elsamsi log

Menu

Manajemen Risiko Transaksi Online dalam Islam

Manajemen Risiko Transaksi Online dalam Islam

Marketplace (el-samsi.com)

Dengan dipraktikkannya transaksi online dewasa ini, setidaknya telah menimbulkan banyak masalah. Dan masalah itu sudah pasti, sedikit atau banyak telah menimbulkan kerugian (dlarar) pada sejumlah pihak. Adakalanya terhadap pembeli, dan tidak jarang pula terjadi pada penjual. Sebuah risiko dari melakukan transaksi akad salam. 

Sebagaimana telah kita ketahui  bersama, bahwa di dalam akad salam, tersimpan akad yang sejatinya ada unsur gharar-nya (unsur spekulatifnya). Hanya saja, unsur spekulatifnya ini bisa direduksi dengan menerapkan adanya khiyar (opsi melanjutkan atau membatalkan akad) setelah barang itu diterima oleh pembeli. Dengan khiyar, puncak utama tujuan jual beli, yaitu terbitnya rasa saling ridla di antara penjual dan pembeli bisa dicapai. 

Namun, bagaimana dengan marketplace? Bukankah marketplace merupakan pihak yang menjadi wadah bagi terjadinya akad salam berbasis online, yang sedikit banyak ada unsur gharar-nya tersebut? Adanya gharar menandakan adanya kerugian. Berapapun intensitas kerugian itu terjadi. Dan setiap ada dlarar, secara tidak langsung menuntut harusnya melakukan pembayaran ganti rugi (dlaman). 

Dlarar yang terjadi akibat bisnis yang dilakukan oleh marketplace ini, secara umum sudah pernah penulis petakan dalam tulisan terdahulu yang bisa dirujuk pada link ini (Kedudukan Marketplace dalam Fiqih Jual Beli Online (nu.or.id)). Anda bisa merujuk ke link yang penulis maksud. Dan satu penekanan yang harus kita sampaikan mengapa kupasan ini penting, tidak lain adalah karena marketplace merupakan pihak yang diuntungkan dari adanya transaksi di situs yang dikelolanya. 

Alhasil, akumulasi dlarar-dlarar yang terjadi, juga menuntut tanggung jawab ganti ruginya oleh marketplace selaku pihak pengelola. Biasanya, untuk sebuah perusahaan, ganti rugi itu disampaikan lewat penyampaian CSR (Corporate Social Responsibility) (Fiqih Bencana: CSR sebagai Tanggung Jawab Sosial Perbankan (nu.or.id)). 

Nah, fokus kajian kita sekarang, adalah mengupas mengenai tanggung-jawab sosial (social responsibility) yang harus dilakukan oleh marketplace terkait dengan kerugian yang ditimbulkan akibat akad jual beli yang melewati jasanya (dlaman fi ’aqdi al-bai’).

Tanggung Jawab Kerugian yang ditimbulkan Akibat Transaksi Lewat Marketplace

Ada dua hal yang menuntut tanggung jawab marketplace sehubungan dengan terjadinya transaksi jual beli melalui situs belanja yang dikelolanya, antara lain: 

  1. berkaitan dengan penyerahan barang (dlaman tasllim al-mabi’), dan 
  2. tanggung jawab yang berkaitan dengan keselamatan barang yang dipesan (dlaman salamati al-mabi’). 

Kedua hal ini saling berkaitan satu sama lain sebab bagaimanapun juga, adanya transaksi jual beli, meniscayakan adanya keterjaminan, antara lain: 

  1. Kelancaran dalam melakukan perpindahan hak kepemilikan barang (dlaman al-’ain)
  2. Kelancaran dalam melakukan pekerjaan pengiriman (dlaman al-fi’li), dan 
  3. Kelancaran dalam melakukan pembayaran transaksi (dlaman al-dain). 

Pertama, tanggung jawab berkaitan dengan Penyerahan Barang (taslim al-mabi’). 

Salah satu resiko dari akad jual beli adalah adanya penyerahan harga dan barang. Bagaimanapun juga, penyerahan barang hanya bisa terjadi manakala pihak pembeli telah “menerima barang” yang dipesannya. 

Dalam konteks Madzhab Syafii, batasan suatu barang disebut telah diserahkan, manakala penerimaan barang itu melibatkan unsur penerimaan dengan “perbuatan menerima” (qabdlu bi al-fi’li). Maka dari itu, sebelum barang yang dibeli, sebagai yang dinyatakani diterima oleh pembeli secara riel (bi al-fi’li), maka barang itu masih merupakan tanggung jawab dari penjual dan sekaligus marketplace. 

Dan apabila terjadi kerusakan pada barang yang dibeli, sebelum terjadinya penerimaan oleh pembeli, maka barang itu masih menjadi tanggung jawab dari pelapak yang ada di marketplace. Alhasil, tanggung jawab marketplace adalah harus bisa menyediakan  sarana untuk menuntut tanggung jawab penjual tersebut sehingga tidak terjadi hal yang merugikan pembeli. 

Tanggung jawab tersebut, sudah pasti harus berkaitan dengan dua hal, yaitu: 

  1. Terjadinya sarana yang bisa menjamin bagi berlangsungnya pembatalan akad, dan 
  2. Kembalinya uang konsumen marketplace yang sudah ditransfer ke rekening bersama

Dalam praktiknya, kedua hal di atas memang bisa dilakukan melalui banyak bentuk, seperti menyediakan fitur pembatalan, fitur penyimpan saldo deposit, sarana mengontak Customer Service, dan sejenisnya. 

Hal yang sama dengan penyerahan barang di atas, adalah penyerahan harga (taslim al-tsaman). Tanggung jawab marketplace dalam konteks ini adalah menjamin hak seorang pedagang dari menerima harga sesuai dengan yang dipasang pada lapaknya. Untuk itu kemudian ada Rekening Bersama (Rekber). 

Beberapa risiko ketika mengadakan Rekening Bersama ini adalah: 

  1. Adanya harga yang harus distor terlebih dulu oleh pembeli kepada marketplace ketika terjadi checkout barang, sehingga tidak langsung ke penjual. 
  2. Pencairan harga ke penjual, setelah dipastikan bahwa barang sampai ke pembeli dengan selamat tanpa adanya klaim cacat atau kerusakan sehingga harus meretur barang. 

Kedua, tanggung jawab keselamatan berkaitan dengan Barang yang dipesan

Maksud dari keselamatan barang yang dipesan ini ada banyak sekali bentuknya. Secara fikih, maksud dari selamat ini adalah salamatu al-mabi’ mina al-’uyub (kondisi barang yang bebas cacat). Karena untuk mendapatkan barang itu harus didahului lewat promo pada lapak, maka secara tidak langsung, beberapa hal yang musti diperhatikan bagi marketplace, adalah: 

  1. Bahwa barang yang dijualbelikan itu adalah milik sendiri dari pelapak. Ini khususnya bagi pelapak yang berperan selaku reseller. Apabila pelapak berperan selaku dropshipper, maka musti ada mekanisme perijinan langsung dari pedagang reseller aslinya. Semua ini membutuhkan adanya sistem yang bisa menghubungkan antara kedua pihak tersebut, sehingga tidak terjadi gharar (spekulatif) yang kedua dari pembeli.
  2. Barang yang diperjualbelikan musti diberikan fasilitas deskripsi barang, kondisi barang, dan bila ada garansi (dlaman al-ain), maka wajib disertakan sarana mengajukan klaim. 
  3. Yang terpenting lagi adalah bekaitan dengan harga. Secara fikih, syarat dari keberadaan barang yang dijualbelika sah, adalah harganya harus bersifat maklum
  4. Larangan menjualbelikan barang yang bersifat spekulatif. Contoh dari prakik ini adalah jual beli mistery box dan hape secara untung-untungan. 
  5. Larangan juga berlaku pada menjualbelikan  barang yang dilarang dalam syara’, seperti minuman keras, obat-obatan terlarang, atau hasil curian atau hasil tadahan. 

Kedua poin terakhir ini, sebenarnya masuk dalam  wilayah dlaman al-ain, yang kelak perlu kita kupas secara terpisah,  disebabkan karena luasnya cakupan bahasan. 

Alhasil, tanggung jawab marketplace selaku pihak yang  berperan sebagai penannggungjawab secara umum terjadinya transaksi online di lapaknya adalah dipetakan menjadi 2, yaitu: dlaman fi taslimi al-mabi’ dan dlaman fi salamat al-mabi’. Penulis di atas hanya sekilas menyampaikan secara umum. Kajian lebih detail, kiranya memerlukan telaah lebih lanjut. Wallahu a’lam bi al-shawab..

Muhammad Syamsudin (Direktur eL-Samsi)
Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: