el-samsi-logo
Edit Content
elsamsi log

Media ini dihidupi oleh jaringan peneliti dan pemerhati kajian ekonomi syariah serta para santri pegiat Bahtsul Masail dan Komunitas Kajian Fikih Terapan (KFT)

Anda Ingin Donasi ?

BRI – 7415-010-0539-9535 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Komunitas eL-Samsi : Sharia’s Transaction Watch

Bank Jatim: 0362227321 [SAMSUDIN]
– Peruntukan Donasi untuk Pengembangan “Perpustakaan Santri Mahasiswa” Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri – P. Bawean, Sangkapura, Kabupaten Gresik, 61181

Hubungi Kami :

Img 20230723 Wa0000

Logika Harga dijamin Barang

Kalau kita berbicara mengenai jaminan / agunan, maka secara otomatis alam bawah sadar kita akan digiring pada aplikasi akad gadai (rahn). Sebagaimana hal itu tercermin dari ta’rif gadai itu sendiri, yakni: 

فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب = القول المختار في شرح غاية الاختصار ١/‏١٧١ — محمد بن قاسم الغزي (ت ٩١٨)

….الرهن وهو لغةً الثبوت، وشرعا جعل عين مالية وثيقةً بِدَينٍ يُستوفى منها عند تعذر الوفاء

“…..gadai secara bahasa bermakna tsubut (ketetapan), dan secara syara’ bermakna menjadikan barang yang masuk kategori harta sebagai jaminan atas utang (dain) yang akan dilunasi dengan barang itu apabila terjadi kesulitan melunasinya.”

Dain dan Qardl

Hal yang menarik dari definisi di atas, adalah penggunaan istilah dain (utang) pada akad gadai yang sejatinya merupakan cabang dari akad qardl yang bermakna utang-piutang juga. Bedanya, istilah dain (utang) muncul karena ada wasilah barang. Sementara dalam qardl (utang), tidak terdapat wasilah berupa barang. 

Istilah dain yang sama juga ditemui pada harga (ra’su al-maal) yang belum ditunaikan (حالا أو مؤجلا) pada akad salam. Itu secara tidak langsung juga bisa dipahami bahwa harga barang pada akad salam juga bisa terdiri atas “harga yang dijamin dengan barang”, sebagaimana hal itu berlaku pada akad gadai (rahn). 

Karena di-qiyas-kan dengan gadai (rahn), maka batasan diperbolehkannya jaminan untuk dain al-salam, yang terdiri dari harga barang yang belum ditunaikan dari akad order – adalah qiyas pula terhadap marhun. Alhasil, berlaku ketentuan sebagaimana penuturan dari Syeikh Abi Syaja’ pengarang kitab Matan Taqrib dan disyarahi oleh Syeikh Muhammad ibn Qasim al-Ghazy rahimahumullah:

فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب = القول المختار في شرح غاية الاختصار ١/‏١٧١ — محمد بن قاسم الغزي (ت ٩١٨)

وذكَر المصنف ضابط المرهون في قوله: (وكل ما جاز بيعه جاز رهنه في الديون إذا استقر ثبوتها في الذمة)

“Mushannif menuturkan mengenai batasan barang yang bisa digadaikan di dalam qaulnya : “segala sesuatu yang bisa dijualbelikan maka bisa pula dijaminkan untuk utang (duyun) apabila utang itu sudah berlaku pasti sebagai tanggungan (dzimmah).”

Sebagai ilustrasinya: “Anda memesan barang seharga 200.000 rupiah, dan akan ditunaikan nanti pada tanggal 7 awal bulan.” 

Harga sebesar 200.000 rupiah di sini sudah memenuhi syarat sebagai utang yang tsubut fi al-dzimmah (dain). Oleh karena itu, utang tersebut bisa dijamin dengan barang sebagaimana hal itu juga berlaku pada akad gadai (rahn) yang menjadi landasan qiyas-nya.

Penyitaan Barang Jaminan Akad Salam

Kondisi seseorang tidak bisa diprediksi.ٍ Sekarang kaya, belum tentu satu bulan kemudian dia masih tetap kaya. Sekarang mampu, belum tentu 1 bulan kemudian dia mampu. Demikian berlaku sebaliknya. Yang jelas, kondisi manusia itu tidak pasti. Kadang di atas, kadang pula di bawah. 

Nah, seorang pemesan barang (muslim), juga bisa jadi akan mengalami hal yang sama. Di saat seperti ini, maka dibutuhkan pelunakan terhadap dain al-salam (utang order) dari muslim (pengorder) oleh muslim ilaih (penjual) lewat barang jaminan.

Problemnya, bolehkah barang jaminan tersebut dijual oleh muslim ilaih dengan alasan menutupi utang muslim apabila saat hari H pelunasan ternyata pihak muslim tidak bisa melunasi dain al-salam-nya? 

Jawabnya adalah bisa dengan qiyas pada bisanya marhun (barang agunan) dijual saat terjadi kondisi yang sama atas utang (duyun) gadai. Wallahu a’lam.

Muhammad Syamsudin
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur, Wakil Rais Syuriyah PCNU Bawean, Wakil Ketua Majelis Ekonomi Syariah (MES) PD DMI Kabupaten Gresik

Tinggalkan Balasan

Skip to content