el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Istinja’

Deskripsi Masalah

Dalam budaya dan agama Islam, menjaga kebersihan diri merupakan nilai penting. Istinja’, atau membersihkan diri setelah buang air, adalah bagian integral dari praktik kebersihan Islam.Penggunaan tisu kering sebagai alternatif untuk membersihkan diri setelah buang air kecil atau air besar telah menjadi pilihan umum dikalangan banyak masyarakat. Penggunaannya memberikan kenyamanan dan dapat dianggap sebagai solusi praktis terutama dalam situasi di mana air sulit diakses. [Materi Syawir: Sabtu, 3 Pebruari 2024]

Baca Juga: Membedah ViPlus dan Vtube dan Skema Bisnisnya

Pertanyaan :

  1. Apakah tisu kering termasuk dari salah satu alat untuk beristinja’ ?
  2. Apakah boleh beristinja’ menggunakan tisu basah?

Baca Juga: Haruskah Belanja di Warung Tetangga?

Jawaban

Pertama, Tisu kering dapat digunakan sebagai alat untuk berintisja’ karena illat terpenuhinya 3 syarat selaku alat untuk beristinja’, yaitu: a) Suci, b) bisa menghilangkan najis dari tempatnya. Indikasi dari bisa menghilangkan najis, adalah bisa menyerap najis, dan c) bukan barang yang dikategorikan sebagai yang dimuliakan, dengan indikasi bukan dari jenis makanan dan tulang.

Hal ini sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Syeikh Taqiyuddin al-Hishny rahimahullah di dalam kitab karya beliau, sebagai berikut:

Baca Juga: Suci dari Hadats dan Najis untuk Nelayan

كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار-كتاب الطهارة- باب الاستنجاء ٣٢/١

وَاعْلَم أَن كل ماهو فِي معنى الْحجر يجوز الِاسْتِنْجَاء بِهِ وَله شُرُوط أَحدهَا أَن يكون طَاهِرا فَلَو استنجى بِنَجس تعين المَاء بعده على الصَّحِيح الشَّرْط الثَّانِي أَن يكون مَا يستنجي بِهِ قالعًا للنَّجَاسَة منشفًا فَلَا يجزىء الزّجاج وَلَا الْقصب وَلَا التُّرَاب المتناثر وَيجوز الصلب فَلَو استنجى بِمَا لايقلع لم يجزه وَلَو استنجى برطب من حجر أَو غَيره لم يجزه على الصَّحِيح الشَّرْط الثَّالِث أَن يكون مُحْتَرما فَلَا يجوز الِاسْتِنْجَاء بمطعوم كالخبز والعظم وَلَا بِجُزْء مِنْهُ كَيده وَيَد غَيره وَلَا بِجُزْء حَيَوَان مُتَّصِل بِهِ كذنب الْبَعِير لِأَنَّهُ مُحْتَرم

baca Juga: Pengobatan Alternatif dalam Islam

Kedua, Tisu basah tidak bisa digunakan sebagai alat istinja’ karena tidak memenuhi syarat selaku benda yang bisa menyerap najis. Sifat basah dari tisu tidak bisa menggantikan peran air dalam membasuh, melainkan justru meratakan najis sehingga membuat keluar dari tempat keluarnya. Hal ini senada dengan penjelasan Syeikh Taqiyuddin al-Hishny rahimahullahi ta’ala sebagai berikut:

Baca Juga : Poligami dan Bonus Demografi

كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار-كتاب الطهارة- باب الاستنجاء ٣٢/١

فَلَو استنجى بِمَا لايقلع لم يجزه وَلَو استنجى برطب من حجر أَو غَيره لم يجزه على الصَّحِيح

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik
Skip to content