elsamsi log

Menu

Marketcap dalam Bingkai Fikih

Marketcap dalam Bingkai Fikih

Marketcap atau juga sering disebut sebagai kapitalisasi pasar merupakan istilah yang cukup sering digunakan dalam dunia keuangan. Jika istilah ini dikaitkan dengan sebuah perusahaan maka yang dimaksud marketcap adalah total nilai saham perusahaan yang beredar di masyarakat. Itu sebabnya, marketcap memiliki rumus hitungan sebagai harga dikali total jumlah saham. 

Sebagai total nilai sebuah perusahaan yang diwakili oleh saham yang beredar, maka marketcap sangat berbeda dengan total aset sebuah perusahaan. Nilai aset perusahaan, bisa jadi jumlahnya jauh lebih kecil dibanding dengan total nilai perusahaan. Jadi, ada 2 istilah yang sangat penting dalam hal ini yang masing-masing harus bisa kita bedakan.  

Dalam dunia investasi, para investor cenderung memperhatikan total nilai perusahaan dibanding total nilai aset perusahaan. Apa sebab? 

Di dalam “nilai perusahaan”, tercermin pertumbuhan dan keberhasilan perusahaan dalam menguasai pasar. Cerminan itu bisa diketahui dari “harga” per lembar saham yang dimilikinya. 

Berdasarkan teori supply and demand, tingginya harga menandakan adanya banyak penawaran (demand) di tengah kondisi supply saham beredar yang rendah dan terbatas. Atau sebaliknya, rendahnya harga saham, menandakan sedikitnya penawaran di tengah kondisi supply komoditas saham yang beredar itu membludak di tengah masyarakat. 

Ketika harga sebuah saham itu berlangsung tinggi (inflasi), menandakan bahwa perilaku pemegang saham (stakeholder) adalah condong pada upaya menyimpan saham itu sendiri dan dijadikan sebagai bagian dari investasi. Sebaliknya, ketika harga sebuah saham itu berlangsung rendah (deflasi), menandakan bahhwa perilaku para pemegang saham (stakeholder) cenderung kepada menawarkan saham dan segera menukarkannya menjadi bentuk lain. 

Itulah sebabnya, pada tulisan terdahulu disamapaikan bahwa di dalam kapitalisasii pasar (marketcap), ada perilaku yang tercermin di dalamnya dari masyarakat pemegangnya atau pemburunya. Perilaku itu berkaitan dengan menahan, menyimpan atau membelanjakan aset yang sedang dikuasainya. 

Marketcap Cryptocurrency yang Tinggi

Sebut misalnya bahwa nilai perusahaan adalah nilai intrinsik dari sebuah cryptocurrency, dan nilai aset adalah nilai ekstrinsik dari cryptocurrency! Maka dalam hal ini juga berlaku, bahwa nilai intrinsik sebuah cryptocurrency dalam sebuah blockchain, adakalanya memiliki nilai yang lebih tinggi dari nilai ekstrinsik yang dimilikinya, yang terdiri atas aset cryptography di blockchain itu sendiri. 

Sebab, bila nilai esktrinsik lebih tinggi dari nilai intrinsik, maka kecenderungan dari para pemegang cryptocurrency itu akan berusaha melebur bahan penyusun crypto untuk tidak dijual sebagai nilai intrinsik. Ibarat nilai ekstrinsiknya terdiri atas emas, dengan kadar dan bobot yang lebih besar dari nilai intrinsik yang tercantum misalnya 1 dinar, maka kecenderungan pemegang coin emas 1 dinar itu akan berusaha melebur bahan coin untuk dirupakan menjadi produk emas saja, dan tidak menjadi produk dinar. Ini tandanya ada penolakan coin. 

Lain halnya, bila nilai intrinsik dari sebuah coiin itu lebih tinggi dari nilai bahannya, maka kecenderungan dari pemegang coin itu akan membiarkan produk coinnya itu tetap dalam wujud coin, dan tidak diilebur. Hal semacam ini berlaku juga bagi cryptocurrency di rantai blok yang dimilikinya. 

Kita ambil contoh, misalnya Bitcoin (BTC). Marketcap BTC terbilang cukup tinggi. Hari ini, marketcap BTC bernilai $1,083,283,199,198 dengan harga per BTC sebesar $57,593,25 di tengah coin yang beredar sebanyak 18,809,204.1897 coin. Harga ini penulis rekam dari aktifitas perkembangan marketcap di situs Cryptocurrency Prices, Charts And Market Capitalizations | CoinMarketCap

Ini artinya, bahwa masyarakat pengguna BTC cenderung menahan coin tersebut sebagai instrumen investasi disebabkan karena harganya yang terus mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. Sementara itu, di sisi lain permintaan akan keberadaan BTC untuk dijadikan instrumen investasi berlangsung tinggi. 

Bagaimana kita bisa mengetahui semua cerminan ini? Jawabnya, sudah barang tentu dengan cukup mengamati pergerakan marketcap BTC di blockchainnya. Sebab, di dalam marketcap, tercermin adanya harga. Dan harga, merupakan refleksi dari perilaku di sekeliling BTC itu sendiri, mencakup pemegangnya, dan sejenisnya. 

Adanya harga mencerminkan refleksi perilaku konsumen, ini pernah disampaikan oleh Imamuna al-Ghazali rahimahullah, sebagai berikut:

وكل من عامل معاملة الربا على الدرهم والدنانير فقد كفر النعمة وظلم لأنهما خلقا لغيرهما لالنفسهما إذ لاغرض في عينهما فإذا اتجر في عينهما فقد اتخذهما مقصودا على خلاف وضع الحكمة إذ طلب النقود لغير ما وضع له ظلم وكموقع المرآة من الألوان فأما من معه نقد فلو جاز له أن يبيعه بالنقد فيتخذ التعامل على النقد غاية عمله فيبقى النقد مقيدا عنده وينزل منزلة المكنوز

“Setiap orang yang melakukan praktik pertukaran dinar dan dirham dengan jalan riba, maka sesungguhnya ia telah kufur nikmat dan telah berbuat dhalim. Sebab, dinar-dirham diciptakan adalah untuk wasilah pertukaran tidak sejenis dan bukan untuk sejenis disertai tambahan (ex: sama-sama dinar dan dirhamnya). Keduanya juga tidak diciptakan untuk tujuan ‘ain-nya (harga bahannya). Apabila keduanya berubah diperdagangkan berdasar atas fisik bahannya, maka perilaku ini sama saja dengan telah menempatkan dinar dan dirham itu bertentangan dengan hikmah fungsi ia diciptakan. Mencari keuntungan berupa tambahan dinar dan dirham lain, dengan mengabaikan peran asal koin dinar dan dinar itu diciptakan, adalah sebuah tindakan kedhaliman. Sebagaimana layaknya sebuah cermin yang berfungsi mencerminkan beragam alwan (perilaku yang melingkupinya), [maka demikianlah fungsi dinar dan dirham]. Oleh karena itu, barang siapa di tangannya ada dinar dan dirham, kemudian ia menukarkannya dengan dinar dan dirham yang serupa, lalu secara terus menerus menekuni bisnis pertukaran itu, maka tindakan semacam ini adalah sama artinya dengan membiarkan fungsi dinar dirham itu menjadi terhenti di situ, dan menempati maqam yang tersimpan (tidak terdistribusikan sebagaimana mestinya untuk menyatakan harga barang).” [Al-Ghazali, Ihyâ Ulûm al-Dîn, Juz 4, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.: 94]

Marketcap Cryptocurrency yang Rendah

Contoh dari marketcap yang rendah dari sebuah cryptocurrency adalah Vidycoin dan EDC. Kita ambil contoh EDC Blockchain, yang hari ini memiliki marketcap sebesar $1,642,166.90. Harga per coin sebesar $0.03408, atau setara Rp 494,16 per coin. Berangkat dari sini, maka jumlah total coin yang beredar diketahui sebesar 48,185,648.4742 buah coin. Angka ini bukan merupakan angka yang kecil. Bandingkan dengan BTC yang hanya mencapai kisaran 18 juta coin yang beredar! Hampir 3 kali lipatnya. 

Angka-angka ini, secara tidak langsung menunjukkan sinyalemen pasar, bahwa penerimaan EDC adalah rendah. Adapun perilaku pemegang EDC, tercermin sebagai yang cenderung menukarkannya ke bentuk mata uang crypto lain dan tidak mahu menahan EDC itu sendiri sebagai instrumen investasi. 

Penyebabnya, bisa jadi karena nilai tukarnya yang rendah sehingga mudah sekali mengambil keputusan  untuk melepaskan. Di sisi lain, jumlah penawaran yang terbilang kecil, dibanding supply coin yang ada. 

Kesimpulan

Alhasil, marketcap, yang dirumuskan sebagai harga dikalikan jumlah coin yang beredar adalah bukan merupakan angka yang mati dan tidak memiiliki arti. Harga merupakan cerminan dari adanya aktifitas permintaan dan penawaran. Permintaan dan penawaran merupakan cerminan dari kemahuan masyarakat untuk menyimpan dan menahan. Sebagai apa? Sudah barang tentu sebagai instrumen investasi dan sebagai coin. Bukankah cryptocurrency itu diciptakan sebagai coin digital!? Fafham! Mengetahui marketcap adalah sama saja dengan mengetahui indikasi dibalik terbentuknya kapitalisasi pasar, sebagaimana kurs rupiah terhadap dolar yang mencerminkan indikasi daya tawar dan daya dukung dari masing-masing currency. Kata kuncinya ada di harga dan pasar. Wallahu a’lam bi al-shawab. 

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: