elsamsi log

Menu

Politik Pangan: Akibat Diversifikasi Produk Sawit, Harga Make-Up bisa terdongkrak naik

Politik Pangan: Akibat Diversifikasi Produk Sawit, Harga Make-Up bisa terdongkrak naik

Diversifikasi produk terkadang menjadi berkah bagi masyarakat produsen secara langsung.  Namun, secara luas, diversifikasi ini juga bisa menjadi boomerang yang bisa berbalik terhadap masyarakat itu sendiri. Tak urung, hal ini juga dialami oleh masyarakat kita saat ini tatkala dalam waktu bersamaan harga minyak sawit di pasaran dunia melambung tinggi melebihi di pasar domestik. 

Buntut yang dirasakan masyarakat, adalah ada upaya melarikan produk sawit tersebut ke luar negeri sehingga pasokan sawit di pasar domestik menjadi menurun. Akibatnya, harga-harga produk turunan sawit ikut melambung. 

Meski pemerintah sudah menggelontorkan subsidi ke produsen dan melangsungkan penandatanganan komitmen penjagaan stok produk sebesar 270 juta liter per bulan, akan tetapi, untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar, produsen bisa mengalihkan produknya tersebut ke berbagai produk turunan lain atas nama bukan produk minyak yang dikunci perdagangannya ke luar negeri.

Sebagaimana diberitakan bahwa tingginya harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan Tandan Buah Segar (TBS) pada periode 4-10 Maret 2022 mengalami kenaikan cukup signifikan. Hal ini khususnya berlaku pada wilayah petani sawit, seperti Jambi. 

Harga CPO di Jambi naik sebesar Rp 411 dari Rp14.655 menjadi Rp15.066 per kilogram. Harga TBS naik sebesar Rp248 dari Rp 2.803 menjadi Rp 3.051 per kilogram. 

Selain harga CPO dan TBS kelapa sawit, harga inti sawit juga mengalami kenaikan sebesar Rp 529 dari Rp 12.223 menjadi Rp12.743 per kilogram. 

Bagaimana diversifikasi itu mempengaruhi melambungnya harga minyak di pasaran domestik. Simak uraiannya!

Berdasarkan data Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (Ikabi), produksi minyak sawit mentah (CPO) Indonesia mencapai 46 juta ton dan produksi minyak inti sawit mentah (CPKO) mencapai 3 juta ton. Jumlah tersebut membuat Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Pada tahun 2019, saat harga minyak sawit jatuh di pasaran, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), pernah menganjurkan agar sawit dikonversi menjadi produk turunan. Produk itu adalah lilin. Lilin olahan yang berasal dari minyak sawit dapat menjadi subtitusi parafin untuk pembuatan kain batik. 

Di samping sebagai lilin substitusi parafin, minyak sawit juga bisa diolah menjadi bahan bakar biodesel, bahkan bisa diolah menjadi mentega, cokelat, kosmetik, sabun mandi, shampoo, dan berbagai hal lain. 

Jadi, ketika harga sawit melambung tinggi seperti sekarang inii, ada kemungkinan beberapa produk di atas akan ikut merangkak naik. 

Ketika minyak sawit dikonversi menjadi bahan bakar biodiesel, pelarangan ekspor minyak goreng akan berupaya dialihkan oleh perusahaan menjadi ekspor biodiesel. Tujuannya untuk apa? Supaya mereka mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya sesuai dengan harga di sawit pasaran dunia. 

Para petani produsen sawit pun juga bisa mengambil langkah penjualan ke sektor bahan bakar ini dibanding menjualnya ke produsen minyak goreng olahan di pasaran domestik. 

Itulah sekilas gambaran, betapa harga minyak dunia dapat berpengaruh terhadap iklim perekonomian domestik. Termasuk di dalamnya adalah akibat kebijakan diversifikasi produk turunan sawit.

Apakah diversifikasi produk itu tidak penting? 

Sudah barang tentu, hal itu adalah penting ketika situasi harga sawit ada dalam kondisi normal atau sedang jatuh. Namun, ketika terjadi lonjakan seperti sekarang, hal itu dapat menjadi blunder tersendiri bagi pemerintah disebabkan sulitnya melakukan pengendalian. 

Muhammad Syamsudin

Peneliti eL-Samsi dan Aswaja NU Center PWNU Jatim Bid. Ekonomi Syariah

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: