elsamsi log

Menu

Stem Cell Technology untuk Pengobatan Penyakit Stroke, Kardiovaskuler dan Diabetes dalam Bingkai Fikih (Bag. 1)

Stem Cell Technology untuk Pengobatan Penyakit Stroke, Kardiovaskuler dan Diabetes dalam Bingkai Fikih (Bag. 1)

Stroke, Jantung dan Diabetes, merupakan jenis penyakit berat di dunia kedokteran saat ini. Global Burden Disease sebagaimana dikutip oleh Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI Tahun 2019, melaporkan data secara global mengenai peningkatan risiko sebesar rasio 1 : 4 peluang masyarakat untuk terkena penyakit stroke. 

WHO (Wordl Health Organization) sendiri juga melansir bahwa stroke merupakan penyakit yang menempati urutan kedua dunia penyebab kematian tanpa adanya indikasi gangguan vaskuler. Itu artinya, stroke secara murni, adalah penyebab kematian. Selain itu, stroke juga dapat melahirkan kaum disabilitas yang baru pada aspek neurologik (syaraf) vocal dan global. (Sumber: Untitled-1 (kemkes.go.id)).

Bagaimana dengan Kardiovaskuler? 

Kardiovaskuler merupakan penyakit yang disebabkan karena adanya gangguan pada fungsi jantung dan pembuluh darah. Yang paling terkenal dari penyakit jantung, adalah penyakit jantung koroner. Stroke, pada dasarnya juga merupakan bagian dari penyakit jantung. 

Menurut data dari Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (infodatin-jantung.pdf (kemkes.go.id)), penyakit kardiovaskuler memiliki dua penyebab utama. Dari kedua penyebab ini, ada yang sifatnya bisa dimofikasi dan ada yang tidak bisa dimodifikasi. 

Untuk penyebab penyakit kardiovaskuler yang tidak bisa dimodifikasi, di antaranya adalah karena faktor keturunan (genetik), umur, jenis kelamin dan obesitas. Adapuun penyebab yang bisa dimodifikasi di antaranya adalah hipertensi, diabetes melitus, stress, kurang aktifitas / gerak dan sejenisnya. 

Alhasil, karena adanya dua peluang bisa dan tidaknya dimodifikasi sumber penyebab ini maka setiap orang menjadi memiliki kesempatan atau peluang untuk terkena penyakit jantung. 

Berdasarkan laporan pendataan, penderita penyakit jantung koroner, gagal jantung dan stroke di Indonesia, banyak ditemukan pada kelompok umur 45-54 tahun, 55-64 tahun dan 65-74 tahun. Namun demikian, berdasarkan diagnosis/gejala, penyakit jantung koroner, gagal jantung dan stroke cukup banyak pula ditemukan pada penduduk kelompok usia 15-24 tahun. 

Penderita penyakit jantung dan gagal jantung berdasarkan diagnosis dokter maupun diagnosis/gejala diperkirakan lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki.Berdasarkan diagnosis/gejala, penyakit stroke diperkirakan lebih banyak ditemukan pada perempuan.Namun berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan, penyakit stroke lebih banyak ditemukan pada laki-laki. 

Fakta Penemuan Teknologi Pengobatan Stem Cell (Sel Punca)

Para ilmuwan di bidang bioteknologi, beberapa tahun belakangan ini tengah mengembangkan pemanfataan stem cell (sel punca) sebagai salah satu cara untuk untuk mengobati berbagai penyakit yang dianggap tidak mudah disembuhkan seperti penyakit stroke, jantung, diabetes dan sebagainya.

Menurut penjelasan Dr Arief Budi Witarto, peneliti bioteknologi dari LIPI, sebagaimana dilaporkan dalam media informasi LIPI (http://lipi.go.id/berita/single/Teknologi-Stem-Cell-Cara-Baru-Obati-Stroke/2169), bahwa pemanfaatan stem cell (sel punca) dalam pengobatan klinis adalah sangat memungkinkan, karena sifat dari stem cell itu sendiri yang memiliki kemampuan untuk merubah menjadi berbagai jenis sel sehingga dapat berfungsi menggantikan sel yang rusak.

See the source image
Hierarki Stem Cell

Berbagai uji klinis sudah sudah dilakukan di berbagai negara, dan diarahkan pada usaha mengobati bermacam penyakit. Disampaikan pula, bahwa riset mengenai stem cell sudah dilakukan sejak tahun 1998 dan pada tahun 2005 dilaporkan keberhasilannya dalam meng-klon sel embrio manusia. Di tahun 2007, hasil riset salah seorang ilmuwan bioteknologi juga berhasil menciptakan stem cell (sel punca) dari sel dewasa dengan penambahan faktor-faktor protein tertentu.

Di Korea, sejak tahun 2005 telah dilakukan uji klinis terapi sel punca menggunakan sumber sel punca dewasa dari sumsum tulang belakang untuk pengobatan stroke dengan hasil begitu memuaskan. Di Indonesia sendiri, tahun 2008 juga sudah mulai dilakukan pengobatan penyakit jantung dengan menggunakan stem cell dengan hasil yang baik pula.

Meski demikian masih menurut Witarto, penelitian pengembangan stem cell dalam pengobatan masih memerlukan banyak penelitian lebih lanjut dalam mengungkap mekanisme perubahan sel tersebut. Sehingga dirinya berharap agar para peneliti muda di Indonesia tertantang untuk dapat terlibat aktif dalam penelitian dan pemanfaaatan teknologi baru itu.

Dasar Pemikiran Pemanfaatan Teknologi Stem Cell?

Sel-sel penyusun tubuh manusia memiliki keterbatasan fungsi dan usia. Semakin tua umur manusia, maka kemampuan regenerasi sel tubuhnya menjadi semakin menurun pula. Di antara sel yang tidak mampu mengalami regenerasi, maka selnya akan mati. Efeknya, daya tahan tubuh manusia menjadi menurun, fungsi dan faal organ tubuh juga menjadi menurun, sistem imunitas tubuh juga menurun. Hal yang paling kentara misalnya adalah pada sel kulit. Semakin tua usia manusia, kulitnya akan semakin keriput. Itu adalah tanda, bahwa sebagian sel kulit tubuh tersebut ada yang sudah mati, dan sebagian lagi ada yang masih hidup. 

See the source image
Kulit keriput tanda-tanda ada sel yang mati

Imbas dari matinya sebagian sel pada sebagian fungsi faal organ tubuh manusia, adalah rentannya tubuh manusia untuk menanggulangi berbagai penyakit dan gangguan yang menyerang tubuh. Misalnya, untuk fungsi pencernaan, semakin tua usia manusia, fungsi organ pencernaannya menjadi tidak lagi seperti usia muda. Ketika masih beruia muda, beberapa sel tubuh mampu mencerna karbohidrat dan menyimpannya menjadi lemak (glikogen). Namun, seiring matinya sebagian sel yang menopang fungsi tersebut, tubuh manusia menjadi tidak lagi mampu menyimpan karbohidrat dan mengubahnya menjadi gliikogen. Sebagian lagi, sel-sel pankreas tidak mampu lagi memproduksi insulin. Akiibatnya, karbohidrat yang merupakan sumber utama dari terbentuknya gula darah, masuk ke dalam aliran darah, dan menambah kepekatan kadar gula di dalam darah. Akhirnya, timbul penyakit diabetes. 

Karena darah menjadi pekat gula darahnya, akhirnya mendorong terjadinya pengapuran pada pembuluh arteri dan vena yang merupakan saluran utama peredaran darah dalam tubuh. Akibat pengapuran ini, akhirnya terjadi penyumbatan pembuluh darah menuju ke jantung atau dari jantung ke seluruh tubuh. Terjadilah kemudian gejala penyakit jantung koroner dan stroke. 

Sumber Pengambilan Stem Cell

Stem cell merupakan sel punca, yaitu sel yang masih original dan belum terdiferensiasi menjadi sel-sel lain. Karena sel punca merupakan yang belum terdiferensiasi, maka sel punca (stem cell) ini adanya hanya pada bagian-bagian tertentu saja, dari tubuh manusia. Di antaranya, adalah: 1. Pada sel germinal , 2. sel embrionik, 3. sel fetal, atau bahkan 4. sel kanker. 

Sel germinal terdiri dari sel sperma dan ovum (sel telur). Sel embrionik, terdiri dari sel telur yang sudah dibuahi sebelum terbentuknya janin. Berdasarkan hasil laporan riset, diinformasikan bahwa sel ini terdapat pada fase blastosit setelah sel teluur di buahi. Perhatikan gambar!

Blastosit yang ditemuukan pada Fase Blastula pasca Fertilisasi Sperma dan Ovum

Fase blastosit, tercapai pada usia 4 hari setelah fertilisasi (dibuahinya ovum oleh sel sperma). Alhasil, jauh sebelum terjadinya fase nafhi al-ruh

Sel Fetal, merupakan sel yang terdapat pada beberapa perangkat janin (fetus) manusia. Beberapa di antaranya termasuk bagian tubuh janin dan sebagian yang lain tidak termasuk anggota tubuh. Untuk yang tidak masuk bagian tubuh janin, adalah tali pusar / plasenta janin (stem cell hematopoietik fetal) dan progenitor kelenjar pankreas. Stem Cell Hematopoietik Fetal juga bisa diperoleh dari darah janin.

See the source image
Stem Cell Hematopoetik

Sementara itu, yang masuk dalam bagian anggota tubuh janin, misalnya otak janin yang memiliki Stem Cell Neural Fetal, yang kelak dapat berdiferensiasi menjadi sel neuron (sel syaraf) dan sel neuroglial (penopang/pembantu sell syaraf).

See the source image
Plasenta / Tali Pusar Janin

Stem Cel Kanker diperoleh saat sel normal / sel biasa sedang menginisiasi menjadi kanker karena adanya pengaruh faktor benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Kanker merupakan sekumpulan sel tubuh yang mengalami penyimpangan dari fungsi aslinya. Misalnya, kelenjar susu yang seharusnya memproduksi susu, namun ternyata mengalami pembelahan tidak sebagaimana seharusnya sehingga tidak memproduksi susu. Alhasil, sifatnya adalah parasit di dalam tubuh. 

See the source image
Sel Kanker

Ketika sel tubuh hendak menginisiasi menjadi sel kanker, maka pada bagian tersebut muncul sel embrio dari kanker (Stem Cell). Sel embrio kanker ini belum bersifat parasit terhadap tubuh. sel sehingga bisa dimanfaatkan untuk membantu penciptaan teknologi stem cell. 

Cara Inokulasi Stem Cell

Stem cell diperoleh melalui jalan teknik transplantasi (pencangkokan / penempelan) ke tubuh manusia. Transplantasi stem cell dapat berupa transplantasi autologus, transplantasi alogenik, dan transplantasi singenik.

See the source image
Inokulasi Stem Cell
  1. Transplantasi autologus, yaitu transplantasi menggunakan sel induk pasien sendiri, yang dikumpulkan sebelum pemberian kemoterapi dosis tinggi. Catatan: Dalam hal ini, stem cell diperoleh dari tubuh pasien itu sendiri
  2. Transplantasi alogenik, yaitu transplantasi menggunakan sel induk dari donor yang cocok, baik dengan hubungan keluarga atau tanpa hubungan keluarga. Catatan: Stem cell diambil dari orang lain selaku pendonor.  Stem Cel embrionik, hematoetik, dan sejenisnya, bisa diterapkan di sini
  3. Transplantasi singenik, yaitu transplantasi menggunakan sel induk dari saudara kembar identik. Catatan: Stem cell diambil dari orang lain selaku pendonor. yang terdiri dari saudara kembar. Hal ini menandakan bahwa sistem transplantasi ini juga melibatkan stem cell – stem cell yang lain, sebagaimana poin b. 

Obyek Permasalahan Fikih

  1. Pemanfaatan teknologi stem cell, meniscayakan penggunaan cell yang diperoleh dari diri pribadi pasien dan orang lain yang masih memiliki hubungan kekerabatan secara genetik dengan pasien. Apa status sel punca (stem cell) ini bagi tubuh pasien dalam pandangan fikihnya?
  2. Pertanyaannya adalah bolehkah melakukan pengobatan dengan menggunakan teknologi stem cell tersebut?

Pertanyaan ini menjadi cukup menarik seiring harapan sembuh dari pasien penyakit jantung, stroke dan diabetes itu menjadi semakin besar peluangnya. berbekal teknologi stem cell tersebut. Syariat Islam sendiri juga mengutamakan 5 penjagaan, yaitu hifdh al-din, hifdh al-nafsi, hifdh al-aqli, hifdh al-maal dan hifdh al-irdli. Mengingat hifdh al-nafs menempati urutan kedua penjagaan, maka sudah barang tentu dibutuhkan sikap terbuka terhadap keberadaan teknologi tersebut. Namun, secara lebih khusus, sifat keterbukaan ini sudah barang tentu menghendaki adanya batasan-batasan. Apa saja batasan itu? Kita simak pada kajian-kajian selanjutnya. 

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

1 Comment

Avarage Rating:
  • 0 / 10
%d blogger menyukai ini: