elsamsi log

Menu

Perbedaan antara Sil’ah dan ‘Aradl dalam Ekonomi

Perbedaan antara Sil’ah dan ‘Aradl dalam Ekonomi

Di dalam banyak teks turats, saat kita masuk dan mengkaji bab jual beli (bai’) dan tijarah (niaga), kita akan sering dihadapkan dengan istilah sil’ah dan urudl. Masing-masing seolah merujuk pada pengertian yang sama yaitu sesuatu yang menjadi bagian dari obyek yang ditransaksikan. Itu sebabnya, terkadang kita menyamakan begitu saja antara keduanya. Urudl adalah sil’ah, dan sil’ah adalah urudl

Nah, kali ini, penuliis akan mencoba mengupas kedua istilah tersebut dari sisi ekonomi. Sudah barang tentu, kupasan ini akan melibatkan beberapa penggunaan istilah yang sering dipakai oleh para ekonom. Mengapa? Sebab, keduanya adalah dasar dari obyek kajian ekonomi. Dan lagi, penggunaan kedua istilah ini oleh para pengkaji fikih, sudah barang tentu juga melibatkan pertimbangan sisi penggunaannya dalam praktik dunia ekonomi secara langsung juga. Alhasil, tidak ada perbedaan dalam istilah penggunaannya. Hanya saja, para pengkaji fikih lebih mengarah kajiannya pada efek setelahnya, yaitu berkaitan dengan zakat dan lain sebagainya. Dan selanjutnya, lebih kepada detail macam-macamnya. 

Kita langsung saja merujuk pada kajian itu. Jadi, apa perbedaan antara sil’ah dengan ‘urudl?

Apa itu Sil’ah?

السلعة في الاقتصاد، عبارة عن شيء يفي بالاحتياجات البشرية ويوفر المنفعة، على سبيل المثال، إلى المستهلك الذي يقوم بالشراء. وهناك فارق واضح بين “السلع” التي تكون عبارة عن ممتلكات ملموسة (والتي يطلق عليها كذلك اسم السلع) والخدمات التي لا تكون مادية

Sil’ah secara ekonomi merupakan ungkapan tentang sesuatu yang dipergunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia dan menyimpan adanya manfaat yang terdapat di dalamnya. Sebagai ilustrasinya, bagi pihak yang meminta hak merusakkan sil’ah, maka ia bisa memperolehnya dengan jalan membeli. Di sinilah perbedaan nyata itu terjadi, yaitu antara al-sil’i yang merupakan istilah dari sesuatu yang bisa dikuasai (dengan hal lain yang kadang diucapkan sebagai istilah al-sil’i) yaitu al-khadamat (layanan) yang merupakan istilah dari sesuatu yang non-materiil.” 

Melalui penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa al-sil’ah merupakan sesuatu yang berwujud materiil (goods). Karena bersifat materiil, maka al-sil’i menunjukkan ciri-ciri dari barang yang bersifat fisika. Sebagai barang fisika, maka ia bisa rusak, baik rusak secara hakiki maupun rusak ma’nawi. Rusak secara hakiki, maksudnya adalah barang tersebut lenyap dan hilang sehingga tidak bisa dijual, dibeli, atau disimpan. Sementara rusak secara ma’nawi, adalah barang tersebut dibeli orang lain, dicuri atau dighashab, atau ditemukan oleh orang lain, sehingga barang sejatinya masih ada, hanya terjadi pindah kepemilikan atau sedang tidak ada di tangan pemiliknya akibat kasus tertentu. Itu sebabnya, ada istilah yang beredar di kalangan para ekonom, suatu pameo:

إن حصلت على شيء مجاني فاعلم أنك سلعة

“Saat anda mendapatkan sesuatu secara gratis, maka ketahuilah sesungguhnya anda itu dipandang sebagai sil’ah (goods)”

Makna dari pameo ini adalah bahwasanya bila ada seorang niagawan yang memberi sesuatu kepada anda sesuatu secara gratis / cuma-cuma (tanpa lelah keluar keringat) maka pada dasarnya orang tersebut adalah menganggap anda sebagai suatu aset.” 

Memang pameo ini serasa aneh. Akan tetapi, itu adalah benar adanya. Pemberian seseorang kepada orang lain secara cuma-cuma, pada hakikatnya pemberian itu akan menarik pihak lain yang diberi itu sebagai modal yang kelak dengan mudah untuk disuruh, dimintai tolong, yang nilai pertolongan itu secara materiil melebihi dari apa yang sudah pernah diberikan. Hanya saja, masalah kapan digunakan, itu yang masih menunggu adanya kebutuhan.

Apa itu urudl?

العرض هو عبارة عن الكميات المنتجة من سلعة ما التي يعرضها المنتجون في السوق بهدف البيع أو الشراء عند سعر معين وخلال فترة زمنية معينة على سبيل المثال، قد يكون الفلاحون راغبين ببيع مليون كيلو من البطاطا إذا كان سعر الكيلو 0.75$، فإذا كان الراغبون بالشراء عند سعر 0.75$ أكثر من الراغبين في البيع فإن البضاعة المعروضة بالسعر الحالي والذي افترضنا أنه 0.75$ سوف تنفذ ويبدأ السعر بالارتفاع وذلك لغلبة الطلب على العرض، والعكس صحيح فعند غلبة العرض على الطلب فإن السعر سوف يهبط

“Aradl (plural: urudl), adalah suatu istilah yang menyatakan ragam aset produktif, yang terdiri atas rupa sil’ah (aset fisik / goods) yang diperoleh oleh para niagawan lewat pasar dengan jalan menjual atau membelinya pada saat harga berada pada kisaran tertentu, atau dengan memanfaatkan sela-sela waktu tertentu. Misalnya, para petani cenderung akan menjual kentang yang dimilikinya, apabila harga kentang berada pada kisaran $0,75 per kilo. Apabila para niagawan ini bergerak membeli kentang tersebut pada harga $0,75 per kg-nya dalam skala besar dari petani, maka seluruh harta pembelian tersebut berdasar harga spot-nya adalah sebesar harga itu juga. Spekulasi yang kita pinjam adalah harga $0,75 itu akan berlanjut terus, kemudian harga itu akan mengalami inflasi disebabkan besarnya permintaan terhadap aradl. Sebaliknya, kemungkinan spekulasi juga terjadi, bahwa ketika jumlah aradl itu lebih besar, mengalahkan jumlahnya permintaan, maka harga akan berangsur turun.”

Dengan mencermati keterangan di atas, maka aradl / urudl itu merupakan:

  1. Suatu aset produktif, yang bisa dikembangkan dengan jalan membeli pada waktu tertentu, lalu menjualnya kembali di waktu yang lain yang dirasa tepat
  2. Urudl, bisa terdiri atas sil’ah (goods)
  3. Karena urudl, merupakan aset produktif, maka khadamat (service) adalah termasuk bagian dari ‘urudl.

Di sini, kita bisa kembali ke ta’rif awal ketika kita mengupas soal sil’ah. Ada istilah khadamat yang disampaikan di dalam ta’rif tersebut sebagai sesuatu yang immateriil namun bisa diperoleh dengan jalan dibeli. Makna dibeli di sini, untuk khadamat, sudah pasti bukan membeli barangnya, melainkan hanya manfaatnya. Alhasil, berbeda dengan al-sil’ah yang penguasaannya harus dengan membeli materinya. 

Meski demikian, baik al-khadamat maupun al-sil’ah, adalah sama-sama bisa dimasukkan ke dalam bagian dari ‘urudl disebabkan sifat produktifnya. 

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: