elsamsi log

Menu

Problematika Bai’ Istighlal: ‘Jual Beli ataukah Gadai”

Problematika Bai’ Istighlal: ‘Jual Beli ataukah Gadai”

Pengertian Bai’ Istighlal

Meskipun nama akad ini memiliki label bai’, akan tetapi sebenarnya bai’ istighlal bukanlah akad murni jual beli. Dalam kajian yang digelar oleh redaksi el-samsi, sebenarnya akad ini lebih tepat bila dimasukkan dalam akad tijarah, disebabkan ada unsur taqlib terhadap ma’qud ‘alaih-nya. Lebih lengkap mari kita kaji bagaimana muncul istilah bai’ istighlal ini. 

Perlu diketahuii bahwa kalau kita mempelajari istilah bai istighlal secara harfiyah, maka jangan terjebak dalam memberikan arti sebagai jual beli istighlal. Langkah yang harus dilakukan oleh seorang pemerhatii fikih mu’amalah, adalah mengurai prosesnya bai’ istighlal itu, yaitu:

  1. Ada praktik jual beli putus (bai’), dan 
  2. Ada praktik mencari ghullah (manfaat) dari barang yang sudah dibeli secara putus. 

Perhatikan beberapa definisi dari bai’ istighlal berikut yang berhasil penulis rangkum dari berbagai sumber:

بَيْعُ الِاسْتِغْلالِ هُوَ بَيْعُ وفاءٍ عَلى أنْ يَسْتَأْجِرَهُ البائِعُ ( مجلة الأحكام العدلية ١/‏٣١ — مجموعة من المؤلفين الكتاب الأول في البيوع←المقدمة: في بيان الاصطلاحات الفقهية المتعلقة بالبيوع)

يجوز أن يتفق الطرفان في بيع الوفاء على أن يستأجر البائع من المشتري العقار المبيع وفاء بأجر معلوم. وعندئذ يبقى المبيع في يد البائع بحكم الإجارة، ويؤدي الأجر إلى المشتري، لأن منافع المبيع ملكه فله أن يستعملها أو يستغلها بإجاره للبائع نفسه أو لغيره، وإذا اتفقا على إيجاره للبائع سمي عندئذ: بيع الاستغلال. [ر: المجلة م ١١٩ وشروحها]. (مجلة مجمع الفقه الإسلامي ٧/‏١١٤٢ — مجموعة من المؤلفين – العدد السابع←موضوع: بيع الوفاء←بيع الوفاء وعقد الرهن إعداد فضيلة الشيخ مصطفى أحمد الزرقاء(

بيع الاستغلال: بيع المال وفاء (البيع بالوفاء) على أن يستأجر البائع. (معجم لغة الفقهاء ١/‏١١٣ — محمد قلعجي (معاصر) – حرف الباء)

بيع الاستغلال هو بيع المال وفاء على أن يستأجره البائع.

قال الأستاذ المحاسني في شرحه للمجلة: وهو بحكم البيع بالوفاء وأخص منه ويجوز إيجار المبيع للبائع ولغيره وهذا البيع مؤلف من البيع الوفائي والاستئجار (مجلة مجمع الفقه الإسلامي ٧/‏١٣٩٢ — مجموعة من المؤلفين –  العدد السابع←موضوع: بيع الوفاء←بيع الوفاء إعداد د. عبد الله محمد عبد الله)

Berangkat dari ibarat di atas, maka logika dasar dari bai’ istighlal, adalah setiap barang yang sudah dibeli, maka boleh saja bagi pihak pembelinya untuk memanfaatkannya sendiri, menyewakannya, memindahkan kepemilikan, menggadaikan dan lain sebagainya. Kaidah asalnya, adalah:

كل ما جاز بيعه جازت إجارته ووهبه ووقفه ورهنه

“Setiap barang yang bisa dijualbelikan, maka bisa pula disewakan, dihibahkan, diwakafkan dan digadaikan.”

Problematika Bai’ Istighlal

Problematika dari bai’ istighlal sebagaimana penjelasan di atas, adalah bagaimana bila barang itu dibeli dari seorang penjual tertentu, kemudian setelah barang itu diterima pembelinya, lalu disewakan ke penjual asalnya? 

Di sinilah akhirnya timbul berbagai cabangg pembahasan. Sebenarnya itu termasuk jual beli beneran ataukah pura-pura jual beli? Kasarnya begitu. 

Lebih pelik lagi, apabila dalam mekanisme jual beli itu disertai dengan adanya tambahan durasi waktu kontrak. Setelah selesai kontrak, maka keberadaan mabi’ akan dibeli ulang oleh penjual – yang mana barang tersebut berasal. Misalnya setelah 2 tahun, pihak penjual mengikat janji dengan pembeli bahwa barangnya akan ditebus lagi. 

Akad penebusan kembali ini, menurut versi kalangan Hanafiyah disebut dengan istilah bai’ bi al-wafa’. Menurut kalangan Malikiyah dikenal dengan istilah bai’ al-tsunya. Menurut kalangan Syafiiyah, disebut gadai (rahn). Berangkat dari sini, muncul kasus-kasus cabang, antara lain:

Pertama, Cabang dari Bai’ bi Al-Wafa’

Karena mabi’ sudah dikuasai dan dibeli oleh musytary, maka pihak musytary boleh untuk menyewakannya kepada siapa saja, tak pandang bulu. Termasuk ke penjual asal. Akad inilah yang kemudian diisebut akad bai’ istighlal. Mengapa? Karena pihak musyatary mendapatkan ujrah / kura’ dari hasil menyewakan aset yang dibelinya. 

Sebagaimana diketahui, bahwa karakter dari ujrah (fee) adalah cenderung tetap (fixed). Oleh karena itu, pemanfaatan bai’ istighlal ini biasanya diberlakukan pada penyaluran dana investor oleh Manager Investasi (fund manager) dari produk pasar modal reksadana pendapatan tetap. 

Nah, ijarah dengan ju’alah itu adalah akad yang 11 – 12. Sesuatu yang bisa diakadi dengan akad ijarah, maka bisa pula diakadi dengan akad ju’alah

Kalau diakadi dengan akad ju’alah, maka pihak investor berhak mendapatkan ju’lu sesuai dengan kinerja produksi dari mabi’ yang sudah dibelinya. Kalau kinerjanya bagus, maka ju’lu yang diperoleh akan tinggi. Jika kinerjanya buruk, maka ju’lu yang diperoleh akan rendah. Karakter ju’lu adalah cenderung mengambang (floating). 

Nah, akad ju’alah yang mengiringi mabi’ yang diserahkan kembali oleh musytari kepada penjual guna dimanfaatkan dalam kinerja produksi ini juga disebut istighlal. Gabungan dari akad bai’ dan ju’alah juga disebut bai’ istighlal. 

Alhasil, bai’ istighlal menurut versi madzhab ini bisa diartikan sebagai 2, yaitu:

  1. Kombinasi antara bai’ bi al-wafa dengan akad ijarah. 
  2. Kombinasi antara bai’ bi al-wafa dengan akad ju’alah

Kedua, Cabang dari Bai’ bi al-Tsunya

Bai’ al-tsunya ini memiliki karakteristik yang sama dengan bai’ bi al-wafa’. Jadi pencabangannya pun sama. Hanya berbeda istilah saja. 

Ketiga, Cabang dari Akad Gadai (Rahn)

Akad gadai (rahn) memiliki karakteristik yaitu pinjam uang dengan jaminan barang. Barang yang dijaminkan bisa dilelang manakala telah jatuh tempo pelunasan namun pihak yang menggadaikan tidak bisa melunasinya. 

Karakteristik dari akad gadai adalah mengikuti akad utang (qardl). Oleh karenanya, pemanfaatan barang gadai oleh piihak investor – yang bertindak selaku pegadaian – adalah dilarang dalam Madzhab Syafii karena termasuk bagian dari qardlu jara naf’an (utang menarik kemanfaatan). 

Itu sebabnya, akad bai’ bi al-wafa yang disertai dengan ijarah mabi’ atau ju’alah mabi’, menurut perspektif madzhab ini hukumnya adalah sama dengan praktik riba’ al-qardly sehingga dilarang. 

Penguat (qarinah) indikator terjadinya transaksii itu adalah adanya muddah (waktu kontrak) sehingga bertentangan dengan konsepsi bai’ yang harus bersifat dawam. 

Namun, qarinah ini juga bisa diminimalisir seiring penghilangan durasi kontrak dari akad rahn. Dengan penghilangan ini, menandakan bahwa sifat kepemilikan mabi’ oleh musytary menjadii berlangsung selamanya (dawam). Dengan begitu, pihak musytary boleh menjualnya kembali kepada siapa saja, termasuk kepada perusahaan – tempat asal diperolehnya mabi’ itu oleh musytary. Alhasil, akadnya menjadi bukan akad gadai, melainkan akad jual beli putus.

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: