elsamsi log

Menu

Pembiayaan Musyarakah dan Tata Kelolanya

Pembiayaan Musyarakah dan Tata Kelolanya

Musyarakah merupakan istilah fiqhiyyah yang mengambil kata dasar dari syirkah. Karena wazan pembentuknya saja sudah berbeda, maka dari sisi makna dan praktiknya pun berbeda. 

Musyarakah secara bahasa bisa dimaknai sebagai menitipkan harta modal ke seseorang / pihak yang bergerak dalam usaha pengembangan harta (tamwil).

Syeikh Wahbah al-Zuhaily dalam sebuah Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh OKI, menyampaikan:

مجلة مجمع الفقه الإسلامي ١٣/‏٨٦٤ — مجموعة من المؤلفين - العدد الثالث عشر←موضوع: المشاركة المتناقصة في العقود المستجدة←المشاركة المتناقصة وصورها في ضوء ضوابط العقود المستجدة إعداد الأستاذ الدكتور وهبة الزحيلي 
المشاركة من حيث المبدأ هي: من شركات الأموال التي تقوم على الاشتراك أو المتاجرة في رأس المال، بقصد تحقيق الربح، في إقامة بعض المشروعات الزراعية أو الصناعية أو العمرانية أو التجارية ونحوها

Untuk memudahkan pemahaman perbedaan mendasar antara syirkah dan musyarakah, berikut ini penulis hadlirkan contoh dari perjalanan keduanya. 

Karakteristik Syirkah ‘Inan

Di dalam badan hukum syirkah ‘inan, seluruh anggota syirkah bertindak sebagaimana hal-hal berikut:

  1. menyetorkan modal dari jenis yang sama, misalnya sama-sama berupa mata uang rupiah. 
  2. Selanjutnya, modal itu dicampur menjadi satu. 
  3. Seluruh anggota syirkah berlaku sebagai syarik dan saling mewakili dalam menjalankan seluruh harta modal syirkah yang terkumpul. 
  4. Semua anggota bekerja bersama-sama untuk mendapatkan keuntungan yang bisa dibagi bersama sesuai dengan nisbah modal
  5. Untung rugi ditanggung bersama. 

Untuk lebih lengkapnya, simak ibarat berikut!

الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي ٧/‏٦٣ — مجموعة من المؤلفين – الجزء السابع←الباب الرابع الشركة←شروطها

علمنا مما سبق ان شركة العِنان هي النوع المشروع من الشركة باتفاق الفقهاء، وهي – في الحقيقة – النوع الشائع والمتعارف لدى الناس في الشركات، وهو الأصل فيها، لما فيه من معنى الاشتراك فعلا، إذ إن مال الشركة في الأصل مشترك بين الشركاء، وهذا هو الأصل في الشركة، سواء اكان الاشتراك بالعمل ام لم يكن، وان كان الغالب هو الاشتراك به ايضًا. 

وقد علمت أنها اتفاق اثنين فأكثر على ان يشتركوا بمال من الجميع، يتاجرون به، على أن يكون الربح لهم.

وسمِّيت شركة عِنان تشبيهًا لكلٍّ من الشركاء براكب الدابة، الذي يمسك بإحدى يديه عنانها ويعمل بالأُخرى، وذلك أن كل شريك يجعل للشركاء غيره أمر التصرّف – الذي يشبه بالعنان – في بعض ماله، بينما يستقل هو بالعمل في بعضه الآخر، او لأن كلا من الشركاء يملك بها ان يتصرف بمال شريكه في الشركة كما يملك الراكب التصرّف بالدابة بواسطة عنانها.

Itulah penjelasan singkat mengenai perjalanan syirkah ‘inan

Karakteristik Musyarakah

Adapun dalam akad musyarakah, karakteristik amaliyah yang terjadi di dalamnya adalah berjalan sebagai berikut: 

  1. Semua anggota menyetorkan modal dari jenis yang sama. 
  2. Pengelola juga bertindak selaku Pemodal
  3. Yang bekerja melakukan pengembangan harta, adalah hanya salah satu dari anggota pemodal (selanjutnya disebut badan hukum pemodal)
  4. Anggota syirkah yang lain, yang tidak ikut mengelola, hanya bertindak menyerahkan modal saja

Jadi, dalam akad musyarakah, yang bekerja menjalankan pengelolaan modal dan pengembangannya, hanya terdiri dari salah satu anggota yang tergabung dalam syirkah saja.

Rumus Dasar Akad Syirkah dan Musyarakah

Rumus Syirkah:

[PL + PM] + [PL + PM] 

Rumus Musyarakah:

[PM + PM ] + [PM + PL]

Keterangan

PL = Pelaksana
PM = Pemodal

Syirkah dan Mudlarabah

Karena ada persekutuan modal bersama, maka akad musyarakah juga ditengarai sebagai akad syirkah ‘inan. Sementara itu, karena yang menjalankan hanya satu orang dari seluruh anggota syirkah, maka di dalam musyarakah terkandung adanya akad mudlarabah juga. 

Alhasil, akad syirkah yang didalamnya terdapat mudlarabah itu diistilahkan oleh para fuqaha sebagai akad syirkah wa mudlarabah, ‘inan wa mudlarabah, atau syirkah mudlarabah. 

Istilah-istilah ini dapat kita ketahui dalam ringkasan penjelasan Imam Al-Mardawy (w. 885 H) di dalam Kitabnya al-Inshaf fi Ma’rifat al-Rajih, Juz 5, halaman 408, berikut ini.

قَوْلُهُ فِي شَرِكَةِ الْعِنَانِ (وَهِيَ: أَنْ يَشْتَرِكَ اثْنَانِ بِمَالَيْهِمَا) . يَعْنِي: سَوَاءٌ كَانَا مِنْ جِنْسٍ أَوْ جِنْسَيْنِ. مِنْ شَرْطِ صِحَّةِ الشَّرِكَةِ: أَنْ يَكُونَ الْمَالَانِ مَعْلُومَيْنِ. وَإِنْ اشْتَرَكَا فِي مُخْتَلَطٍ بَيْنَهُمَا شَائِعًا: صَحَّ. إنْ عَلِمَا قَدْرَ مَا لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا. وَمِنْ شَرْطِ صِحَّتِهَا أَيْضًا: حُضُورُ الْمَالَيْنِ. عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ. لِتَقْدِيرِ الْعَمَلِ، وَتَحْقِيقِ الشَّرِكَةِ إذَنْ كَالْمُضَارَبَةِ. وَعَلَيْهِ أَكْثَرُ الْأَصْحَابِ. وَقِيلَ: أَوْ حُضُورُ مَالِ أَحَدِهِمَا. اخْتَارَهُ الْقَاضِي فِي الْمُجَرَّدِ. وَحَمَلَهُ فِي التَّلْخِيصِ عَلَى شَرْطِ إحْضَارِهِ. وَقَوْلُهُ (لِيَعْمَلَا فِيهِ بِبَدَنَيْهِمَا) بِلَا نِزَاعٍ. وَالصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ: أَوْ يَعْمَلَ فِيهِ أَحَدُهُمَا، لَكِنْ بِشَرْطِ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَكْثَرُ مِنْ رِبْحِ مَالِهِ. قَالَ فِي الْفُرُوعِ: وَالْأَصَحُّ: وَأَحَدُهُمَا بِهَذَا الشَّرْطِ. وَقَالَ فِي الرِّعَايَةِ الْكُبْرَى: أَوْ يَعْمَلُ فِيهِ أَحَدُهُمَا فِي الْأَصَحِّ فِيهِ. انْتَهَى. وَقَالَ فِي التَّلْخِيصِ: فَإِنْ اشْتَرَكَا عَلَى أَنَّ الْعَمَلَ مِنْ أَحَدِهِمَا فِي الْمَالَيْنِ: صَحَّ. وَيَكُونُ عِنَانًا وَمُضَارَبَةً. وَقَالَ فِي الْمُغْنِي: هَذَا شَرِكَةٌ وَمُضَارَبَةٌ. وَقَالَهُ فِي الْكَافِي، وَالشَّارِحُ. وَقَالَ الزَّرْكَشِيُّ: هَذِهِ الشَّرِكَةُ تَجْمَعُ شَرِكَةً وَمُضَارَبَةً. فَمِنْ حَيْثُ إنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا يَجْمَعُ الْمَالَ: تُشْبِهُ شَرِكَةَ الْعِنَانِ، وَمِنْ حَيْثُ إنَّ أَحَدَهُمَا يَعْمَلُ فِي مَالِ صَاحِبِهِ فِي جُزْءٍ مِنْ الرِّبْحِ: هِيَ مُضَارَبَةٌ. انْتَهَى.

Berdasarkan perincian akad tersebut, maka berlaku ketentuan bagi hasilnya, yaitu sebagai berikut:

Pertama, Kalkulasi bagi Hasil berdasar Akad Mudlarabah

Akad mudlarabah berlaku antara relasi pemilik modal dengan pelaksana. Dalam hal ini, pihak mudlarib mendapatkan jatah bagi hasil sesuai dengan kesepakatan dan bukan berasal dari nisbah modal yang dimilikinya dalam syirkah. Ambil contoh, misalnya, adalah 30% badan hukum pemodal (PM) : 70% pengelola (PL). 

Jadi, andaikata omset debitur (pihak yang dibiayai) saat kontrak modal pengelolaan itu selesai adalah sebesar 100 juta, maka berdasar akad mudlarabah ini, pihak badan hukum pemodal mendapatkan bagian 30 juta, dan pengelola mendapatkan 70 juta lewat bagi hasil. 

Bagaimana bila terjadi kerugian mudlarabah?

Apabila terjadi kerugian usaha, maka yang dijaga adalah ashlu al-maal (ra’su al-maal), yang terdiri dari gabungan modal dari para pemodal syirkah. 

Misalnya, jika modal terkumpul adalah 100 juta, maka jumlah inilah yang dijaga oleh mudlarib dan wajib diusahakan kembalinya. Pun kalau tidak bisa kembali seutuhnya, maka sebagian modal itu harus diupayakan kembalinya. Alhasil, pihak yang menanggung kerugian adalah rabbu al-maaI (Badan Hukum Pemodal). 

Bagaimana sikap terhadap keuntungan?

Yang disebut sebagai keuntungan (ribhun) adalah seluruh hasil pengelolaan dikurangi modal. 

Net Profit = Total Omset Pengelolaan – Ra’su al-Maal. 

Jadi, apabila modal usaha sebesar 100 juta itu berkembang menjadi 200 juta, maka total net profit adalah 100 juta. 

Nah, nilai 100 juta net profit inilah yang dibagi menurut kesepakatan bagi hasil mudlarabah. Jika kesepakatan bagi hasilnya adalah 30% Pemodal : 70% Pengelola, maka bagian dari badan hukum pemodal adalah 30 juta.

Kedua, Bagi Hasil menurut Akad Syirkah

Bagi hasil akad syirkah dalam pembiayaan musyarakah atau syirkah mudlarabah, adalah dilakukan berdasar nisbah modal yang disertakan.

Suatu misal, dari modal 100 juta, pihak IKNB Syariah (Institusi Keuangan Syariah Non Bank) memodali 70 juta, dan Pengelola mengeluarkan modal sebesar 30 juta, maka total modal terkumpul menjadi 100 juta. 

Dengan demikian, nisbah bagi hasil bagi IKNB adalah 70% dan nisbah modal pengelola adalah 30%. 

Jika net profit adalah 100 juta, dan bagian badan hukum pemodal dalam akad mudlarabah adalah 30 juta (sebagaimana contoh mudlarabah di atas), maka nisbah bagi hasil yang diterima oleh badan hukum syirkah adalah 70% x 30 juta (untuk IKNB) dan 30% x 30 juta (untuk Pengelola). 

Alhasil, apabila dituangkan ke dalam akuntansi, maka perhitungan bagi hasil musyarakah (syirkah mudlarabah) akan nampak sebagai berikut:

Ilustrasikan!

Total Modal 100 juta dengan rincian:

  • IKNB memodali 70 juta. 
  • Pengelola mengeluarkan modal 30 juta. 
  • Dengan demikian, rincian nisbah modal akad syirkah, adalah 70% IKNB : 30% PL. 

Omset terakhir pasca pengelolaan adalah 200 juta, sehingga Net Profit adalah 200 juta – 100 juta = 100 juta. 

Kesepakatan bagi hasil mudlarabah 40% Pemodal (PM) : 60% Pengelola (PL). 

Langkah penghitungan bagi hasil

Langkah 1 menghitung bagi hasil sesuai kesepakatan Akad Mudlarabahnya, sehingga di dapat
  1. Badan Hukum Pemodal = 40% x 100 juta net profit = 40 juta
  2. Pengelola = 60% x 100 juta net profit = 60 juta
Langkah 2, berikutnya menghitung bagi hasil sesuai nisbah modal dalam syirkah: 
  1. Bagian Modal IKNB = 70% x 40 juta = 28 juta
  2. Bagian Modal Pengelola = 30% x 40 juta = 12 juta

Jadi, total uang yang diterima oleh IKNB setelah masa kontrak modal habis, adalah:

  1. Modal yang disertakan = 70 juta
  2. Keuntungan pengelolaan = 28 juta
  3. Total penerimaan = 98 juta

Adapun total penghasilan yang didapat Pengelola, adalah:

  1. Modal yang disertakan = 30 juta
  2. Keuntungan mudlarabah = 60 juta
  3. Keuntungan syirkah = 12 juta
  4. Total penerimaan = 102 juta

Dengan demikian, apabila ada klausul dengan model semacam di bawah ini, maka titik kesalahan klausul, adalah sebagaimana yang penulis tebalkan berikut ini:

“Musyarakah, adalah Akad kerjasama usaha antara dua pihak atau lebih pemilik modal (Syarik/Shahibul Maal) untuk   membiayai suatu jenis usaha dengan pembagian keuntungan berdasarkan nisbah yang telah disepakati sebelumnya, sedangkan kerugian ditanggung semua pemilik dana/ modal berdasarkan bagian dana/modal masing-masing.”

Akad sebagaimana yang tertuang dalam klausul di atas, adalah termasuk fasad dikarenakan pihak pengelola yang bekerja sendiri dalam mengembangkan harta, tidak dihargai hasil pengelolaannya

Kalau boleh memilih, maka yang enak adalah pihak pemodal karena tanpa kerja, haknya dalam bagi hasil disamakan dengan pemodal sekaligus pengelola

Simak ibarat kelanjutan dari ibarat sebelumnya yang disampaikan oleh Al-Mardawy (w. 885 H) di dalam Kitabnya al-Inshaf fi Ma’rifat al-Rajih, Juz 5, halaman 408, sebagai berikut:

وَهِيَ شَرِكَةُ عِنَانٍ، عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ. وَقِيلَ: مُضَارَبَةٌ. فَإِنْ شَرَطَ لَهُ رِبْحًا قَدْرَ مَالِهِ: فَهُوَ إبْضَاعٌ. وَإِنْ شَرَطَ لَهُ رِبْحًا أَقَلَّ مِنْ مَالِهِ: لَمْ يَصِحَّ عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ. قَدَّمَهُ فِي الْفُرُوعِ، وَالرِّعَايَةِ الْكُبْرَى. وَجَزَمَ بِهِ فِي الْمُغْنِي، وَالشَّرْحِ، وَالرِّعَايَةِ الصُّغْرَى،

Alhasil, berdasarkan ibarat ini, maka bunyi klausul sebagaimana tertuang dalam contoh di atas, adalah termasuk kategori muamalah yang tidak sah (bathil) sehingga menghendaki perincian sebagaimana telah dijelaskan di muka. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: