elsamsi log

Menu

Rincian Dugaan terjadinya Konspirasi Tindak Pidana Pencucian Uang oleh PT Amnifood Manufacturing Indonesia, PT KCI Viplus dan PT Fvtech Vtube

Rincian Dugaan terjadinya Konspirasi Tindak Pidana Pencucian Uang oleh PT Amnifood Manufacturing Indonesia, PT KCI Viplus dan PT Fvtech Vtube

Ketika kita mencermati produk yang dijualbelikan VIPlus, kita mendapati bahwa ternyata produk tersebut adalah diproduksi oleh PT Aimfood Manufacturing Indonesia (AMI), yaitu sebuah perusahaan resmi yang berlisensi dan terdaftar di keanggotaan Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI). Tapi mengapa produk itu dijual oleh Viplus di bawah payung usaha PT Komunitas Cerdas Indonesia? Dan mengapa Viplus bekerjasama dengan Vtube yang didirikan oleh Jack Goay? Mengapa pula Jack Goay berperan selaku yang memperkenalkan Viplus kepada anggota Vtube? 

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi cukup menarik, seiring adanya kesinambungan dari ketiga PT yang berbeda, namun menangani jenis pemasaran (marketing yang kurang lebih sama). PT AMI bergerak di dunia MLM. PT KCI (VIPlus) bergerak di bidang MLM. PT Fvtech (Vtube) secara tegas adalah money game. Ada apa dengan ketiga perusahaan ini? Dan mengapa PT AMI mahu bekerjasama dengan VIPlus yang menjalin kerjasama dengan Vtube, padahal hampir semua media pemberitaan sudah mengkhabarkan bahwa Vtube merupakan platform yang secara nyata telah melakukan praktik money game ?

Sekilas tentang Money Laundering

Sebuah organisasi milik pemerintah Amerika bertajuk US Treasury, Financial Crimes Enforcement Network telah menulis sebuah artikel bertajuk History of Anti-Money Laundering Laws. Di dalam artikel tersebut disampaikan definisi mengenai money laundering sebagai berikut:

Money laundering is the process of making illegally-gained proceeds (i.e. “dirty money”) appear legal (i.e. “clean”). Typically, it involves three steps: placement, layering and integration.”

(Money laundering adalah suatu proses untuk menjadikan harta yang diperoleh secara ilegal (harta haram) menjadi seolah nampak legal (halal). Menurut tipikalnya, hal itu dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu: 1) penempatan (placement), 2) membentuk barier (layering) dan 3) penggabungan (integration). 

Mekanisme money laundering ini bermula dengan harta yang diperoleh dari jalan tidak halal (the illegitimate funds) ditanamkan ke sebuah jalur usaha yang bergerak di bidang keuangan dan resmi (legitimate financial system). Selanjutnya, harta tersebut disertakan dalam sirkulasi keuangan dengan tujuan membuat bingung (creating confusion). Ada juga tahap kedua ini dilakukan dengan jalan mengirim ke sejumlah rekening. Tujuannya juga sama, yaitu tidak terlacaknya asal-usul harta haram tersebut. 

Pada akhirnya, semua harta haram itu kemudian akan terkumpul (diintegrasikan) ke suatu jalur sistem keuangan resmi dan berakhir pada perolehan pendapatan yang seolah-olah menjadi nampak bersih / halal (clean). Jika dicermati secara lebih detail, pada dasarnya sifat jalur sistem keuangan ini sebenarnya hanyalah sebuah rekayasa tambahan saja (additional systems only). Ia hanya berperan sebagai layering (menciptakan sekat / barier) yang fungsinya untuk pengelabuan semata. 

Di dalam syariat Islam, layering ini dikenal dengan istilah tadlis, yang maknanya adalah identik dengan istilah pemalsuan. Pemalsuan terjadi karena aset haram bisa berubah menjadi nampak halal, karena adanya financial engineering (rekayasa sistem keuangan) tersebut. 

Bagaimana PT AMI, VIPlus dan VTube diduga bekerjasama melakukan Aksi Kriminal Money Laundering?

Bermula dari PT Amnifood Manufacturing Indonesia (PT AMI), adalah sebuah perusahaan yang secara resmi diakui dan terdaftar di Badan Hukum Indonesia. Ia juga terdaftar sebagai salah satu perusahaan yang tergabung di dalam Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia (APLI) dengan brand industri yang memegang lisensi penjualan produk Makanan dan Minuman. Di antara produk yang dipasarkannya adalah terdiri dari: Susu, Klorofil, Buah Naga, Kopi Hijau, Delima, Gaji Bery, Manggis, Teh Hijau Gonoderma, Jahe dan minuman Juss. 

Alamat kantor PT AMI berada di Kawasan Industri MM 2100, Jl. Selayar B2 No.7 Kel. Mekarwangi, Kec. Cikarang Barat,Kab. Bekasi, Jawa Barat, Indonesia, 17530, Bekasi – Jawa Barat. Alamat website resminya adalah aimfood.co.id. 

Sementara itu PT Komunitas Cerdas Indonesia (PT KCI), berdasarkan riwayat usahanya, pernah menjalankan sebuah usaha dengan brand Funbizz Funshare FunDrink dengan pola pemasaran yang juga dilakukan secara sistem jaringan (network marketting). Akan tetapi, Funbizz ini tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan oleh pendirinya dan diindiikasi sulit berkembang. Pada akhiirnya, PT KCI mendaftarkan brand Platform baru dengan dalih e-commerce, namun juga dijalankan melalui sistem jaringan. Brand produk baru ini adalah Viplus. Belum ada informasi resmi dari APLI, Kominfo dan OJK, apakah Viplus ini telah lolos dari ujii terbatas atau tidak. Dalam analisa penulis, PT KCI akan sulit lolos. 

Namun fakta di lapangan, Viplus yang menjadi platform dari PT KCI sudah mencatut nama APLI dan Kominfo dalam promosinya yang dilakukan di bawah bendera bertajuk My.future Schoool Business Academy. Padahal, notabene bendera ini adalah benderanya PT Fvtech yang pernah menerbitkan Vtube dan secara tegas dinyatakan wajib berhenti oleh Satgas Waspada Investasi. Hasil pengkajian sejumlah peneliti dan pemerhati akad muamalah, menyebutkan bahwa Vtube adalah money game sehingga haram berbisnis dengannya. 

Praktik terjadinya Money Laundering

Rumus utama praktik kejahatan money laundering adalah dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu placement, layering and integration

Placement, terjadi karena anggota Vtube bisa melakukan konversi langsung berdasar levelnya di Vtube ke level keanggotaan di Viplus. Secara tidak langsung, praktik ini memiliki fungsi awal untuk melakukan pembingungan (to create confusion). Indikasii adanya upaya untuk melakukan pembingungan ini adalah adanya inisiatif praktik: 

  1. Megacopy, yaitu suatu proses pengubahan keanggotaan dengan melalui prosedur tertentu yang ditetapkan oleh Viplus untuk para Vtuber. 
  2. Tetapnya level keanggotaan Vtuber yang berhasil dikonversi ke Vipluser, tanpa adanya prestasi penjualan, merupakan indikasi dari penyembunyian cara pencairan VP yang diubah menjjadi PP (Purchase Poin). Padahal, PP pada awalnya adalah dimaksudkan sebagai bonus pembelian produk oleh member Viplus dan dihargai sebesar minimal 1000 rupiah (bonus) atau 2.710 (belanja). 
  3. Akibat konversi Vtuber ke Viplus ini, menjadikan VP-nya Vtuber beralih menjadi PP Viplus dengan nilai per PP-nya diakui sebagai bonus (Rp. 1000). Pertanyaannya, adalah “bonus” dari melakukan apa? Bonus hanya dari konversi dari Vtube ke Viplus saja? Secara syara’ tentu ini tidak bisa disebut sebagai bonus, sebab VP adalah entitas haram yang diperoleh dari akad ju’alah fasidah. Ketika diubah menjadi PP, dan diakui sebagai “bonus”, maka “bonus” ini adalah buah dari akad “hibah” fasidah. Secara hibah, maka unsur fasadnya, adalah karena ada tuntutan pencarian anggota akibat dari pemberian itu. Alhasil, tidak memenuhi kategori “hibah” dan sekaligus tidak memenuhi “ujrah” dari suatu “kulfah” (kerja). 
  4. Money laundering terjadi karena antara member Viplus yang sejak awal ikut Viplus dan mendapatkan Purchase Poin (PP) dari aksi belanja menjadi tercampur PP-nya dengan member konversian dari Vtube yang menggunakan harta haramnya berupa VP untuk mempertahankan levelnya di Viplus sehingga ia dianugerahi Purchase Poin (PP) tanpa aksi belanja. Inilah poin utama terjadinya layering (penciptaan barier) yang merupakan indikasi dari pencucian VP-nya Vtuber yang telah berubah menjadi PP. 
  5. Praktek integrasi yang merupakan bagian akhir dari Tindak Pidana Pencucian Uang TPPU terjadi ketika antara Vipluser konversian dengan Vipluser yang sejak awal hanya ikut di Viplus, sama-sama menikmati bonus pencairan akibat PP. Bonus ini sebenarnya adalah berasal dari uangnya anggota akibat langsung dari praktik MLM yang diperankan oleh Viplus setelah memark-up harga produk yang diproduksi oleh PT AMI. Sebagai indikasi dari terjadinya mark-up harga itu, dalam hal ini sudah pernah peneliti sampaikan dalam tulisan terdahulu. Salah satu contohnya adalah produk Glucoff yang dijual oleh Viplus dengan harga 390 ribu rupiah. Padahal untuk kategori produk dan manfaat yang sama di lapangan, memiliki kisaran harga hanya sebesar 49 ribu rupiah dan diedarkan oleh PT Kimia Farma dan K24. Itupun cara memperolehnya harus dilakukan dengan resep dokter. Sementara produk Glucoff dijual bebas dengan harga dua setengah kali lipatnya produk tersebut, yaitu Glucovance. 

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa ini, peneliti bersama tim menyimpulkan bahwa besar dugaan telah terjadi praktik money laundering yang melibatkan ketiga perusahaan dengan perannya masing-masing sebagai berikut:

  1. PT Fvtech selaku pihak yang memerankan praktik money game lewat platform yang diciptakannya, yaitu Vtube
  2. PT KCI dengan platform barunya berupa Viplus, adalah berperan selaku tempat terjadinya placement, layering dan integration dari hasil kejahatan money game lewat Vtube dengan instrumen layering (tadlis-nya) berupa PP yang notabene asalnya merupakan bonus penjualan produk-produk PT AMI oleh PT KCI lewat Platform Viplus namun beralih fungsi menjadi instrumen pencuci VP-nya Vtuber menjadi PP. Sebagaimana hasil kajian yang telah lalu, VP merupakan poin fiktif digital dan statusnya adalah harta ma’dum sehingga tidak bisa ditasarufkan dalam praktik mu’awadlah (pertukaran) apapun, sebelum dicairkan sendiri oleh perusahaan Vtube.  
  3. PT AMI adalah berperan selaku perusahaan resmi dan legal dan bergerak di bidang penyedia produk yang dipasarkan oleh PT KCI lewat Viplus.

Diteliti oleh:

Muhammad Syamsudin, S.Si., M.Ag

  • Direktur eL-Samsi (Lembaga Studi Akad Muamalah Syariah Indonesia) 
  • Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jatim 
  • Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah – PW LBMNU Jawa Timur. 
Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

1 Comment

Avarage Rating:
  • 0 / 10
  • Muhhaji , April 20, 2021 @ 11:28 pm

    Nyuwun sewu pak…hari ini tanggal 20 april kok bpak DR.H eman suryaman malah membela vtube
    ..
    Padahal beliau juga buat artikel di NU online..
    Mohon pnjelasan ipun

%d blogger menyukai ini: