elsamsi log

Menu

Resilence Kaum Santri (Kendel, Kandel, Bandel, Ngandel) dan Ancaman Resesi 2023

Resilence Kaum Santri (Kendel, Kandel, Bandel, Ngandel) dan Ancaman Resesi 2023

Dunia tengah dilanda resesi. Krisis energi yang melanda sejumlah negara barat yang diakibatkan oleh perang Rusia-Ukraina membawa dampak pada gelombang tsunami resesi di sejumlah negara. Gelombang resesi ini, ditandai oleh beberapa hal, antara lain:

Pertama, Kenaikan Suku Bunga

Kenaikan (Inflasi) suku bunga the fed telah menyebabkan larinya sejumlah investor potensial dari suatu negara beralih ke negara the haven. Akibat dari kenaikan ini, adalah pinjaman utang luar negeri menjadi membengkak seiring bunga pinjaman yang harus dibayarkan ke negeri Paman Sam tersebut. 

Dampak tidak langsungnya, para investor akan berspekulasi dengan jalan mencari aman melakukan langkah mengamankan modalnya. Akibatnya, banyak proyek yang akan batal disebabkan dampak kenaikan harga bahan baku proyeknya. 

Kedua, Banyak PHK

PHK terjadi seiring banyak industri yang macet karena tidak bisa mengekspor produknya ke luar negeri. Negeri tempat tujuan ekspor terkonsentrasi pada penyelesaian utang luar negerinya karena jika tidak, mereka akan tenggelam oleh utang ribawi tersebut. 

Karena ekspor luar negeri berpengaruh terhadap pendapatan perusahaan, maka akibat terguncangnya rantai distribusi tersebut, sedikit pula pemasukan yang di dapat oleh perusahaan. Sementara itu, mereka harus menanggung gaji para karyawan dan buruh. Dampak besarnya, langkah efisiensi akan dilakukan oleh perusahaan, dengan jalan mem-PHK karyawannya. 

Ketiga, Deflasi Mata Uang

Adanya inflasi pada suku bunga pinjaman, berakibat pada pelemahan pada nilai tukar mata uang dalam negeri. Pelemahan ini dikenal dengan istilah deflasi. Sebagai akibatnya, harga barang-barang menjadi terkerek ikut naik terhadap mata uang dalam negeri. Harga barang pokok menjadi ikut terkerek pula. 

Keempat, Pendapatan Domestik Bruto menurun

Apabila para investor yang terdiri sejumlah perusahaan beralih dari suatu negara ke negara lain, maka akan terjadi kemacetan sumber pendapatan domestik bruto negara bersangkutan. Demikian halnya, apabila terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), maka produk-produk siap ekspor akan menurun jumlahnya, sehingga berakibat pada pendapatan perusahaan dan menurunnya pendapatan dari sektor pajak dan cukai ekspor-impor. Di saat seperti ini, maka negara terpaksa harus mengandalkan hasil-hasil dan produk dalam negeri serta sektor UMKM (Usaha Masyarakat Kecil dan Menengah). Seberapa besar ketahanan suatu negara, tergantung sepenuhnya pada keberdayaan UMKM itu. 

Posisi Santri dalam Resesi

Santri adalah masyarakat terdidik dengan pondasi aqidah yang kuat. Santri adalah pribadi yang terlatih dengan kemandirian dan lebih cepat dalam beradaptasi dengan situasi dan kondisi di sekitarnya. 

Karena bakat dan kemampuan itulah, santri bisa dikategorikan sebagai bercitra resilience (bandel, tangguh, adaptable, terdidik dan terlatih). Seberapa besar guncangan dan gangguan yang melingkupinya, akan mudah diatasi oleh mereka karena posisinya selaku pribadi resilience tersebut. 

Bakat resilience ini, sangat diperlukan dalam menghadapi ancaman resesi. Presiden Joko Widodo sudah memperingatkan bahwa 2023 adalah tahun gelap. Tentu, warning dari seorang Kepala Negara ini bukan dalam rangka menakut-nakuti, bukan? Tentu, warning itu lahir karena melihat fakta di lapangan, bahwa dunia memang tidak sedang baik-baik saja. Di sinilah posisi santri sebagai makhluk resilience ini diperlukan.

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: