el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Menjualbelikan Bandwidth Internet yang dilarang Telkom

Pertanyaan

Assalamu’alaikum wr wb.

Begini ustadz.. Sy kan usaha Wifi Voceran dan sumber internet saya adalah Telkom.. Gambarannya bgini ustadz: “Saya membeli kuota di Telkom dengan harga 700 ribu. Setelah itu saya siapkan semua alat-alat dan kebutuhan untuk bisa dijual kembali secara ecer ke warga. Problemnya.. Ketika saya daftar untuk berlangganan ke telkom – sumber utama internet saya agar bisa di jual kembali – setelah terpasang nanti akan ada email yang masuk yang menyatakan bahwa salah satu syarat dan ketentuan berlangganan adalah tidak boleh menjual kembali kuota/bandwidth internet tersebut. Syarat dan ketentuan ini harus kita tandatangani, baru setelah itu bisa keluar nomor pembayaran dan internetnya sehingga bisa di pakai.

Pertanyaannya: bagaimana hukum kita menjual kembli bandwidth internet tersebut sementara ada syarat yang tidak membolehkan untuk dijual kembali?

Baca Juga: Check in di Aplikasi Shopee untuk mendapatkan Poin

Jawaban

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

Saudara penanya, perlu diketahui bahwa akad yang berlaku dalam pembelian kuota data / bandwidth internet itu adalah akad sewa menyewa (ijarah) dan bukan akad jual beli (bai’). Apa buktinya?

Perlu diketahui bahwa tujuan dasar (qashd al-a’dham) dari akad jual beli, adalah kepemilikan selamanya. Anda membeli rumah, maka rumah itu adalah sah dan merupakan hak milik anda yang berlaku selamanya, selagi tidak anda jual, hibahkan, atau diwaris.

Baca Juga: Metaverse dan Aset Metaverse

Sementara itu, dalam akad ijarah, tujuan dasar dari akad ini adalah “kepemilikan sementara” yang dibatasi oleh waktu (muddah) dan kinerja (amal). Yang berhak dimiliki penyewa adalah jasanya barang, jasanya orang atau jasanya bandwidth yang ditawarkan oleh Telkom. Alhasil, hak milik pengguna adalah manfaatnya bandwidth. Sementara itu, hak milik provider (Telkom) adalah bandwidth itu sendiri.

فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب = القول المختار في شرح غاية الاختصار ١/‏١٦٣ — محمد بن قاسم الغزي (ت ٩١٨)

والبَيعُ لغةً  مُقابلةُ شيءٍ بشيء، فدخل ما ليس بمال كخمر؛ وأما شرعا فأحسن ما قيل في تعريفه: أنه تمليك عين مالية بمعاوضة بإذن شرعي، أو تمليك منفعة مباحة على التأبيد بثمن مالي

فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب = القول المختار في شرح غاية الاختصار ١/‏١٩٨ — محمد بن قاسم الغزي (ت ٩١٨)

الإِجارة. ……شرعًا عقدٌ على منفعة معلومة مقصودة قابلة للبذل والإباحة بعوض معلوم.

Berangkat dari akar pemikiran ini, maka dapat dipahami bahwa pihak Telkom berhak atas syarat dan ketentuan penggunaan bandwidth yang menjadi obyek sewanya. Hal ini bisa diqiyaskan dengan menyewakan mobil pribadi, maka pihak pemilik kendaraan boleh membatasi penggunaan mobil tersebut ke penyewanya. Misalnya, mobil pribadi itu tidak boleh digunakan untuk mengangkut material bangunan dan hanya bisa digunakan untuk mengangkut orang sebagaimana layaknya mobil pribadi. Siapapun bisa diijinkan oleh penyewa, selama tidak menyalahi manfaat barangnya selaku mobil pribadi.

فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب = القول المختار في شرح غاية الاختصار ١/‏١٩٨ — محمد بن قاسم الغزي (ت ٩١٨)

وذكر المصنف ضابطَ ما تصح إجارته بقوله: (وكل ما أمكن الانتفاع به مع بقاء عينه) كاستئجار دار للسكنى، ودابة للركوب (صحت إجارتُه)، وإلا فلا. ولصحة إجارة ما ذكر شروط، ذكرها بقوله: (إذا قُدِّرَت منفعته بأحد أمرين): إما (بمدة)، كآجرتك هذه الدار سَنةً (أو عمل) كاستأجرتك لتخيط لي هذا الثوب

Baca Juga: Perlindungan Konsumen e-Commerce dalam UU Perdagangan

Status Barang Sewaan di Tangan Penyewa

Barang sewaan di tangan penyewa adalah berstatus sebagai barang amanah. Pihak penyewa hanya berhak atas manfaat barangnya saja. Demikian halnya dengan bandwidth internet, status bandwidth Wifi di tangan penyewanya adalah berstatus selaku entitas barang amanah. Islam telah menegaskan larangan mengkhianati amanah. Oleh karena itu, penyewa memiliki kewajiban menggunakannya sesuai dengan amanah pemilik obyek sewa sehingga tidak boleh menjualbelikannya atau menyewakan kembali kepada orang lain.

فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب = القول المختار في شرح غاية الاختصار ١/‏١٩٨ — محمد بن قاسم الغزي (ت ٩١٨)

واعلم أن يد الأجير على العين المؤجرة يدُ أمانة، (و) حينئذ (لا ضمان على الأجير إلا بعدوان) فيها، كأن ضرب الدابة فوق العادة، أو أركبها شخصا أثقل منه

كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار ١/‏٢٩٧ — تقي الدين الحصني (ت ٨٢٩)

وَاعْلَم أَن الْمرجع فِي الْعدوان إِلَى الْعرف فَلَو ربط الدَّابَّة فِي الإسطبل فَمَاتَتْ لم يضمن وَإِن انْهَدم عَلَيْهَا فَمَاتَتْ أطلق الْغَزالِيّ النَّقْل عَن الْأَصْحَاب أَنه يضمن وَقَالَ غَيره إِن انْهَدم فِي وَقت لَا يعْهَد أَن يكون فِيهِ الِانْتِفَاع كالليل فِي الشتَاء والمطر الشَّديد فِي النَّهَار فَلَا ضَمَان وَإِلَّا ضمن وَجزم بِهَذَا التَّفْصِيل فِي الرَّوْضَة وَفِي الْمِنْهَاج وَلَو ربط دَابَّة أكتراها لحمل أَو ركُوب وَلم ينْتَفع بهَا لم يضمن إِلَّا إِذا انْهَدم عَلَيْهَا الإسطبل فِي وَقت لَو انْتفع بهَا لم يصبهَا الْهدم فاعرف ذَلِك وَمن تعدِي الْمُسْتَأْجر أَن يكبح الدَّابَّة باللجام أَو يضْربهَا بِرجلِهِ أَو يعدو بهَا فِي غير مَحل الْعَدو على خلاف الْعَادة فِي هَذِه الْأُمُور فَإِنَّهُ يضمنهَا بِخِلَاف مَا إِذا فعل ذَلِك على الْعَادة وَالله أعلم

(فرع حسن) غصبت الدَّابَّة الْمُسْتَأْجرَة مَعَ دَوَاب الرّفْقَة فَذهب بَعضهم فِي طلب دَابَّته وَلم يذهب الْمُسْتَأْجر فَإِن لم يلْزمه الرَّد عِنْد انْقِضَاء الْمدَّة لم يضمن وَإِلَّا فَإِن اسْتردَّ الذاهبون بِلَا مشقة وَلَا غَرَامَة ضمن المتخلف وَإِن كَانَ بِمَشَقَّة وغرامة فَلَا ضَمَان قَالَه الْعَبَّادِيّ وَالله أعلم

إتحاف الأريب بشرح الغاية والتقريب ١/‏٢٤٢ — أبو المعاطي الشبراوي (معاصر)

قال أبو شجاع ﵀: «وَلَا ضَمَانَ عَلَى الْأَجِيرِ إِلَّا بِعُدْوَانٍ»، الأجيرُ أمينٌ على ما في يدِه؛ لأنَّه يعملُ فيه، فإذا استأجرَ شخصٌ أجيرًا لغسلِ ثوبٍ ونحوِه فتلِف في يدِه؛ فإنَّه لا يضمنُه؛ لأنَّه أمينٌ ولم يتعدَّ، فإن تعدَّى لزِمه الضمانُ، كما لو استأجرَ شخصٌ أجيرًا لِلْخَبْزِ فأسرفَ في إيقادِ النارِ، أو ترك المخبوزَ حتى احترقَ، فإنه يلزمُه الضمانُ لتعدِّيه، وكذلك لا يضمنُ المستأجرُ العينَ المستأجرةَ إذا تلِفت في يدِه من غيرِ فعلِه، لأنَّها عينٌ قبضَها ليستوفيَ منها ما ملكَه فلم يضمنْها بمجردِ القبضِ، فإن تلِفت بفعلِه يُنظرْ: إن كان بغيرِ عدوانٍ؛ كضربِ الدابةِ، وكبحِها باللِّجامِ للاستصلاحِ وبما جرت به العادةُ، لم يضمنْ؛ لأنَّها هلكت من فعلٍ مُستَحقٍّ، وكذلك لو هلكت تحتَ الحملِ المعتادِ، فإن تلِفت بعدوانٍ، كالضربِ من غيرِ حاجةٍ، أو حمَّلَها فوق المعتادِ،

Baca Juga: Refinancing dengan Akad IMBT

Tindakan yang tidak masuk kategori menyelisihi Amanah

Berikut ini adalah contoh tindakan yang tidak termasuk menyelisihi amanah. Saudara bisa mengatasnamakan menyewa bandwidth internet Telkom senilai voucher 700 ribu.

Siapapun bisa ikut bergabung menikmati fasilitas internet senilai voucher tersebut dengan ketentuan ikut bersama-sama (kerjasama) dalam menyewanya. Misalnya, ada 10 orang yang mahu ikut. Alhasil, tiap-tiap orang ikut andil sebesar 70 ribu rupiah dan mereka berhak atas layanan bandwidth internet dari Telkom tersebut.

Karena voucher itu diurus sendiri oleh anda, maka anda berhak meminta jasa pengurusannya. Apabila pemecahan bandwidth itu dibutuhkan alat yang anda usahakan sendiri, maka anda berhak meminta upah sewa alat terhadap 10 orang yang ikut andil dalam kerjasama pembelian voucher 700 ribu itu. Alhasil, biaya yang diserahkan oleh rekanan anda tadi, dapat diperinci sebagai berikut:

  1. Uang kerjasama pembelian bandwidth 700 ribu, yang masing-masing orang senilai 70 ribu.
  2. Uang sewa alat yang anda siapkan untuk memecah bandwidth (besarannya terserah anda). Misalnya 20 ribu per orang per bulan
  3. Jadi, total  uang yang diserahkan mereka ke anda setiap bulannya, adalah menjadi 90 ribu rupiah.

Tindakan seperti ini, tidak masuk kategori menjual kembali layanan internet sebagaimana yang disyaratkan oleh Telkom. Sebab, pengertian menjual kembali voucher internet, adalah seolah sama pengertiannya dengan menyewa mobil dari tangan pertama, kemudian disewakan lagi kepada orang lain ke tangan ketiga (isti’jar al-musta’jar).

Sementara itu, akad yang berlaku pada saudara sebagaimana yang mujawib jelaskan di atas, adalah kerjasama membeli voucher internet (musyarakah fi al-ijarah), qiyas dengan kerjasama (gotong royong) dalam menyewa mobil pribadi.

Baca Juga: Deviden berubah menjadi Ongkos Sewa

Demikian jawaban dari kami, semoga dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang anda hadapi secara fikih.

فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب = القول المختار في شرح غاية الاختصار ١/‏١٨١ — محمد بن قاسم الغزي (ت ٩١٨)

الشركة وهي لغةً الاختلاط، وشرعًا ثبوت الحق على جهة الشيوع في شيء واحد لاثنين فأكثر

مجلة مجمع الفقه الإسلامي ٦/‏٧٢ — مجموعة من المؤلفين

لا خلاف في جواز إجارة المشاع من الشريك. وذكرت النصوص الفقهية في هذا الشأن عن المغني لابن قدامة وعن رد المحتار وما إلى ذلك فظهر بهذا أن هذه العقود الثلاثة من المشاركة في الملك، والإجارة، والبيع، كل واحد منها صحيح في حد ذاته، فإن وقعت هذه العقود من غير أن يشترط أحدها في الآخر، بل يعقد كل منها مستقلًا، فلا غبار على جوازها.

Kesimpulan

Kesimpulan dari jawaban di atas adalah bahwa dalam konteks fikih, menjual kembali bandwidth internet yang telah disewa dikategorikan sebagai akad ijarah (sewa menyewa), bukan akad bai’ (jual beli). Dalam akad ijarah, tujuan utamanya adalah memanfaatkan manfaat dari barang atau jasa yang disewa untuk periode waktu tertentu, seraya barang atau jasa itu sendiri tetap milik penyedia (provider). Pada kasus ini, Telkom sebagai penyedia memiliki hak untuk menetapkan syarat dalam penggunaan bandwidth yang menjadi objek sewa, termasuk larangan untuk menjual kembali.

Penyewa wajib menggunakan bandwidth tersebut sesuai dengan syarat dan ketentuan yang telah disetujui, yakni tidak menjual kembali atau menyewakan kembali bandwidth internet kepada orang lain, karena hal tersebut dapat dianggap sebagai pengkhianatan amanah. Amanah dalam hal ini adalah bandwidth yang disewa dan harus digunakan sesuai dengan ketentuan penyedia.

Namun, terdapat alternatif yaitu kerjasama dalam penggunaan bandwidth tersebut, dimana beberapa individu dapat berkontribusi bersama dalam pembiayaan sewa bandwidth tersebut sesuai dengan bagian yang disepakati. Dalam hal ini, tindakan tersebut tidak digolongkan sebagai menjual kembali, tetapi kerjasama dalam penyewaan (musyarakah fi al-ijarah).

Setiap pihak yang terlibat dalam kerjasama tersebut berhak atas penggunaan bandwidth dalam kadar yang telah disepakati, dan penyelenggara kerjasama berhak meminta kompensasi atas pengelolaan dan penyediaan peralatan yang diperlukan untuk mendistribusikan manfaat bandwidth tersebut kepada para penyewa.

Dengan demikian, langkah yang diambil harus sesuai dengan prinsip-prinsip fikih dan syarat penyedia layanan, dan tidak mengandung elemen penyalahgunaan amanah yang telah diserahkan.

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content