elsamsi log

Menu

Perbedaan Lelang dan Menyela Negosiasi

Perbedaan Lelang dan Menyela Negosiasi

Pernahkah anda melakukan negosiasi suatu proyek atau jual beli barang dan jasa, kemudian tiba-tiba ada pihak lain yang datang dan menyela proses negosiasi anda sehingga nego yang anda bangun sebelumnya menjadi bubrah? Bagaimana rasanya? Sedih, galau, jengkel, kesel. Begitulah kira-kira yang anda rasakan.

Menyela negosiasi merupakan istilah dari praktik tawar-menawar harga suatu barang atau jasa yang masih sedang dinegosiasikan oleh pihak lain dengan maksud agar pembeli beralih kepadanya atau barang dijual kepadanya. 

Berdasarkan sejumlah literasi kitab-kitab fiqhiyyah, istilah ini sering dikenal sebagai praktik al-saum ‘ala al-saum. Di antara literatur yang secara sharih mendefinisikan menyela negosiasi harga ini, adalah Kitab Karya Zainuddin al-’Iraqy.

والسَّوْمُ عَلى السَّوْمِ هُوَ أنْ يَأْخُذَ شَيْئًا لِيَشْتَرِيَ بِهِ فَيَجِيءَ إلَيْهِ غَيْرُهُ ويَقُولَ رُدَّهُ حَتّى أبِيعَك خَيْرًا مِنهُ بِهَذا الثَّمَنِ أوْ يَقُولَ لِمالِكِهِ اسْتَرَدَّهُ لِأشْتَرِيَهُ مِنك بِأكْثَرَ مِن هَذا الثَّمَنِ 

طرح التثريب في شرح التقريب ٦/‏٧٠ — العراقي، زين الدين (ت ٨٠٦)

Sekilas jika diperhatikan akad ini menyerupai sistem lelang (musawamah) baik secara muzayadah maupun munaqashah. Namun tahukah anda, bahwa keduanya sangat berbeda dari sisi praktiknya, sehingga hukumnya pun berbeda. 

Hal yang paling mendasar, adalah bahwa larangan menyela proses negosiasi harga dan barang yang dilakukan pihak lain adalah berlandaskan pada praktik larangan bai’un ‘ala bai’i akhihi

وحَمَلَ مالِكٌ – رحمه الله – النَّهْيَ عَنْ البَيْعِ عَلى بَيْعِ أخِيهِ عَلى السَّوْمِ وقَدْ ظَهَرَ بِذَلِكَ فِي تَفْسِيرِ البَيْعِ عَلى بَيْعِ أخِيهِ ثَلاثَةُ أقْوالٍ

Pada tulisan terdahulu, penulis telah menyampaikan mengenai akad lelang tersebut. Anda bisa mengikutinya di sini. Dalam tulisan ini, penulis hanya akan fokus pada pembahasan menyela proses negosiasi harga (al-saum ‘ala al-saum).

Contoh Praktik menyela Negosiasi

Termasuk bagian dari contoh masalah “menawar di atas penawaran” ini adalah sebagai berikut:

Pertama, menawar harga jual barang yang sedang ditawar pembeli lain

أن يقول شخص لمن يتفاوض مع آخر في ثمن سلعة لبيعها عليه: أنا أعطيك أكثر

“Seseorang mengatakan kepada dua orang pihak yang sedang bernegosiasi mengenai harga sil’ah yang akan dijualnya: Aku berani memberimu harga jual yang lebih tinggi.”

Kedua, menawar harga beli barang yang sedang ditawar oleh pembeli lain

Misalnya, ada seseorang menyela dua pihak yang sedang bernegosiasi mengenai harga barang yang akan dibeli: Aku hanya berani membelinya dengan harga umum atau malah lebih murah.”

أن يقول لمن يتفاوض مع آخر في ثمن سلعة ليشتريها منه: أنا أعطيك مثلها بأقل

Ketiga, menyela dua pihak yang sedang bernego mengenai harga dan kualitas barang

Misalnya dalam kasus yang tertuang dalam ibarat ini:

أن يقول لمن يتفاوض مع آخر في ثمن سلعة ليشتريها منه: أنا أعطيك أجود منها بالثمن نفسه

“Seseorang menyela dua pihak yang sedang bernegosiasi tentang harga sil’ah yang akan dibeli: aku akan beri kamu yang lebih baik dari barang itu dengan harga bersahabat.”

Keempat, menyela dua pihak yang sedang bernegosiasi dalam jual beli dan cara pembayaran

Misalnya adalah dalam contoh kasus seperti berikut ini:

أن يقول لمن يتفاوض مع آخر في ثمن سلعة ليبيعها عليه بثمن مؤجل: أنا آخذها بالثمن حالًا.

“Seseorang menyela pihak yang sedang negosiasi mengenai harga barang yang akan dijual dan cara pembayaran secara tempo dengan mengatakan: Aku beli saja barang itu dengan harga segitu secara kontan.”

Wilayah Muamalah yang sering menyela Negosiasi Pihak Lain

Setidaknya ada 4 wilayah yang sering terjadi praktik menawar di atas tawaran pihak lain ini, yaitu:

  1. Pada praktik jual beli barang (bai’)
  2. Pada praktik ijarah (sewa jasa)
  3. Praktik sharf (barter emas dan perak)
  4. Praktik kontrak eksekusi lelang (uqud tanfidz) atau kontrak pemasokan barang secara lelang (uqud tauriid) baik melalui akad muzayyadah maupun munaqashah.
  5. Lamaran pernikahan

Perbedaan Praktik Lelang dan Menyela Negosiasi Harga

Tidak diragukan lagi, bahwa praktik lelang sering diperankan di pasar-pasar yang didirikan oleh Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karenanya, hukum bai’ musawamah (muzayadah atau munaqashah) adalah boleh secara syara’. 

السوم على السوم في المزايدة جائز ما لم يركن إلى صاحب السوم

المطلع على دقائق زاد المستقنع «المعاملات المالية» ١/‏٢٥٨ — عبد الكريم اللاحم (ت ١٤٣٨)

“Menyela negosiasi harga pada lelang adalah boleh selagi belum tercapai kesepakatan antara penjual dan pembeli.”

Imam Zainuddin al-’Iraqy menyampaikan landasan kebolehan lelang secara muzayadah sebagai berikut:

وأمّا السَّوْمُ فِي السِّلْعَةِ الَّتِي تُباعُ فِيمَن يَزِيدُ فَلَيْسَ بِحَرامٍ. وقالَ مالِكٌ والشّافِعِيُّ والجُمْهُورُ بِجَوازِ البَيْعِ والشِّراءِ فِيمَن يَزِيدُ وكَرِهَهُ بَعْضُ السَّلَفِ ونَقَلَ ابْنُ عَبْدِ البَرِّ الإجْماعَ عَلى الجَوازِ ونَقَلَ ابْنُ حَزْمٍ اشْتِراطَ الرُّكُونِ فِي ذَلِكَ عَنْ مالِكٍ ثُمَّ قالَ: وهَذا تَفْسِيرٌ لا يَدُلُّ عَلَيْهِ لَفْظُ الحَدِيثِ.

طرح التثريب في شرح التقريب ٦/‏٧١ — العراقي، زين الدين (ت ٨٠٦)

Sementara itu dasar larangan praktik menyela negosiasi pihak lain, adalah sebagai berikut:

والسَّوْمُ عَلى السَّوْمِ مُتَّفَقٌ عَلى مَنعِهِ إذا كانَ بَعْدَ اسْتِقْرارِ الثَّمَنِ ورُكُونِ أحَدِهِما إلى الآخَرِ، وإنَّما يَحْرُمُ ذَلِكَ إذا حَصَلَ التَّراضِي صَرِيحًا

Imam Haramain meriwayatkan:

روى ابن عمر أن النبي ﷺ قال: «لا يخطب الرجل على خطبة أخيه» (١) وقد روي هذا النهي مقرونًا بقوله ﷺ: «لا يبيعن أحدكم على بيع أخيه». فالخطبة على الخطبة محرّمة في النكاح، والسَّوْم على السوم محرم في البيع

نهاية المطلب في دراية المذهب ١٢/‏٢٧٤ — الجويني، أبو المعالي (ت ٤٧٨) – كتاب النكاح←باب النهي أن يخطب الرجل على خطبة أخيه

“Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu meriwayatka bahwasanya Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: Janganlah ada seorang laki-laki melamar pinangan saudaranya! Hadits larangan melakukaan pinangan ini juga disertai dengan sabda Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain: “Janganlah ada salah satu dari kalian menyela negosiasi jual beli saudaranya!.” Menyela pinangan orang lain merupakan yang diharamkan dalam nikah. Menyela negosiasi harga merupakan yang diharamkan dalam jual beli.” 

Berdasarkan hadits riwayat Ibnu Umar ini, selanjutnya Abu al-Ma’aly al-Juwainy menyampaikan:

الخطبة والسَّوْم قد يتفقان وقد يختلفان: فاتفاقهما في أن الرجل إذا خطب امرأة، فأجابت؛ حرم على الغير خطبتها، وكذلك إذا ساوم رجلًا سلعة بمبلغ من الثمن، وأجابه (٣)، حرم على الغير السوم على سومه. هذا إذا طلب المشتري، فأجيب.

نهاية المطلب في دراية المذهب ١٢/‏٢٧٤ — الجويني، أبو المعالي (ت ٤٧٨) – كتاب النكاح←باب النهي أن يخطب الرجل على خطبة أخيه

“Khitbah dan tawar menawar terkadang disamakan di satu sisi dan kadang dibedakan. Kesamaan khitbah dan tawar menawar ini adalah apabila ada seorang laki-laki yang tengah melamar seorang perempuan, dan kemudian lamaran itu diterima, maka haram hukumnya bagi pihak lain untuk melamar perempuan tersebut. Demikian halnya negosiasi harga dan barang dan selanjutnya tawaran itu telah diterima, maka haram bagi pihak lain untuk menyela tawaran yang sudah terjadi terseut. Ini berlaku apabila permintaan pembeli itu telah diterima sebelumnya (oleh pedagang).”

Demikianlah sebagian dari dasar larangan menyela negosiasi tawar menawar harga dan barang yang dilakukan pihak lain. 

Batasan Legalitas Lelang dan Larangan Menyela Negosiasi Pihak Lain

Perbedaan mendasar praktik lelang dengan menyela negosiasi pihak lain, adalah: 

  1. Sistem lelang dibolehkan karena belum ada kesepakatan harga dan barang antara penjual dan pembeli
  2. Sementara menyela negosiasi haram adalah karena sudah terbit kesepakatan antara pedagang dan pembeli, namun tiba-tiba Si Penyela masuk ke dalamnya.
Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: