el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

20230531 075002 0000

Seorang musliim wajib menjaga diri dan keluarganya dari semua aktfitas yang berpotensi pada siksa api neraka (Q.S. Al-Tahrim). Salah satu sumber yang bisa melahirkan potensi itu adalah mengkonsumsi dan memanfaatkan harta haram. Pribadi muslim yang ahli dalam menjaga diri dari harta haram ini sering disemati oleh para ulama’ sebagai ahlu al-wara’.

Pertanyaan:

  1. Apa sih definisi dari harta haram itu? 
  2. Praktik apa saja yang dapat menjadi pintu masuk hadirnya harta haram di sisi seorang muslim?

Kedua pertanyaan ini akan dikupas oleh penulis dalam kesempatan tulisan ini. 

Definisi Harta Haram

Ada banyak definisi mengenai harta haram yang disampaikan oleh para ulama’. Salah satu definisi yang menarik adalah datang dari seorang faqih kontemporer – Syeikh Wahbah al-Zuhaily. Di dalam karya monumentalnya, beliau menyampaikan:

الفقه الإسلامي وأدلته للزحيلي ١٠/‏٧٩٤٥ — وهبة الزحيلي (معاصر)

المال الحرام: هو كل مال حظر الشارع اقتناءه أو الانتفاع به سواء كان لحرمته لذاته، بما فيه من ضرر أو خبث كالميتة والخمر، أم لحرمته لغيره، لوقوع خلل في طريق اكتسابه، لأخذه من مالكه بغير إذنه كالغصب، أو لأخذه منه بأسلوب لا يقره الشرع ولو بالرضا كالربا والرشوة

Lewat pernyataan di atas, Syeikh Wahbah al-Zuhaily menyampaikan bahwa karakteristik dari harta haram itu adalah sebagai berikut:

  1. Harta haram itu merupakan harta yang diperingatkan oleh syara untuk dikuasai dan dimanfaatkan
  2. Harta haram adakalanya karena dzatnya yang haram dan dapat merugikan manusia atau karena fisiknya yang menjijikkan seperti bangkai dan khamr
  3. Harta haram adakalanya disebabkan ada unsur lain yang menyebabkan haram, misalnya karena diperoleh lewat kerja yang tidak benar, diambil tanpa idzin pihak yang memiliki (ghashab) atau diambil dengan jalan tidak sebagaimana ditetapkan oleh syara’ meskipun ada keridlaan pemilik asalnya, misalnya riba dan suap (risywah)

Berkaitan dengan harta haram yang diperoleh karena muamalah yang tidak benar, Imam Abu Muhammad al-Baghawi (w. 516 H) beristidlal dengan Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 188:

ولا تَأْكُلُوا أمْوالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالباطِلِ

“Dan janganlah kaliian saling memakan harta di antara kalian dengan jalan bathil…”

Selanjutnya, Imam Abu Muhammad al-Baghawy (w. 516 H) menafsirkan ayat di atas sebagai berikut:

تفسير البغوي – طيبة ١/‏٢١٠ — البغوي ، أبو محمد (ت ٥١٦)

أيْ لا يَأْكُلُ بَعْضُكُمْ مالَ بَعْضٍ بِالباطِلِ أيْ مِن غَيْرِ الوَجْهِ الَّذِي أباحَهُ اللَّهُ، وأصْلُ الباطِلِ الشَّيْءُ الذّاهِبُ

“Janganlah kalian saling memakan harta di antara kalian secara bathil, yakni lewat jalan yang tidak dibolehkan oleh Allah SWT. Makna ashal bathil adalah sesuatu yang menghilangkan.” 

Tentu ada definisi lain yang disampaikan oleh para ulama’. Namun, kiranya definisi ini sudah cukup menjadi acuan secara umum untuk mengembangkan ranah diskusi kita.

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content