elsamsi log

Menu

Kontrak CFD pada Trading Forex dan Saham dalam Timbangan Fikih

Kontrak CFD pada Trading Forex dan Saham dalam Timbangan Fikih

Features Market merupakan sebuah pasar yang berfungsi meniagakan aset-aset derivatif “secara berjangka” yang terdiri dari komoditas berupa (a) hak memesan efek terlebih dulu (HMETD/right), (b) opsi (khiyarat), (c) waran dan (d) semua jenis kontrak berjangka atau indeks berjangka. 

Tulisan kali ini, akan mengupas secara khusus mengenai CFD (contract for difference) sebagai satu dari kesekian obyek perdagangan (sil’ah) di bursa berjangka komoditi. 

Dalam bursa berjangka, CFD termasuk bagian dari sil’ah (komoditas dagang) sebab keberadaannya yang ditukar dengan uang (tsaman) oleh para trader. Adanya pertukaran (mu’awadlah) menandakan adanya praktik jual beli (bai’), soko guru dari niaga (tijarah).

Ikhtisar Contract for Difference (CFD)

Pertama, Contract for Difference (CFD) adalah kontrak kesepakatan antara dua pihak untuk memperdagangkan “perbedaan nilai” investasi “dari” aset kolateral pada saat kontrak dibuka (open positiion) dan ditutup (close position) (ASX, 2008). CFD merupakan tipe derivatif yang memberikan kemungkinan kepada investor untuk membeli atau menjual instrumen investasi (underlying asset) meskipun tidak secara langsung (fisik) memilikinya. Memiliki CFD berarti menghadapi risiko yang sama dengan memiliki underlying asset karena performa keuangannya akan sama dengan memiliki underlying asset

Kedua, underlying asset yang biasa diperdagangkan dalam CFDs adalah saham, indek saham, nilai tukar mata uang asing, dan komoditi seperti minyak dan emas. 

Ketiga, pada akhir periode transaksi CFD, perbedaan harga pada waktu pembukaan dan penutupan dari suatu underlying

asset akan diperhitungkan sebagai laba atau rugi

Keempat, CFDs dikategorikan sebagai “leverage derivatives” karena pembelian atau penjualan CFD hanya akan membutuhkan pembayaran yang relatif “kecil porsinya” jika dibandingkan dengan “total harga” dari instrumen/underlying asset atau lebih dikenal sebagai margin (collateral asset). Margin yang harus dibayarkan berbeda-beda, tergantung jenis investasinya. Sehingga, dengan memiliki risiko investasi yang sama dengan memiliki underlying asset secara fisik, CFD dapat memperoleh keuntungan yang tinggi dengan inisial investasi yang sangat rendah (margin yang harus dibayar). Akan tetapi, investor CFD juga harus siap menanggung kerugian yang besar atas investasinya. 

Kelima, tidak seperti option, CFD tidak memiliki batasan waktu untuk dapat diperdagangkan. Investor dapat membuka atau menutup posisi CFD tergantung tujuan investasi yang ingin diambil. Investor CFD tidak secara langsung memiliki underlying asset, maka investor tetap bisa mendapatkan keuntungan sekalipun harga underlying asset turun. Dalam memperjual-belikan CFD, investor tidak harus membayar stamp duty. 

Akan tetapi yang perlu diperhatikan, CFD tidak cocok untuk mempertahankan posisi investor dalam jangka panjang. Hal ini dikarenakan adanya keharusan membayar biaya bunga terbuka setiap harinya dan kontrak atas bunga. Sehingga berinvestasi dalam jangka panjang, akan meningkatkan biaya transaksi (Gramlich, 2004)

Takyif Fikih Contract for Difference (CFD) pada Contoh Trading Forex

Jika mencermati bagaimana CFD itu muncul pada Trading Forex, maka CFD itu merupakan “buah” dari dua mekanisme yang digabung menjadi satu. Alhasil, seolah menyerupai satu akad.

Pertama, CFD bisa dibaca sebagai syirkah ‘inan

Syirkah inan merupakan jenis kerjasama persekutuan modal. Uang yang diserahkan oleh trader kepada broker untuk melakukan kontrak CFD, berkedudukan sebagai layaknya modal usaha per total lot yang dipilihnya. 

Karena ikatan persekutuan modal ini, maka pihak trader bisa menggerakkan aset sebesar kontrak lot (misalnya) yang menjadi margin (kolateral) dan telah disepakati. Istilah ini kemudian disebut sebagai leverage (daya ungkit). 

Praktik dari leverage itu sendiri adalah ibarat modal 100, namun bisa menggerakkan 10 ribu. Aktifitas ini hanya bisa terjadi jika trader berkedudukan sebagai syarik (mitra broker) dalam syirkah ‘inan

Bagaimana dengan kedudukan CFD yang dibatasi “durasi” kontrak modal tersebut? Kiranya masalah “durasi” kontrak modal tersebut tidak membuat ruusaknya akad syirkah inan. Seolah hal ini sama dengan ilustrasi kasus kerjasama antara 2 pihak untuk melakukan kegiatan jual beli barang selama 1 bulan. Selisih antara pembelian dan penjualan dibagi bersama ketika kontrak tersebut telah habis, sesuai dengan nisbah modal yang disertakan. Sudah barang tentu, bahwa sahnya akad ini berlaku apabila untung rugi ditanggung bersama. Jika tidak, maka fasad-lah akad tersebut. 

Yang menjadi persoalan adalah ada spread (biaya transaksi) yang harus dibayarkan oleh pihak trader untuk setiap transaksinya. Jika memang kontrak CFD itu adalah syirkah inan, maka mustinya biaya spread tersebut adalah ditanggung bersama. Inllah pangkal rusaknya akad syirkah inan dari CFD di atas. 

Spread atau biaya transaksi, hanya bisa dibenarkan apabila marjin atau aset kolateral yang digerakkan oleh trader merupakan hak milik trader itu sendiri. 

Kedua, CFD merupakan Kontrak Niaga Komoditas Utangan

Karena CFD tidak bisa dikelompokkan sebagai syirkah inan karena keberadaan spread (biaya transaksi) yang harus ditanggung oleh trader itu sendiri, maka itu menandakan bahwa transaksi trader ketika menyerahkan 100 namun bisa menggerakkan 10 ribu, maka sisa sebesar 9900 adalah berkedudukan sebagai harta utang. Pihak krediturnya (mudin) adalah broker. 

Adapun yang bertindak selaku debitur (dain) adalah trader. Obyek yang diutangkan adalah 9900 tersebut, yang bertindak selaku komoditas. Adapun uang yang diserahkan oleh seorang trader kepada broker adalah bertindak selaku down payment (uang muka / urbun) dari total komoditas 10 ribu.

Permasalahan yang menarik dari penerapan akad ini, adalah apabila terrjadi kerugian, pihak debitur (trader), tidak menanggung total nilai 9900 yang diutangkan tersebut. Jika hal ini yang berlaku, lantas apa kedudukan dari 9900 itu? Benarkah bahwa 9900 adalah sil’ah? Jika itu meruupakan harta utang, semestinya adalah harus diganti oleh pihak trader. Faktanya hal itu tidak berlaku dalam trading. 

Uniknya lagi, apabila terjadi laba yang besar, maka pihak trader bisa mendapatkan keuntungan yang besar sesuai denggan nisbah modalnya dia dari total komoditas yang dijadikan daya ungkit. Jadi kalau modal itu 100 dari 10 ribu, maka nisbah bagi hasilnya adalah 1% dari laba menjalankan 100 ribu. 99% sisanya dimiliki oleh broker.

Jadi, selisih 9900 tersebut bertindak sebagai apa? Yang jelas, 9900 itu dilabeli sebagai leverage derivatif, yang artinya kurang lebih adalah turunan dari daya ungkit. (Bersambung)

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: