elsamsi log

Menu

Perbedaan Syirkah Musahamah dan Syirkah Mudlarabah

Perbedaan Syirkah Musahamah dan Syirkah Mudlarabah

Syirkah musahamah adalah syirkah yang terbentuk sebagai label joint stock company. Rumus dasar dari akad syirkah ini, adalah sebagai berikut:

Pertama, sahamnya bernilai sama. Baik saham yang ditawarkan ke public (common stock) lewat initial public offering (IPO) maupun saham ditahan (preference stock). 

Kedua, pihak manajemen perusahaan yang meniscayakan turut memegang saham dan berlaku sebagai pihak pengelola perusahaan. 

Ketiga, ada komisaris perusahaan yang mewakili badan hukum investor (syakhshiyah i’tibariyah musahim) dan turut terlibat dalam mengatur jalannya roda produksi perusahaan. Keberadaan pihak ini, adalah sebuah keniscayaan sebab dalam akad syirkah melazimkan semua syarik turut terlibat dalam pengelolaan. 

Keempat, sistem bagi hasil dari syirkah musahamah adalah Profit and Loss Sharing (PLS).

Berdasarkan hal tersebut, maka rumus sederhana syirkah musahamah, adalah sebagai berikut:

Komisaris [PL+PM] . Manajemen [PL-PM]

Di mana:

  • PL , adalah Pelaksana
  • PM, adalah Pemodal

Bagaimana dengan Syirkah Mudlarabah?

Syirkah mudlarabah merupakan istilah lain dari akad pembiayaan sindikasi plus bagi hasil permodalan. Kalau dalam istilah umum masyarakat, akad ini dipakai untuk mendirikan badan hukum usaha Persatuan Komanditer (CV) atau Firma.

Pihak yang berlaku sebagai pemberi pembiayaan terdiri dari para investor yang dihimpun dalam sebuah badan hukum investor. Dan pihak pengelola usaha, juga bertindak selaku investor. 

Jika dirinci, maka komponen penyusun akad syirkah mudlarabah ini adalah sebagai berikut:

Pertama, saham meniscayakan dipecah dengan basis valuasi total kebutuhan modal perusahaan. Harga per lembar saham meniscayakan sama. 

Kedua, pihak pemodal diwadahi dalam satu wadah badan hukum syirkah dan hanya menyetorkan modalnya tanpa ikut mengelola. 

Ketiga, pihak pengelola juga bertindak selaku pemodal. Alhasil, pengelola memiliki peran ganda, yaitu sebagai pemodal plus pengelola. Alhasil, peran syar’inya ada 2, yaitu selaku musahim dan sekaligus mudlarib.

Keempat, akad bagi hasil mengikuti 2 alur, yaitu:

  1. Bagi hasil berdasar akad mudlarabah
  2. Bagi hasil berdasar akad syirkah.

Kelima, bagian yang diterima oleh anggota syirkah adalah nisbah bagi hasil yang diterima pemodal mudlarabah. Misalnya, berdasar akad mudlarabah, badan hukum pemodal mendapat bagian 30%. Maka setiap investor yang tergabung dalam syirkah  adalah menerima bagian 30% bagian tersebut dibagi banyaknya investor yang tergabung dalam akad syirkah pemodal. 

Ilustrasi rumus sederhana dari akad syirkah mudlarabah, adalah sebagai berikut:

Pemodal [PM 1,2,3,....] - Pengelola [PL+PM]

Di mana:

  • PL, adalah pengelola
  • PM, adalah pemodal

Jadi, jelas bukan, perbedaan dari akad syirkah musahamah dengan syirkah mudlarabah? Semoga manfaat!

Jika membeli saham, adalah sama dengan menyerahkan modal untuk usaha sampai terbitnya deviden, maka menjual saham adalah sama dengan akad membatalkan usaha sebelum ada deviden

Muhammad Syamsudin (el-samsi.com)
Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: