elsamsi log

Menu

Pembiayaan Sindikasi Murabahah dan Diskon Angsuran

Pembiayaan Sindikasi Murabahah dan Diskon Angsuran

Pada tulisan yang lalu, penulis sudah menyampaikan pancingan mengenai kasusnya Yusuf Hamka terkait dengan pembiayaan sindikasi. Nah, untuk mengikuti bagaimana kasus beliau itu terjadi, simak terlebih dahulu mengenai praktik pembiayaan sindikasi murabahah berikut ini!

Apa itu Pembiayaan Sindikasi Murabahah?

Konsepsi dasar dari pembiayaan sindikasi yang dilakukan oleh Yusuf Hamka, sebenarnya sama dengan pembiayaan versi syirkah mudlarabah. Hanya saja, yang dijadikan ma’qud ‘alaih (obyek akad), adalah pengadaan barang dan bukan obyek produksi. 

Karena ma’qud ‘alaih-nya adalah barang, maka sudah barang tentu, akad landasannya adalah akad jual beli (bai’). Untuk lebih praktisnya, simak ilustrasi berikut:

“Pak Ahmad membutuhkan biaya untuk membeli mobil angkutan. Harga sudah ditetapkan oleh pihak dealer seharga Rp 60 juta rupiah. Karena Pak Ahmad tidak memiliki uang segitu, maka ia menghubungi Pak Amir. Namun, Pak Amir juga tidak memiliki uang sebesar itu. Ia hanya memiliki uang kes senilai 20 juta. 

Lalu, Pak Amir mengajak Pak Surya dan Pak Robin untuk ikut bersama membelikan mobil angkutan barang tersebut. Keduanya bersediia, lalu terjadilah akad patungan (syirkah), dan masing-masing menyetorkan uang sebesar 20 juta.  Sehingga, akhirnya terkumpullah uang senilai 60 juta. 

Uang tersebut kemudian digunakan untuk membeli mobil angkutan yang dibutuhkan oleh Pak Ahmad dengan jalan dijual secara kredit. Keuntungan hasil penjualan, akan dibagi bersama kepada 3 orang peserta patungan secara sama rata, seiring nisbah modalnya juga sama. 

Pak Amir mewakili ketiga orang tersebut untuk melakukan akad penjualan mobil dengan Pak Ahmad. Disepakati, bahwa mobil itu dijual seharga 72 juta secara kredit, dengan masa jatuh temponya adalah 12 bulan. Dengan demikian,, angsuran per bulan yang harus dibayar Pak Ahmad adalah 6 juta rupiah” 

Nah, akad inilah yang dimaksud sebagai akad pembiayaan sindikasi murabahah, atau lebih tepatnya disebut syirkah-murabahah. 

Rincian Akad

Akad syirkah terjadi antara ketiga orang pemodal, yang terdiri dari Pak Amir, Pak Surya dan Pak Robin. Syirkah mereka ini dinamakan dengan syirkah ‘inan

Akad murabahah (bagi hasil keuntungan penjualan) terjadi antara Pak Ahmad dengan wakil syirkah (Pak Amir). Harga beli awalnya barang adalah 60 juta. Harga jual barang adalah 72 juta. Keuntungan bagi penjual, adalah 12 juta rupiah. 

Bagi hasil syirkah terjadi antara Pak Amir bersama rekan-rekannya. Bagi hasil itu terjadi di hari jatuh temponya bai’ taqsith, yaitu setelah 12 bulan masa angsuran. Besaran keuntungan yang diperoleh masing-masing anggota syirkah, adalah 4 juta. Alhasil, uang modal dan sekaligus keuntungan yang didapat oleh peserta syirkah adalah total 24 juta. 

Problem Syirkah Murabahah

Jika akad berlaku sebagaimana di atas, maka akad tersebut adalah berlaku sah karena alasan dlarurah li al-hajah. Mengapa? 

Sebab, ditinjau dari kaidah asal praktik jual beli, maka pihak penjualnya seharusnya adalah terdiri dari 1 orang, yaitu Pak Amir saja. Namun, hal itu tidak memungkinkan, sebab uang sebesar 60 juta itu bukanlah uang yang sedikit. Alhasil, butuh bantuan pihak lain untuk menopang. Di sinilah kaidah dlarurat li al-hajat itu berlaku dan butuh toleransi akad.

Ada 2 mekanisme toleransi akad. Toleransi pertama, adalah Pak Amir hutang kepada Pak Robin dan Pak Surya. Alhasil, Pak Robin dan Pak Surya adalah berlaku sebagai muqridl (kreditur). Pak Amir berlaku sebagai mustaqridl (debitur). Jika akad ini yang diberlakukan, maka nilai lebih dari uang pokok yang diberikan kepada Pak Robin dan Pak Surya, terhitung sebagai riba. Alhasil, kelemahan dari penggunaan akad ini, adalah yang mendapat untung dari hasil penjualan hanya Pak Amir. Sementara 2 peserta lainnya tidak mendapat apa-apa. Alhasil, jika akad ini yang diberlakukan, maka dikhawatirkan bahwa kelak tidak ada lagi orang yang mahu meminjami uang kepada sesama dengan nilai besar tanpa adanya pemasukan (income) yang halal baginya. Oleh karena itu dibutuhkan toleransi dengan penggunaan akad lain. 

Toleransi akad selanjutnya, adalah beralih ke akad syirkah ‘inan, dengan menempatkan Pak Robin dan Pak Surya sebagai mitra Pak Amir. Proyek yang digarap ketiganya adalah pembelian mobil angkutan, dan selanjutnya mobil itu akan dijual ke Pak Ahmad secara kredit. Dengan akad ini, maka masing-masing pihak yang tergabung dalam akad adalah berlaku sebagai mitra (syarik). 

Diskon

Adapun, problem yang mendasar dari penggunaan akad syirkah-murabahah ini, adalah  bagaimana bila Pak Ahmad kemudian melunasi barang yang dibelinya itu sebelum jatuh tempo itu habis. Misalnya, dalam waktu 6 bulan ternyata lunas. Sementara harga sudah dipatok senilai 72 juta dan diangsur selama 12 bulan. Itu berarti, setiap bulannya, ada pertambahan uang senilai 1 juta. Jika 6 bulan lunas, maka itu artinya ada waktu 6 bulan berikutnya yang belum terjadi, namun sudah dihitung sebagai angsuran. Jika dipaksakan langsung dipotong sebesar 6 juta, maka otomatis harga menjadi bersifat tidak maklum di awal. Harga menjadi ada 2 pilihan, yaitu sebesar 72 juta dan 66 juta. Padahal ada larangan dari Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari menjalankan praktik jual beli 2 harga. 

Solusi sementara dari konsepsi di atas, adalah pemberlakuan diskon. Misalnya, Pak Amir menyampaikan di awal transaksi kepada Pak Ahmad, bahwa bila Pak Ahmad mampu melunasi harga mobil angkutan itu sebelum jatuh tempo, maka akan diberikan diskon. Jika lebih cepat 2 bulan, maka mendapat diskon 2 juta. Jika lebih cepat 6 bulan, maka mendapat diskon 6 juta rupiah. Akad diskon ini dikenal sebagai akad wadli’ah. Akad ini memang dibolehkan lewat lisan Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung: dla’ fa ta’ajjal. 

Konsultasi Bisnis

Konsultasikan plan bisnis anda sebelum anda jalankan ke eL-Samsi Group. Pastikan bahwa plan bisnis itu telah benar! Shahihnya akad bisnis, merupakan kunci mendapat penghasilan yang halal dan berkah

Muhammad Syamsudin

eL-Samsi Group Consulting & Planning Business berorientasi Fikih Muamalah. Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: