elsamsi log

Menu

Akad Syirkah Mudlarabah yang Terlarang dalam Islam

Akad Syirkah Mudlarabah yang Terlarang dalam Islam

Ada dua jenis syirkah mudlarabah. Syirkah mudlarabah yang pertama adalah dibolehkan secara syara’. Dan yang kedua adalah dilarang secara tegas oleh syara’.

Gambaran dari akad yang dibolehkan sudah pernah diuraikan oleh penulis pada tulisan terdahulu. Anda bisa merujuknya di sini:

  1. Apa itu syirkah mudlarabah?
  2. Manajemen Finansial Akad Syirkah Mudlarabah

Kesimpulan dari kajian terdahulu, adalah bahwa makna akad syirkah mudlarabah pada dasarnya berlaku sebagai 2 akad yang terpisah dan masing-masing bisa diketahui rinciannya (tafriq al-shafqah). 

وقال الزركشي  في الإنصاف (٥/ ٤٠٨): هذا الشركة تجمع شركة ومضاربة، فإن حيث إن كل واحد منهما يجمع المال تشبه شركة العنان، ومن حيث إن أحدهما يعمل في مال صاحبه في جزء من الربح هي مضاربة

Penegasan dari al-Zarkasy di atas secara tegas menyatakan adanya 2 akad terpisah dengan bukti adanya wawu ‘athaf. 

Mafhumnya, dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama, akad itu dilaksanakan seesuai ketentuan akad syirkah. Kedua, selanjutnya akad itu berjalan sesuai dengan ketentuan akad mudlarabah. 

Walhasil, cermati agar kita tidak terjebak dengan satu diksi kalimat! Tangkap detailnya!

Sekilas, akad sebagaimana di atas adalah termasuk bagian dari al-uqud al-mujtami’ah, yaitu 2 akad yang berbeda dan dikumpulkan menjadi seolah menjadi satu skema bisnis. Syarat kebolehan dari akad ini, adalah apabila konsekuensi dari 2 akad tersebut tidak saling bertabrakan. 

Sekarang mari bandingkan dengan akad syirkah mudlarabah yang dilarang berikut ini!

Syirkah Mudlarabah yang dilarang

Adapun syirkah mudlarabah yang akan kita bicarakan sekarang, adalah syirkah mudlarabah jenis kedua dan termasuk bagian akad yang dilarang oleh syara’. 

Umumnya akad kedua ini juga disebut sama sebagai syirkah mudlarabah juga. Akan tetapi, dalam aplikasinya sangat berbeda dengan syirkah mudlarabah terdahulu yang sudah kita bahas. 

Apa titik bedanya? Apa yang menjadi illat larangannya? Mari kita urai bersama!

Illat Larangan

Hukum berlaku sesuai dengan illatnya. Apabila ditemui illat larangan, maka hukumnya menjadi terlarang. Sebaliknya, jika tidak ditemui illat larangan, maka suatu praktik muamalah hukumnya adalah boleh.

Akad syirkah jenis kedua merupakan gabungan langsung dari akad syirkah sekaligus akad mudlarabah. Ada 2 peran ganda yang dipraktekkan oleh seorang mitra.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa akad syirkah merupakan akad yang ditandai oleh:

  1. Ada beberapa investor yang tergabung sebagai mitra (syarik)
  2. Seluruh mitra wajib menyetorkan modal dengan jenis yang sama. Misalnya, masing-masing menyetorkan uang untuk dijadikan modal
  3. Semua mitra dalam syirkah wajib sama-sama bekerja dan sama-sama berusaha mengembangkan modal yang sudah terkumpul. Alhasil, bukan hanya kerja sama, melainkan juga kerja bersama. 
  4. Untung rugi ditanggung bersama dan dibagi menurut nisbah modal yang disertakannya. 

Pertanyaannya, bagaimana bila dari seluruh mitra yang terkumpul dan menyetorkan modal, hanya ada 1 pihak yang bekerja saja sementara lainnya tidak? Di sinilah permasalahan itu terjadi. 

Porsi Bagi Hasil yang lebih untuk Pemodal sekaligus Pengelola

Permasalahan di atas timbul seiring ketentuan dalam syirkah senantiasa mengacu pada ketentuan untung rugi ditanggung bersama (profit and loss sharing) menurut nisbah modal yang disertakan. Padahal, ada pihak yang bekerja dan setor modal, di sisi lain hanya setor modal saja. Tentu hal ini merupakan bagian dari ketidakadilan. Alhasil, jika pola kerjasamnya adalah semacam ini, maka akad syirkah modal-nya menjadi fasad / rusak. 

لا يجوز أن يخص أحدهما بربح مقدر؛ لأن هذا يخرجهما عن العدل الواجب في الشركة، وهذا هو الذي نهى عنه – ﷺ – من المزارعة، فإنهم كانوا يشترطون لرب المال زرع بقعة بعينها … فإن مثل هذا لو شرط في المضاربة لم يجز؛ لأن مبنى المشاركات على العدل بين الشريكين، فإذا خص أحدهما بربح دون الآخر لم يكن هذا عدلًا، بخلاف ما إذا كان لكل منهما جزء شائع، فإنهما يشتركان في المغنم والمغرم، فإن حصل ربح اشتركا في المغنم، وإن لم يحصل ربح اشتركا في الحرمان

Demikian halnya, meskipun pihak syarik seluruhnya bersepakat bahwa kelak ketika waktu pembagian hasil tiba, “pihak mitra yang turut menyertakan modal namun ia bekerja” akan diberikan porsi bagi hasil yang lebih, seiring kerja yang dilakukannya.

Pemberian bagi hasil dengan pola semacam ini adalah tidak sah secara syara’. 

Apa alasannya?

Setidaknya ada 2 alasan utama:

  1. Pihak syarik bergerak sebagai mitra dalam syirkah ‘inan karenanya ia mendapatkan bagi hasil secara profit and loss sharing (untung rugi ditanggung bersama), dan
  2. Ia sekaligus berlaku sebagai pengelola, karenanya ia mendapat bagi hasil secara profit sharing dari akad mudlarabahnya. 

Alhasil, berlaku ketentuan sebagai berikut:

ولم يصح أن يكون عمل مجلس الإدارة مضاربة؛ لأن عملهم حينئذ من قبيل التوظيف، وليس من قبيل المشاركة، حيث لا يتحمل المجلس أي خسارة للشركة، ولا يناله أي ربح فيها.

قال في المعاملات المالية المعاصرة – وهبة زحيلي (ص ٤١٥): وإن كان مجلس الإدارة يأخذ أجره نسبة من ربح المساهمين، فهذه شركة مضاربة، ولا توجد شركة عنان؛ لأن عمله في الشركة يأخذ طابع المشاركة في الربح والخسارة

Jadi, posisinya syarik sebagai pengelola dan sekaligus pemodal sehingga ia mendapat porsi lebih itu merupakan bagian dari ketidakjelasan besaran upah (jahalah) sehingga terjadi praktik gharar (spekulatif).

Titik ketdakjelasan itu adalah kelebihan porsi tersebut menempati derajat upah apa? Jika berlaku sebagai upah, apakah boleh menentukan upah dengan pola sedemikian rupa? Jawabnya sudah pasti tidak boleh.

Apa sebabnya?

Secara rinci, penyebabnya adalah sebagai berikut:

  1. ada 2 akad yang dijalankan oleh satu orang sekaligus. Akad ini merupakan bagian dari al-uqud al-murakkabah (akad ganda).
  2. Bagi hasil dari akad mudlarabah yang dijalankan sebenarnya adalah karena “kerja” yang dilakukannya. Dengan hanya ditetapkan bahwa upah kerjanya diperoleh dari porsinya yang dinaikkan, menandakan upah (ujrah) “kerja” tersebut bersifat majhul (tidak diketahui). Alhasil, karena faktor adanya jahalah dalam pengupahan tersebut, maka rusaklah akad ini. 

Lantas, bagaimana solusinya?

Adanya pihak mitra yang berlaku sebagai investor dan sekaligus pengelola, sementara mitra yang lain hanya sebagai pemodal saja, menandakan bahwa ada kerja yang harus bisa dinilai sebagai gaji (ujrah). 

Gaji adalah istilah lain dari harga dari suatu jasa / kerja. Ketentuan yang berlaku atas upah kerja, adalah wajib ma’lum (diketahui). 

فإن كان أجره مكافأة معينة، فإن الشركة تكون شركة عنان بحتة؛ لأن مجلس الإدارة حينئذ يعمل بالوكالة عن جميع الشركاء، فالشركاء دفعوا المال، وقاموا بالعمل أيضًا عن طريق استئجار مجلس الإدارة.

Itu sebabnya, bila terdapat 10 mitra, 1 di antaranya berperan sebagai pemodal dan sekaligus pengelola, maka mengharuskan berlaku ketentuan sebagai berikut:

  1. Pihak 1 orang pemodal dan sekaligus pengelola ini bisa mendapatkan akad bagi hasil berdasarkan persekutuan modalnya (akad syirkah ‘inan). 
  2. Adapun kerja pengelolaannya, menghendaki yang dinilai sebagai gaji secara ma’lum. 

Demikianlah jalan keluar yang berlaku apabila menjumpai kasus serupa. Akad syirkah mudlarabah dengan skema di atas adalah yang dilarang oleh syara’. Solusinya, adalah dengan menghargai kerja pengelolaan dalam bentuk upah / gaji. 

Bagaimana? Masih bingung untuk mencerna dan memahami syirkah mudlarabah antara yang boleh dan tidak? Kirim permasalahan anda ke email redaksi! Ikuti prosedur penyampaian pertanyaan sesuai dengan yang disampaikan oleh Tim Redaksi eL-Samsi. Akhiran semoga bermanfaat!

Muhammad Syamsudin (Peneliti Bidang Ekonomiٍ Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur)

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: