elsamsi log

Menu

Menguak Perilaku Najasy Bandar di Pasar Modal

Menguak Perilaku Najasy Bandar di Pasar Modal

Pasar Modal merupakan tempat atau wadah bertemunya investor dengan perusahaan untuk melakukan kerjasama investasi menanam modal. Instrumen yang dipergunakan adalah berupa efek yang terdiri dari saham, obligasi dan sukuk. 

Karena proses penawaran saham, obligasi dan sukuk dilakukan dengan jalan sistem lelang (muzayadah atau munaqashahi), sementara jumlah masing-masiing efek tersebut adalah bersifat terbatas, maka harga akuisisinya dapat berlangsung naik dan turun tergantung pada mekanisme pasar di pasar sekunder. 

Kalau banyak yang menawar, maka harga merangkak naik. Kalau sedikit yang menawar, maka harga berangsur turun. Itulah ciri dasar dari mekanisme pasar tersebut.

Karena jumlah efek itu terbatas, maka pihak fund manager dapat dengan mudah untuk memodifikasinya. Pemodifikasian ini disebut dengan istilah “menggoreng saham.”

Proses menggoreng saham ini adalah berjalan legal secara hukum positif, namun sebenarnya illegal secara syara’ dan merupakan praktik yang dilarang oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam karena memiliki keserupaan dengan bai’ najasy atau bai’ hadlir li al-baad.

Bagaimana proses menggoreng saham itu terjadi? Berikut ini adalah cara kerjanya. 

Bayangkan bahwa ada sebuah perusahaan ingin menerbitkan saham dan menawarkannya kepada publik (Initial Public Offering). Untuk itu pemilik perusahaan perlu menghubungi seorang akuntan publik untuk menghitung valuasi dari aset perusahaannya. 

Selanjutnya setelah dilakukan kalkulasi equitas yang dimiliki perusahaan, akuntan ini kemudian menanyakan, berapa dana yang ingin didapatkan oleh perusahaan dari hasiil penawaran itu? Berapa yang ingin di-IPO-kan? 

Ambil contoh, bahwa equitas (kekayaan) perusahaan adalah 1 juta USD. Perusahaan ingin menerbitkan 10 ribu lembar saham. Alhasil, 1 lembar saham adalah setara dengan 100 USD. 

Dari 10 ribu lembar saham, 80% dipasarkan di Pasar Perdana (8000 lembar). Sisanya 20% (2000 lembar) ditawarkan ke public di pasar sekunder melalui sistem lelang. 

Dari penawaran saham di pasar perdana, perusahaan bisa mendapatkan dana sebesar 800 ribu USD secara pasti, sebab pasar perdana memiliki ciri saham dijual sesuai dengan nilai emisi. Kalau nilai emisinya adalah 100 USD, maka dari 8000 lembar saham, terkumpul 800 ribu USD. 

Lantas, bagaimana dengan saham di pasar sekunder?
Di Pasar Sekunder, saham bisa dijual dengan harga lebih besar atau lebih kecil dari nilai emisi melalui sistem lelang. Harga saham dipengaruhi oleh banyak atau sediikitnya penawaran. 

Jika yang beredar di Pasar Sekunder adalah berjumlah 2000 lembar saham, maka seorang fund manager dapat melakukan engineering terhadap saham ini. Caranya gampang sekali. 

Pertama, ia menciptakan issue positif informasi tentang perusahaan, bahwa pertama kalinya listing di pasar modal, sahamnya telah diburu investor. Ia akuisisi separuh sahamnya (1000 lembar). Alhasil, grafik sinyal trading sudah mulai merangkak naik. Ini dilakukan di hari pertama listing. 

Hari kedua, ia akuisisi lagi sebesar 50 atau 100, sehingga berpengaruh lagi terhadap grafik chandelstick. Grafiknya naik lagi. 

Naiknya grafik, menandakan harga saham menjadi naik. Investor yang baru pertama kali melihat, akan langsung berspekulasi, bahwa telah ada transaksi di saham itu. Akhirnya dia masuk dengan memborong 1 lot (100 lembar saham). Grafik menjadi naik lagi, dengan harga yang sudah barang pasti juga naik. Tidak lagi 100 USD, melainkan bisa 111 USD, atau 200 USD. Udah dua kali lipat dari harga listing awalnya 100 USD. 

Hari ke-3, karena sudah mulai banyak investor yang masuk di saat harga saham sudah mulai naik menjadi 200 USD, pihak fund manager mulai melepaskan saham yang ia miliki kembali dengan harga 200 USD. Sebut misalnya, ia melepaskan 1000 lembar saham. Alhasil, dana yang berhasil dikumpulkan oleh fund manager sudah setara dengan 2000 lembar saham dengan nilai emisi 100 USD/lembar. Harga, sudah barang tentu lebih tinggi dari 200 USD sebab grafik terus menaik.

Hari ke-4, semakin banyak investor yang merapat. Pihak fund manager bisa melakukan cek pasar. Dari sisa 1000 lembar saham yang ia miliki, ia lepaskan semua ke pasar dengan harga kemarin, misalnya 400 USD/lembar. Alhasil, dari 1000 lembar saham yang sudah terjual itu, fund manager mendapatkan untung setara dengan 3000 lembar saham dengan emisi 100 USD. 

Total keuntungan dari penjualan 2000 lembar saham di pasar sekunder menjadi 400.000 USD dibanding jika ditawarkan di pasar perdana saja. 

Hari ke-5, karena saham sudah lepas semua ke publik, maka transaksi sepenuhnya berlangsung antar trader. Saham berpindah dari trader ke trader karena maksud gain capital semata berbekal selisih harga jual dan harga beli. Alhasil, grafik sinyal trading tidak akan menunjukkan lonjakan secara signifikan atau penurunan signifikan.

Lama-lama, fluktuasi harga saham akan berlangsug jenuh, dan saat itu harga saham akan berlangsung turun secara perlahan (bearish) sampai titik mati suri. Harganya menjadi jatuh, dan bahkan bisa jadi hanya per lembar saham akan menjadi tinggal 10 USD. Di saat itulah, maka perusahaan lewat aksi fund manager bergerak mengakuisisi seluruh saham yang ada. 2000 lembar saham diakuisisi dengan harga 20 ribu USD. 

Penting untuk dicatat, bahwa ketika perusahaan itu telah berhasil mengakuisisi seluruh saham yang ada dengan harga semurah itu, maka itu artinya perusahaan tidak lagi punya kewajiban berbagi deviden ke investor. 

Perusahaan sepenuhnya menjadi hak milik pengusaha. Jadi, kebutuhan dana pinjaman yang seharusnya adalah 200.000 USD, menjadi bukan lagi diperoleh dari pinjaman, melainkan diperoleh dari engineeringisasi efek. Mekanisme engineeringisasi inilah yang disebut dengan istilah bai’ hadlir li al-baad. Tindakan fund manager dalam menggoreng saham tadii disebut denga istilah bai’ najasy, tak ubahnya peran bandar judi.

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: