elsamsi log

Menu

Status Aset Penyusun NFT dalam Fikih

Status Aset Penyusun NFT dalam Fikih

Untuk berbicara mengenai boleh tidaknya NFT untuk ditransaksikan, maka kita harus mengingat kembali bahwa syarat utama dari suatu barang bisa ditransaksikan, adalah barang tersebut harus bersifat wujud secara pasti (wujud muhaqqaq) terlebih dulu. Ini merupakan prinsip dasar utama yang dipedomani (mu’tamad). Selanjutnya, dari sini kita melakukan pembahasan apakah NFT merupakan wujud yang sifatnya muhaqqaq (nyata)?

Sebagaimana telah disampaikan, bahwa aset NFT terdiri dari: 1) aset fisik karya seni yang diidigitalkan dalam bentuk foto atau hasil karya seni, 2. Aset Kripto dari platform tertentu yang digunakan sebagai nilai intrinsik NFT, dan 3) produk hasil penyatuan aset seni dengan aset kripto. Ketiganya dilakukan secara digital, dengan menggunakan perangkat komputer atau telepon pintar. 

Apakah karya foto digital merupakan sebuah aset (‘aradl)? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat pada beberapa fakta dunia digital. Sebuah foto yang masih dalam bentuk digital ternyata memiliki sebuah harga ketika foto itu berada di tangan awak media. Harga foto itu menyesuaikan dengan relevansi keberadaannya dengan berita yang tengah diangkat. 

Setidaknya ini membuktikan bahwa foto memiliki sebuah harga. Dalam konteks Fikih Syafiiyah, setiap yang memiliki harga adalah harta / aset. Namun, termasuk kelompok aset apakah foto digital itu?

Jelasnya, foto digital merupakan sebuah aset dari hasil bentukan sinar-sinar yang terjadi sebagai buah dari aktifitas programming. Dan tidak diragukan lagi bahwa programming adalah sebuah kerja fisik yang memanfaatkan material fisik. Kerja merupakan bagian dari aktifitas produksi. Segala sesuatu yang dihasilkan dari proses produksi, adalah termasuk aset (‘aradl). Dan segala aset produksi yang dihasilkan oleh barang fisik, adalah fisik (ma yaqumu maqama al-ain). 

Terdapat 4 macam tingkatan jenis aset fisik (‘ain musyahadah) secara fikih, yaitu ain al-ma’lum (fisik yang bisa dilihat), ‘ain al-mahsus (fisik yang bisa dirasa, dibau, diraba, dan didengar), ‘ain al-ma’nawiy (terkadang merupakan fisik yang bisa diterima oleh hati akan keberadaannya, namun belum bisa diindera oleh panca indera, atau hanya satu panca indera yang bisa melihatnya) dan ‘ain al-ma’dum (fisik yang tidak ada wujudnya, namun bisa dibatasi oleh waktu, misalnya jasa). 

Dari keempat hal tersebut, 3 jenis ‘ain di atas merupakan yang mu’tamad di kalangan Syafi’iyah dan sah untuk ditransaksikan. Adapun 1 ‘ain yang terakhir, tidak dikelompokkan sebagai ain, melainkan masuk rumpun harta manfaat (jasa). Itu sebabnya, dalam konteks Syafiiyah, jual beli manfaat tidak masuk dalam rumpun buyu’, melainkan dikelompokkan dalam wadah tersendiri, yaitu akad ijarah

Pembagian ini, secara umum bisa dipahami dari pernyataan Syeikh Wahbah Al-Zuhaily sebagai berikut:

والذي نخلص منه في تحقق رؤية المبيع: أن الرؤية المقصودة ليست هي النظر بالعين خاصة، وإنما تكون في كل شيء بحسبه، وبالحاسة التي يطلع بها على الناحية المقصودة منه، فشم المشمومات، وذوق المطعومات ولمس ما يعرف باللمس، وجس مواطن السمن في شاة الذبح وإن لم ينظر لونها، وجس الضرع في شاة اللبن: يعد رؤية كافية في هذه الأشياء، وإن لم تشترك العين فيها، ولا يكفي النظر بالعين فقط (١) كما أبنت تفصيله

“Walhasil, tahqiq tentang pengertian melihat obyek barang yang dijual, itu adalah sebagai berikut: ‘Sesungguhnya pengertian melihat di sini tidak semata dimaksudkan sebagai melihat dengan mata telanjang semata, melainkan juga mencakup segala sesuatu menurut pola obyek yang dijual, termasuk dengan alat indera yang memungkinkan untuk digunakan meneliti setiap relung obyek yang dikehendaki, mencium untuk obyek yang bisa dicium, dicicipi untuk obyek yang bisa dimakan, menyentuh / meraba untuk obyek yang bisa disentuh, mengguncang bagian yang dipenuhi lemak khususnya pada obyek kambing, kendati tidak bisa melihat warnanya, menyentuh kapur susu kambing perah. Seluruhnya bisa dijadikan sarana mengetahui mabi’ dan dipandang cukup, meskipun fisik barang yang ada tidak sama satu sama lainnya, serta tidak  cukup bila sekedar dilihat saja.” (Wahbah Al-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Juz 5, halaman 3594).

Selanjutnya Syeikh Wahbah Al-Zuhaily juga menjelaskan:

وهذا بالنسبة للبصير. وكذا الأعمى يعد اطلاعه على هذه الأشياء التي تعرف بغير حاسة النظر رؤية كافية كاطلاع البصير، فيكتفي بالجس فيما يجس، والذوق فيما يذاق، والشم فيما يشم، وأما ما يعرف بالنظر فوصفه للأعمى يقوم مقام نظره. فإن اشترى الأعمى ثمارًا على رؤوس الشجر، فيعتبر الوصف لا غير، في أشهر الروايات. وإذا اشترى الأعمى دارًا أو عقارًا، فالأصح من الروايات أنه يكتفى بالوصف.

“Semua uraian ini merupakan yang berkorelasi dengan pihak yang memiliki indera penglihatan. Demikian halnya yang berlaku atas tunanetra, yang bisa diterima hasil pandangannya terhadap obyek-obyek barang berdasar pengetahuannya tanpa disertai keberadaan indera penglihatan sebagaimana hasil pandangan orang yang bisa melihat. Karenanya dianggap cukup dengan cara mengguncang terhadap obyek yang umumnya diguncang, dicicipii untuk obyek yang bisa dicicipi, dibaui untuk obyek yang bisa dibau. Adapun sesuatu yang diketahui dengan jalan melihat, maka bagi pihak tunanetra cukup diberi informasi mengenai karakteristiknya sesuai dengan tingkat cara mengetahuinya tunanetra. Apabila ia membeli buah yang masih ada di dahan (misalnya) maka cukup dengan menunjukkan karakteristik buah tersebut, tidak lebih, sebagaimana ini disampaikan dalam riwayat yang paling masyhur. Dan bila ia membeli rumah atau sebidang tanah, maka yang paling shahih dari kesekian riwayat yang ada, adalah cukup memberitahu karakteristik tanah tersebut.” (Wahbah Al-Zuhaily, Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Juz 5, halaman 3594).

Berdasarkan penjelasan di atas, NFT secara fisik merupakan aset produksi yang bisa diketahui lewat media komputer atau telepon pintar. Tampilan yang terdapat pada layar komputer merupakan yang bersifat ma’nawy. Adanya sifat ma’nawi dari sesuatu, menandakan adanya pemilik sifat tersebut. Al-Allamah Al-Shafi al-Hindy (w. 715 H) menjelaskan:

لو كان عدم دليل الوجود دليلًا على العدم لكان عدم دليل العدم دليلًا على الوجود؛ لأن نسبة دليل الثبوت إلى الثبوت كنسبة دليل العدم إلى العدم فإن لزم من عدم دليل الثبوت عدم الثبوت لزم من عدم دليل العدم عدم العدم

“Jika benar bahwa ketiadaan dalil wujud merupakan dalil atas ketiadaan wujud, maka ketiadaan dalil “ketiadaan” sebagai dalil “wujudnya ketiadaan”, adalah juga layak diterima. Sebab ada korelasi antara dalil tetapnya sesuatu pada sesuatu dengan dalil ketiadaan sesuatu pada ketiadaannya. Dengan demikian, berlaku pula: “jika ketiadaan dalil tsubutnya sesuatu merupakan ketiadaan sesuatu, maka “ketiadaan dalil ketiadaan” adalah “ketiadaan ‘tiada’ itu sendiri.” (Al-Shafi al-Hindy, Nihayatu al-Wushul fi Dirayati al-Ushul, Juz 8, halaman 4046).

Kaidah fikih di atas sejatinya merupakan cabang dari kaidah populer dalam ushul fikih, yaitu al-ashlu baqau ma kana ‘ala ma kana (Dalil asal sesuatu adalah tetapnya sesuatu di atas sesuatu). Berangkat dari sini, maka selanjutnya kaidah yang disampaikan oleh Al-Allamah Al-Shafi al-Hindy (w. 715 H) dapat diringkas bahwa عدم دليل العدم دليل على وجود العدم (ketiadaan dalil ketiadaan adalah dalil bagi wujudnya ketiadaan). 

Sementara yang berlaku atas NFT itu adalah wujudu dalili al-wujud dalilun ala al wujud (adanya dalil ada merupakan dalil adanya ada). Ringkasnya, dalil adanya NFT merupakan dalil adanya material asal NFT). Oleh karenanya, wujud NFT adalah sesuatu yang sifatnya bisa diterima. 

Dengan demikian, komputer merupakan wasilah yang berperan untuk mengetahui produk (ru’yat al-mabi’) NFT dan sekaligus wasilah untuk produksinya. Karenanya, wujudnya aset NFT merupakan wujud yang nyata secara maknawi (muhaqqaq) dan bukan sekedar barang yang tak berwujud (ghairu mawjud). Sebagai barang wujud, maka (dalam pandangan penulis), NFT merupakan aset yang boleh untuk ditransaksikan. Wallahu a’lam bi al-shawab

Muhammad Syamsudin

Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: