el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Img 20230505 Wa0006
Tidak dipungkiri, bahwa poligami merupakan yang legal (masyru’) di dalam Islam dan termaktub dalam berbagai kutub al-turats dan diatur pola pelaksanaannya (tasyri’). Legalitas landasan tersebut adalah mengacu pada Firman Allah SWT:

وَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تُقۡسِطُوا۟ فِی ٱلۡیَتَـٰمَىٰ فَٱنكِحُوا۟ مَا طَابَ لَكُم مِّنَ ٱلنِّسَاۤءِ مَثۡنَىٰ وَثُلَـٰثَ وَرُبَـٰعَۖ فَإِنۡ خِفۡتُمۡ أَلَّا تَعۡدِلُوا۟ فَوَ ٰ⁠حِدَةً أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُكُمۡۚ ذَ ٰ⁠لِكَ أَدۡنَىٰۤ أَلَّا تَعُولُوا۟﴾ [النساء ٣]

Selain itu, ada dhahir nash yang berisi penegasan lewat sabda Baginda Nabi Muhammad SAW tentang salah seorang sahabat (Qais ibn Harits al-Asady) yang masuk Islam  dan ketika masih di masa jahiliyahnya, ia memiliki 8 orang istri. Baginda Nabi Muhammad SAW lantas bersabda: 

اخْتَرْ مِنْهُنَّ أَرْبَعًا

“Pilih di antara istri-istri itu, 4 orang saja”

Adanya perintah memilih 4 orang di antara 8 orang istri ini secara tidak langsung menjadi itsbat bahwa poligami merupakan masyru’ di dalam Islam berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Terlebih, para ulama tafsir juga meriwayatkan sebuah riwayat Tafsir, seperti Muqatil sebagaimana dinuqil oleh Imam al-Qurthuby di dalam Kitab Tafsir al-Qurthuby:

 وَقَالَ مُقَاتِلٌ: إِنَّ قَيْسَ بْنَ الْحَارِثِ كَانَ عِنْدَهُ ثَمَانِ نِسْوَةٍ حَرَائِرَ، فَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ أَمَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُطَلِّقَ أَرْبَعًا وَيُمْسِكَ أَرْبَعًا

 كَذَا قَالَ: (قَيْسُ بْنُ الْحَارِثِ)، وَالصَّوَابُ أن ذلك كان حارث ابن قَيْسٍ الْأَسَدِيَّ كَمَا ذَكَرَ أَبُو دَاوُدَ. وَكَذَا رَوَى مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ فِي كِتَابِ السِّيَرِ الكبير: أن ذلك كان حارث ابن قَيْسٍ، وَهُوَ الْمَعْرُوفُ عِنْدَ الْفُقَهَاءِ.

Dan untuk selanjutnya, riwayat tafsir ini dijadikan landasan acuan hukum oleh para fuqaha’ untuk menetapkan batasan bahwa poligami itu hanya diperbolehkan dalam syariat dengan 4 orang istri saja. Tidak boleh lebih. Apabila lebih, maka ada konsekuensi hukumnya, yaitu fasakh atau batal secara syara’ akad nikahnya yang setelah istri ke-4.

Adapun yang berlaku atas Baginda Nabi SAW denggan 9 orang istri adalah bagian keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada beliau sebagaimana beberapa keistimewaan lainnya.

 وَأَمَّا مَا أُبِيحَ مِنْ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ ﷺ فَذَلِكَ مِنْ خُصُوصِيَّاتِهِ، عَلَى مَا يَأْتِي بَيَانُهُ فِي (الْأَحْزَابِ(٢٠)

Problemnya kemudian, adalah muncul syubhat-syubhat yang mempertanyakan dan mempertentangkan atau bahkan berusaha mengeliminir produk hukum syara’ ini. Di antara syubhat-syubhat itu, antara lain, adalah:

  1. Mengapa Islam membolehkan poligami bagi laki-laki? 
  2. Sementara itu Islam justru melarang perempuan dari melakukan poliandri? 
  3. Bukankah ini merupakan suatu ketidakadilan dalam pemberian hak atas nama gender dan cenderung patriarki!?

Demikian kiranya syubhat-syubhat itu disampaikan. Di sinilah selanjutnya kita perlu menjawab berbagai syubhat-syubhat tersebut. 

Menjawab Syubhat Penentang Poligami

Syubhat-syubhat seperti di atas perlu diluruskan dan diberikan pencerahan, sebab syariat Islam itu diterapkan adalah senantiasa mengacu pada terlaksanakannya 5 tujuan dasar pokok syariah (maqashid al-syari’ah), yaitu: penjagaan agama (hifdh al-din), jiwa (hifdh al-anfas), akal (hifdh al-’aqli), keturunan (hifdh al-nasl) dan harta (hifdh al-mal). 

Salah seorang ulama kontemporer kenamaan (Ibn Asyur) menambahi 1 maqashid lagi, yaitu hifdh al-’irdhy yang bermaterikan penjagaan kehormatan. 

Berangkat dari adanya cita-cita yang berlaku universal (kulliyatu al-khams) oleh syara’ tersebut, maka produk hukum aturan poligami itu pada dasarnya ditetapkan adalah karena adanya latar belakang sejarah dan kebudayaan masyarakat yang melingkupinya saat itu, antara lain:

Pertama, Poligami itu sudah dikenal sejak sebelum Islam. Termasuk di antaranya adalah perbudakan, sudah lebih dulu ada sebelum Islam datang. Buktinya, Nabi Ibrahim alaihi al-salam juga memiliki 2 orang istri, yaitu Sarah dan Hajar. Konon, Nabi Sulaiman alaihissalam memiliki 100 orang istri. 

Secara sosial kemasyarakatan, masyarakat Arab Jahiliyah yang saat itu diwakiliki oleh kabilah Quraisy serta beberapa kabilah di Madinah, bahkan sudah memberlakukan aturan umum bahwa seorang laki-laki bisa menikahi beberapa orang perempuan secara bebas dan tanpa adanya ikatan dan aturan khusus. 

Akibat langsung dari ketiadaan aturan ini, adalah kerancauan nasab. Sebab, bapak bisa menikahi anaknya. Paman bisa menikahi keponakannya. Dan adat budaya jahiliyah ini ternyata juga masih ada masyarakat yang melestariikannya terutama masyarakat Barat, Eropa, Jepang, dan lain sebagainya. 

Budaya-budaya dan perilaku semacam inilah yang hendak diluruskan oleh syariat Islam. Sehingga seolah agama Islam itu sedang menyuarakan, yaitu boleh poligami, tapi ada aturannya. Begitu kiranya. 

Kalau mengikuti tabiat dan tradisi jahiliyah semacam tradisi masyarakat Eropa, Amerika dan beberapa masyarakat di belahan Asia lainnya, maka Pernikahan seolah tidak lagi berlaku sebagai bangunan yang sakral, melainkan beralih tujuan kepada:

  1. Menjaga harta agar tidak diwaris dan lari kepada pihak lain
  2. Anak dianggap sebagai harta. Kalau cantik, maka dinikahi sendiri oleh bapaknya. Alhasil, tidak ada bedanya antara manusia dan hewan.
  3. Kerancauan nasab dan tanggung jawab biologis. Buktinya, sahabat Umar ibn Khathab pernah mengubur hidup-hidup putri beliau di masa Jahiliyah dan membiarkan tetap hidup anak laki-laki beliau
  4. Muncul budaya patriakhi yang menganggap superioritas laki-laki dan keturunan laki-laki, serta menempatkan perempuan pada posisi yang termarginalkan. Bahkan, di kalangan Bani Israel berlaku budaya, perempuan yang tengah menstruasi tidak boleh makan bersama dengan keluarga. Ia harus bersembunyi dan menyisihkan diri. Namun, Islam kemudian meluruskan hal itu lewat Firman Allah SWT:

وَیَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِیضِۖ قُلۡ هُوَ أَذࣰى فَٱعۡتَزِلُوا۟ ٱلنِّسَاۤءَ فِی ٱلۡمَحِیضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ یَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَیۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلتَّوَّ ٰ⁠بِینَ وَیُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِینَ﴾ [البقرة ٢٢٢]

ِAyat ini menegaskan bahwa menstruasi bukan penghalang untuk berkumpul dan bersua bersama. Yang dilarang dari seorang laki-laki terhadap istri yang menstruasi hanyalah melakukan jima’ atau bersenggama dengannya. 

Itulah bagian dari keindahan syariat Islam yang mengubah posisi perempuan dari semula dimarginalkan oleh budaya dan adat masyarakat saat itu, menjadi diangkat dan dimulyakan posisinya oleh syara’

Kedua, Islam datang berlaku sebagai pengatur dan sebagai pedoman hidup (syir’atan wa minhajan) masyarakat. Akibat dari ketiadaan aturan, adalah manusia bisa menikahi siapa saja dan tanpa batas. Namun, Islam menetapkan batasan aturan yang harus dipenuhi saat seorang lakii-laki memutuskan hendak berpoligami (ta’addud al-zaujat), antara lain:

  1. Dasar poligami adalah harus adil

موسوعة محاسن الإسلام ورد شبهات اللئام لأحمد بن سليمان أيوب، ونخبة من الباحثين فكرة وإشراف: د. سليمان الدريع الناشر: دار إيلاف الدولية للنشر والتوزيع (دار وقفية دعوية) الطبعة: الأولى، 1436 هـ – 2015 م دار إيلاف الدولية للنشر والتوزيع ج ١١ ص ٢٢١

المراد بالعدل هنا: هو التسوية بين الزوجات في الأمور المادية: كالطعام، والكسوة، والسكن، والمبيت؛ من غير تفرقة بين زوجة غنية وفقيرة، وعظيمة وحقيرة

والذين يأخذون حكم اللَّه في التعدد يجب أن يأخذوا حكم اللَّه أيضًا في العدل، وتطبيقًا لهذا الشرع يجب أن يعدل بينهما في ما يملك، فيعد لكل واحدة مكانًا كالأخرى، وزمانًا، وفي متاع المكان، وفيما يخص الرجل من متاع نفسه، فليس له أن يجعل شيئًا له قيمة عند واحدة؛ وشيئًا لا قيمة له عند أخرى، لابد من المساواة لا في متاعها فقط بل متاع الزوج الذي يتمتع به عندها، حتى إن بعض المسلمين الأوائل كان يساوي بينهن في النعال التي يلبسها في بيته، فيأتي بها من لون واحد، وشكل واحد، وصنف واحد، وذلك حتى لا تقول واحدة منهن للأخرى: إن زوجي يكون عندي في أحسن هندامًا منه عندك. إلى آخر العدالة في كل ما يدخل في اختيار العبد، لأن العدالة التي لا تدخل في الاختيار لا يكلف اللَّه بها، إذا تم العدل في المكان، والزمان والمتاع وكل الأمور المختارة، أما الميل القلبي فهذا ليس بيد العبد ولا في قدرته واختياره ومثال ذلك:

أن يرتاح عند واحدة ولا يرتاح عند أخرى، أو يرتاح جنسيًا عند واحدة ولا يرتاح عند أخر، لكن الأمر الظاهر لكلٍّ يجب أن تكون القسمة فيه بالسوية حتى لا تُفضَّل واحدة على الأخرى. (١)

Bahkan terdapat penegasan dalam sebuah qaul ulama’, bahwa:

فإذا خاف الرجل الظلم وعدم العدل بينهن حرم عليه الجمع بينهن، قال تعالى: ﴿فَإنْ خِفْتُمْ ألّا تَعْدِلُوا فَواحِدَةً أوْ ما مَلَكَتْ أيْمانُكُمْ ذَلِكَ أدْنى ألّا تَعُولُوا﴾ (النساء: ٣).

Memang bahwa, batasan terbitnya adil adalah bighalabati al-dhan

ولا يشترط اليقين من عدم العدل لحرمة الزواج بالثانية، بل يكفي غلبة الظن

  1. Perempuan yang boleh dinikah hanyalah perempuan-perempuan yang bukan mahram, baik mahram muaqqat, apalagi mahram muabbad.
  2. Maksiimal perempuan yang boleh dipoligami hanyalah empat. Perempuan yang dinikah pasca pernikahan yang keempat, maka akad nikahnya menjadi fasakh (tidak jadi)
  3. Tanggung jawab nafkah sesuai dengan kemampuan

موسوعة محاسن الإسلام ورد شبهات اللئام لأحمد بن سليمان أيوب، ونخبة من الباحثين فكرة وإشراف: د. سليمان الدريع الناشر: دار إيلاف الدولية للنشر والتوزيع (دار وقفية دعوية) الطبعة: الأولى، 1436 هـ – 2015 م دار إيلاف الدولية للنشر والتوزيع ج ١١ ص ٢٢١

فهي شرط للإقدام على الزواج سواءً كان الرجل يريد التزويج بواحدة أو أكثر، فإن عجز عن الإنفاق لا يحل له شرعًا أن يقدم على الزواج وإن كان زواجه الأول كما قال -ﷺ-: «من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء». (١)

ولو قدر على الإنفاق على زوجة واحدة فقط لا يحل له شرعًا أن يتزوج من ثانية لأن هذا يعتبر ظلمًا للثانية، ويوصف الرجل عندئذ بعدم المبالاة بحقوق الغير، وقد اتفق الفقهاء على هذين الشرطين العدالة والقدرة على الإنفاق، لا بد من توافرهما لكل من يريد الزواج وعنده زوجة، لكن إذا حصل وتزوج مع فقد هذين الشرطين أو أحدهما فالزواج صحيح مع الإثم، بمعنى أن اللَّه سيحاسبه على الظلم وعدم القيام بتكاليف الزواج (٢) وإنما حكم العلماء بصحة الزواج مع الإثم

Ketiga, ditinjau dari aspek sosial kemasyarakatan, syariat poligami memiliki hubungan erat dengan aspek bonus demografi (kependudukan) yang berkaitan erat saat itu, yaitu:

  1. Islam hadir saat laki-laki menempati posisi tertinggi dalam masyarakat dan rumah tangga
  2. Kaum laki-laki sering dibawa ke peperangan, baik peperangan dengan kabilah negara lain, maupun peperangan antar suku
  3. Banyak korban dari pihak laki-laki dan menyisakan kaum perempuan sehingga jumlah kaum perempuan lebih banyak dibanding laki-laki
  4. Karena jumlah perempuan banyak dan laki-laki sedikit, maka bila tidak ada syariat poligami atau apabila hanya disyariatkan bahwa seorang laki-laki hanya boleh menikahi seorang perempuan saja, maka risiko terbesar adalah ada pihak perempuan yang tidak menemukan jodohnya. Kematangan usia pernikahan namun disertai ketiadaan jodoh baginya, adalah bagian dari kesia-sia-an dan justru bertentangan dengan aspek keadilan
  5. Kebutuhan qabilah terhadap bonus demografi berupa keturunan laki-laki sebagai angkatan perang

Baginda Nabi Muhammad SAW pernah menyinggung mengenai bonus demografi ini, misalnya lewat sabda beliau:

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء

الشفا بتعريف حقوق المصطفى – وحاشية الشمني ١/‏٨٧ — القاضي عياض (ت ٥٤٤)

(فصل) والضَّرْبُ الثّانِي ما يَتَّفِقُ التَّمَدُّحُ بِكَثْرَتِهِ والفَخْرُ بِوُفُورِهِ كالنِّكاحِ والجاهِ.

أمّا النِّكاحُ فَمُتَّفَقٌ فِيهِ شرعا وعادة فإنه دَلِيلُ الكَمالِ وصِحَّةُ

الذُّكُورِيَّةِ ولَمْ يَزَلِ التَّفاخُرُ بِكَثْرَتِهِ عادَةً مَعْرُوفَةً والتَّمادُحُ بِهِ سِيرَةً ماضِيةً، وأمّا فِي الشَّرْعِ فَسُنَّةٌ مَأْثُورَةٌ، وقَدْ قالَ ابْنُ عَبّاسٍ: أفْضَلُ هَذِهِ الأُمَّةِ أكْثَرُها نِساءً، مُشِيرًا إلَيْهِ ﷺ وقَد قال ﷺ (تَناكَحُوا تَناسَلُوا فَإنِّي مُباهٍ بِكُمُ الأُمَمَ) ونَهى عَنِ التَّبَتُّلِ مَعَ ما فِيهِ مِن قَمْعِ الشَّهْوَةِ وغَضِّ البَصَرِ اللَّذَيْنِ نَبَّهَ عَلَيْهِما ﷺ بِقَوْلِهِ (مَن كانَ ذا طَوْلٍ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإنَّهُ أغَضُّ لِلْبَصَرِ وأحْصنُ لِلْفَرْجِ) حَتّى لَمْ يَرَهُ العُلَماءُ مِمّا يَقْدَحُ فِي الزُّهْدِ، قالَ سَهْلُ ابن عَبْدِ اللَّهِ: قَدْ حببن إلى سَيَّدِ المُرْسَلِينَ فَكَيْفَ يُزْهَدُ فِيهِنَّ؟ ونَحْوهُ لابْنِ عُيَيْنَةَ، وقَدْ كانَ زُهّادُ الصَّحابَةِ ﵃ كَثِيرِي الزَّوْجاتِ والسَّرارِي كَثِيرِي النِّكاحِ، وحُكِيَ فِي ذَلِكَ عَنْ عَلِيٍّ والحَسَنِ وابْنِ عُمَرَ وغَيْرِهِمْ غَيْرُ شئ، وقَدْ كَرِهَ غَيْرُ واحِدٍ أنْ يَلْقى اللَّهَ عَزْبًا

Sampai di sini, maka benang merah yang bisa kita ambil dari disyariatkannya poligami dalam Islam pada dasarnya berkutat pada hal-hal sebagai berikut:

  1. Jelasnya nasab dan keturunan. Kejelasan ini memiliki dampak sosial berupa tanggung jawab biologis dan hukum seorang ayah terhadap anaknya. Tidak serta merta berupa tanggung jawab biologis saja sebagaimana yang terjadi pada anak-anak hasil perzinaan
  2. Menjaga sakralitas bangunan pernikahan. Pernikahan yang diikat dengan kalimat syahadah ini merupakan ikatan yang suci dan menjadi pembeda secara tegas antara manusia dengan hewan
  3. Poligami tidak bisa lari dari menjaga jalinan ikatan keluarga yaitu membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah
  4. Kalau poligami justru berujung pada keterlantaran keturunan dan meninggalkan generasi-generasi yang lemah, maka itu tandanya ada penyimpangan hukum (law disturbance) terhadap legalitas poligami. Pelaku poligami semata-mata hanya menuruti hawa nafsu dan bukan melestarikan anjuran syara’. 

سورة النساء (٤): آية ٩]

ولْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِن خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعافًا خافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ ولْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (٩)

Imam Fakhruddin al-Razy menafsiri ayat ini:

لا شَكَّ أنَّ قَوْلَهُ: ولْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِن خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعافًا خافُوا عَلَيْهِمْ يُوجِبُ الِاحْتِياطَ لِلذُّرِّيَّةِ الضِّعافِ

Bagi pelaku yang melakukan penyimpangan hukum poligami ini, sebagaimana disampaikan oleh para ulama terdahulu, adalah:

لكن إذا حصل وتزوج مع فقد هذين الشرطين أو أحدهما فالزواج صحيح مع الإثم، بمعنى أن اللَّه سيحاسبه على الظلم وعدم القيام بتكاليف الزواج (٢) وإنما حكم العلماء بصحة الزواج مع الإثم

Pernikahannya sah, akan tetapi pelakunya berdosa kepada Allah SWT. 

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content