elsamsi log

Menu

Konsultasi Muamalah: REKENING BERSAMA UNTUK PEDAGANG PASAR

Konsultasi Muamalah: REKENING BERSAMA UNTUK PEDAGANG PASAR

Assalamualaikum pak ustadz, 

Mohon izin bertanya pak, Keluarga saya kan ikut kegiatan menabung di pasar yang dilakukan setiap hari. Kegiatan tersebut sudah lama dengan tujuan agar para anggota yang terdiri dari sesama pedagang di pasar dan juga para pelanggan agar memiliki dana simpanan pada hari raya idul Fitri dikarenakan jangka waktu menabung adalah 1 tahun. 

Jumlah uang tabungan yang terkumpul setiap harinya didata secara manual dan ditabungkan di Bank BRI (terdapat suku bunga). Uang tabungan tersebut tidak dapat diambil sebagian sebelum waktu yang telah disepakati. Namun dapat dipinjam dengan memberi bunga tetap sebesar 10% dengan jangka waktu pembayaran selama 1 tahun (sampai pembagian tabungan). 

Mengenai bunga yang diperoleh dari tabungan dan pinjaman tadi akan dibagi hasil kepada semua anggota yang ikut kegiatan menabung dalam bentuk barang dan uang yang tidak sama besarannya setiap anggota agar adil (dikarenakan nominal menabung disesuaikan dengan kemampuan, tidak ada batasan sehingga berbeda setiap anggota).

Yang saya tanyakan pak, bagaimana sistem penerapan bunga pinjaman pada tabungan tersebut menurut hukum Islam? Mohon penjelasannya dengan disertai dalilnya. Terimakasih 

Jawaban

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan ke hadirat beliau Baginda Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Menabung adalah perbuatan yang terpuji secara syara’ sebab merupakan merupakan lawan dari sifat tercela (madzmum), yaitu boros (mubadzir), berlebih-lebihan (israf) dan melampaui batas (i’tida) serta bermegah-megahan (takatsur). Untuk itu, hendaknya tindakan dan sikap terpuji tersebut hendaknya juga diikuti dengan sikap terpuji lainnya dan jauh dari tindak kemaksiatan. 

Mengumpulkan dana dan menabungkan secara bersama-sama di bank juga boleh karena menjaga amanah memang merupakan perbuatan yang sulit sehingga membutuhkan solusi praktis pertanggungjawaban. Apalagi disertai dengan adanya pencatatan. 

Namun, karena kasus menabung yang dilakukan oleh saudara dengan rekan-rekannya ini adalah menabung secara bersama dalam satu rekening, kemudian ada kesepakatan tidak boleh diambil kecuali setelah jatuh tempo yang disepakati, maka di sinilah permasalahan itu bermula seiring juga adanya bunga.

Pertama, Akad menabung bersama dalam Satu Rekening

Sebenarnya akad ini adalah terhitung akad syirkah. 

الشركة: ثبوت الحق في شيء لاثنين فأكثر على جهة الشيوع

“Syirkah itu adalah menetapkan berlakunya suatu hak dalam sesuatu bagi 2 orang atau lebih sebagai kepemilikan bersama-sama tak bisa dibagi.” (Hasyiyah Qalyuby wa Umairah, 2/332).

Namun, yang dinamakan syirkah sebagai unit usaha secara syara’, adalah meniscayakan adanya kegiatan usaha. Dan landasab pokik syirkah adalah syirkah inan, yaitu penyertaan modal bersama untuk usaha bersama.

Sementara, yang dilakukan oleh saudara dan rekan-rekan anda, adalah sekedar mengumpulkan dan menitipkan uang di bank sehingga tidak ada tamwil (unit usaha). 

Bank bukan merupakan unit tamwil (pengembangan harta) sehingga bukan pula masuk sebagai unit produksi. Oleh karenanya, bunga yang diperoleh dari rekening bersama semacam ini adalah haram sebab memenuhi illat riba. 

كل قرض جر نفعًا فهو ربا

“Setiap utang yang menarik kemanfaatan pada pihak yang menghutangi, adalah riba.”

Bunga ini, seharusnya bukan untuk dibagikan bersama lagi, melainkan harus ditasarufkan ke sosial yang bukan konsumtif. Sebab, mengkonsumsinya adalah menerjang tuntunan Baginda Rasulillah shallallallahu ‘alaihi wasallam:

كل لحم نبت من سحت فالنار أولى به»

“Setiap daging yang tumbuh dari perkara haram maka neraka adalah lebih utama.” 

Kedua, Kesepakatan memungut Bunga 10% 

Anggota yang meminjam uang ke paguyuban sejatinya adalah mengambil uangnya sendiri. Namun, karena terikat dengan kesepakatan bersama maka kemudian dihukumi sebagai pinjam oleh organisasi kemudian dipungut bunga 10%. 

Tak dapat disangkal lagi, bahwa bunga 10% tersebut adalah berkedudukan sebagai riba dan merupakan buah dari kegiatan mudlarabah fasidah

Alasannya, juga disebabkan tidak adanya unit tamwil, tidak ada kegiatan produksi, sehingga 10% semata-mata berasal dari aktifitas menarik manfaat pinjaman (utang).

Pembagian hasil memungut riba ke anggota yang lain, itu juga bagian dari kegiatan bagi-bagi harta yang dipungut dari orang lain secara bathil. Oleh karenanya, hukumnya adalah haram. 

Solusi bagi masyarakat yang melakukan pembukaan rekening bersama

  1. Pastikan uang tersebut dikumpulkan untuk membangun kegiatan usaha bersama atau menyalurkannya ke unit usaha atau produksi.
  2. Setiap hasil yang diperoleh dari suatu unit produksi adalah halal 

Demikian jawaban dari kami semoga bermanfaat! 

Konsultasi Muamalah

Bagi anda yang memiliki permasalahan seputar akad muamalah, dan membutuhkan bantuan jawaban, anda bisa melayangkan pertanyaan ke Tim Redaksi dengan alamat email: redaksi@el-samsi.com atau ke email: muhsyamsudin@el-samsi.comSiapkan donasi terbaik anda untuk Kajian Tim Mujawwib eL-Samsi ke No. Rek. BRI: 7415-01-0053-9953-5 a.n SAMSUDIN. Minimal: @Rp. 100 Ribu sesuai dengan tingkat kesulitan permasalahan yang menghendaki dibahas.

SHARE THIS:

Muhammad Syamsudin

Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: