menjadikan akad akuisisi tersebut berlaku sebagai gharar, sehingga haram, sebab qashdu al-a’dham (maksud utama) dari akuisisi adalah terjadinya perpindahan milik secara sempurna. 

Alhasil, status verifikasi data akun tersebut, menghendaki disyaratkan bisa diubah dan dialihkan ke saudara yang bertindak selaku pembeli dan itu merupakan tanggung jawab pihak penjual sebab statusnya yang bertindak selaku penjamin (kafil).

Apakah penghasilan dari akun yang masih diverifikasi oleh data penjual tersebut adalah halal?

Kehalalan suatu penghasilan yang diperoleh lewat akuisisi “hak,” adalah ditentukan oleh 2 hal, yaitu: 

  1. kinerja anda dalam mengelola konten sebab konten secara tidak langsung menjadi aset produksi. Misalnya dengan menyajikan konten yang tidak dilarang oleh syara’, dan 
  2. akun tersebut telah sah menjadi hak milik saudara, atau anda dipekerjakan untuk menjadi pengelola konten. Kedua hal ini merupakan ciri adanya kulfah (beban kerja atau kegiatan produksi). 

Jika kedua hal ini terpenuhi oleh anda, maka penghasilan yang anda peroleh dari monetisasi tersebut hukumnya adalah halal sehingga boleh. Tanpa adanya kulfah, menjadikan suatu penghasilan berubah status menjadi penghasilan yang haram. Wallahu a’lam bi al-shawab

Muhammad Syamsudin

Penanggung Jawab Tim Mujawib eL-Samsi. Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: