elsamsi log

Menu

<strong data-src=

Makna Konflik Kemitraan dalam Islam 

Di dalam Islam, apabila setiap rukun kemitraan tidak berjalan sesuai dengan aturan yang telah digariskan oleh syara’, maka di situlah kemitraan itu memiliki potensi konflik. Untuk mengenal berbagai potensi ini, maka di dalam Islam berlaku beberapa istilah yang sering digunakan, yaitu: Sah (shahih), Batal (bathil), Fasad (fasid). 

Suatu kemitraan dipandang sebagai shahih, apabila memenuhi kriteria syarat dan rukunnya kemitraan. 

المهذب في علم أصول الفقه المقارن ١/‏٤١٤ — عبد الكريم النملة (معاصر)

الصحيح هو؛ ما كان مشروعا بأصله ووصفه جميعًا، أي: ما استجمع أركانه وشروطه، بحيمسا يكون معتبرًا شرعًا كالبيع الصحيح 

“Shahih itu adalah secara syara’ sesuatu itu memenuhi kaidah landasan dan karakteristiknya sekaligus. Atau dengan kata lain shahih itu adalah sesuatu yang terkumpul antara rukun dan syaratnya sekaligus sehingga terbilang mu’tabar secara syara’. Contoh jual beli yang shahih.”

المهذب في علم أصول الفقه المقارن ١/‏٤١٤ — عبد الكريم النملة (معاصر)

والباطل هو: ما لم يكن مشروعًا بأصله، ولا بوصفه. أي: ما كان فائت المعنى من كل وجه مع وجود الصورة، وذلك إما لانعدام معنى التصرف كبيع الدم والميتة، وإما لانعدام أهلية التصرف كما في بيع الصبي والمجنون. 

“Batal meruupakan suatu istilah ketiadaan tertuang dalam syara’ baik sebagai dalil asal, maupun karakteristikya. Dengan kata lain, batal itu adalah sesuatu yang kehilangan makna dari berbagai aspek bersama adanya gambaran. Biasanya hal ini terjadi karena ketiadaan memenuhi makna tasharruf, misalnya jual beli darah, bangka. Adakalanya disebabkan karena ketiadaan kewenangan melakukan tasharruf (ahli tasharruf), sebagaimana hal ini terjadi pada jualbelinya anak kecil dan orang gila.”

المهذب في علم أصول الفقه المقارن ١/‏٤١٤ — عبد الكريم النملة (معاصر)

والفاسد: ما كان مشروعًا بأصله غير مشروع بوصفه كبيع الدرهم بالدرهمين، فإنه مشروع بأصله من حيث إنه بيع ولا خلل في ركنه، ولا في محله، ولكنه غير مشروع بوصفه، وهو: الفضل؛ لأنه زيادة في غير مقابل، فكان فاسدًا، لا باطلًا، لملازمته للزيادة وهي غير مشروعة، ولكن لو حذفت تلك الزيادة لصح البيع ولم يحتج إلى عقد جديد.

“Adapun fasid adalah segala praktik yang secara landasannya tertuang di dalam syara’, namun tidak dalam sisi karakteristiknya, misalnya tukar menukar 1 dirham dengan 2 dirham. Praktik ini sejatinya masyru’ dari sisi dalil asalnya dan dipandang sebagai akad bai’, serta tidak ada cacat dari sisi rukun akadnya dan demikian juga dengan tujuan akhirnya. Akan tetapi, praktik tersebut tidak masyru’ dari sisi karakteristiknya, yakni sebab adanya kelebihan. Kelebihan itu bermakna tambahan sehingga tidak setimbang. Oleh karena itu dipandang sebagai fasid, dan bukan bathal karena faktor keterpenuhan adanya ziyadah (tambahan) tersebut sebagai yang tidak masyru’. Andaikata ziyadahnya tersebut dibuang, maka akadnya menjadi sah berlaku sebagai jual beli, sehingga tidak butuh pada introduksi akad baru.”

Alhasil, terjadinya konflik pada suatu akad kemitraan, secara syara’, adalah dapat dimaknai sebagai tidak berjalannya mekanisme kemitraan tersebut sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing pihak yang terlibat (rukun kemitraan) dalam melakukan usaha dan kerja bersama dalam mencapai keuntungan yang bisa dibagi bersama.

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: