elsamsi log

Menu

LBM PWNU Jatim: “Aspek Teologis Kesesuaian Pasal Anti Penodaan Agama Dengan Prinsip Islam”

LBM PWNU Jatim: “Aspek Teologis Kesesuaian Pasal Anti Penodaan Agama Dengan Prinsip Islam”

Dalam ajaran Islam dinyatakan secara tegas bahwa agama yang benar di sisi Allah hanyalah agama Islam saja. Dalam al-Qur’an dinyatakan:

﴿‌إِنَّ ‌ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ﴾

Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam. (QS. Alu Imran: 19)

﴿‌وَمَن ‌يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ﴾ 

Siapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak diterima darinya dan dia di akhirat termasuk orang yang merugi. (QS. Alu Imran: 85)

Ayat seperti di atas berlaku dalam konteks pengajaran agama Islam dalam forum internum (keyakinan keagamaan secara pribadi). Akan tetapi pada saat yang sama ketika dalam konteks forum eksternum (ekpresi keagamaan di ruang publik) umat Islam dilarang melakukan penodaan terhadap agama lain yang pada ujungnya berpotensi dilakukan balasan serupa pada agama Islam. Dalam al-Qur’an dinyatakan:

﴿وَلَا ‌تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖۗ﴾ 

Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. (QS. Al-An’am: 108)

Sebagai wujud perlindungan terhadap agama dan juga simbol agama semisal rumah ibadah, Islam juga mengizinkan pemberian sanksi tegas terhadap orang-orang zalim yang merusak hal tersebut sehingga menyebabkan instabilitas negara. Keberadaan pihak penegak hukum yang mencegah hal tersebut dilakukan oleh pihak lain adalah sebuah keniscayaan. Dalam al-Qur’an disebutkan:

﴿وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّهُدِّمَتۡ ‌صَوَٰمِعُ وَبِيَعٞ وَصَلَوَٰتٞ وَمَسَٰجِدُ يُذۡكَرُ فِيهَا ٱسۡمُ ٱللَّهِ كَثِيرٗاۗ وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾

Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. (QS. Al-Hajj: 40)

Mengomentari ayat tersebut, Imam at-Thabari dalam tafsirnya berkata:

لولا دفاعه الناس بعضهم ببعض لهُدم ما ذكر من دفعه تعالى ذكره بعضهم ببعض وكفِّه المشركين بالمسلمين عن ذلك; ومنه كفه ببعضهم التظالم كالسلطان الذي كفّ به رعيته عن التظالم بينهم

Seandainya tanpa perlindungan Allah terhadap sebagian masyarakat dengan sebagian yang lain, maka akan dirobohkan tempat ibadah yang disebutkan itu dengan penolakan Allah terhadap keganasan sebagian pihak dengan menggunakan pihak lain dan pencegahan Allah terhadap kaum musyrik dari upaya tersebut dengan menggunakan kaum muslimin. Dari ayat itu juga ada pencegahan Allah dengan menggunakan sebagian pihak terhadap aksi kezaliman pihak lain, seperti halnya seorang sultan (negara) yang mencegah rakyatnya saling menzalimi satu sama lain.

Sebab itu negara perlu hadir dalam memberikan perlindungan terhadap agama agar tidak terjadi kekacauan dalam masyarakat karena meninggalkan norma-norma agama. Sebaliknya, agama juga merupakan pondasi tegaknya kemakmuran negara. Dalam konteks ini Imam Mawardi berkata:

إن الدين والملك توأمان لا قوام لأحدهما إلا بصاحبه لإن الدين أس والملك حارس ولا بد للملك من أسه ولا بد للأس من حارسه لأن ما لا حارس له ضائع وما لا أس له منهدم

Agama dan pemerintahan adalah dua anak kembar. Salah satunya tidak dapat berdiri kecuali dengan bantuan yang lain sebab agama adalah pondasi, pemerintahan adalah penjaganya. Pemerintahan harus ada pondasinya dan pondasi harus ada yang menjaganya. Sesuatu yang tidak dijaga akan hilang, dan yang tidak berpondasi akan roboh.

Upaya perlindungan agama dari segala bentuk penodaan ini juga tidak dapat diartikan sebagai upaya untuk mengekang kebebasan beragama seseorang sebab Islam juga mengakui eksistensi agama lain. Karena beragama merupakan kegiatan batin yang terkait dengan keyakinan yang sangat personal, maka al-Qur’an meniadakan kemungkinan pemaksaan terhadap seseorang untuk memasuki suatu agama. Dalam al-Qur’an disebutkan:

﴿لَآ ‌إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ﴾ 

Tiada pemaksaan dalam [memasuki] agama [Islam]. Sesungguhnya telah jelas [perbedaan] antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. (QS. Al-Baqarah: 256)

Dalam ayat lainnya dijelaskan bahwa posisi Nabi Muhammad SAW bukanlah sebagai seorang pemaksa, tetapi seorang penyampai risalah yang memberikan peringatan. Allah berfirman:

﴿فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَكِّرٞ ٢١ لَّسۡتَ عَلَيۡهِم ‌بِمُصَيۡطِرٍ ٢٢﴾ 

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (QS. Al-Ghasyiyah: 21-22)

﴿وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم ‌بِجَبَّارٖۖ﴾ 

dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka (QS. Qaf: 45)

Dengan demikian perlu dibedakan antara memberi kebebasan untuk menganut suatu agama dengan tindakan menodai suatu agama. Islam mengakui bahwa sebuah keyakinan tidak dapat dipaksakan kepada orang lain akan tetapi bukan berarti seseorang boleh melakukan penghinaan atau penodaan terhadap agama orang lain. Keduanya adalah dua pasal yang berbeda yang tidak dapat dibenturkan satu sama lain.

Sumber : Petikan Dokumen Arsip Hasil Keputusan Bahtsul Masail Syuriyah PWNU Jawa Timur, Surabaya 24 Oktober 2021

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: