elsamsi log

Menu

“Tanah” sebagai Aset Produksi Penting dalam Islam

“Tanah” sebagai Aset Produksi Penting dalam Islam

Mengenal dasar dari teori produksi dalam Islam merupakan hal yang sangat penting, sebab ada hubungannya dengan objek yang sah untuk ditransaksikan secara syara’. Obyek transaksi ini kemudian dikenal dengan istilah ma’qud ‘alaih. Hubungannya dengan teori produksi, maka obyek ini selanjutnya bisa disebut sebagai barang produksi (muntaj).

Perlu dicatat, bahwa setiap transaksi dalam syara’, meniscayakan wajibnya melibatkan obyek yang terdiri dari kehalalan obyek, bisanya dikuasai, dipindahkan, dikembangkan, dibagi, diserahkan dan disimpan. Tentu saja, semua itu juga tergantung pada model transaksi itu dilakukan. 

Jika transaksi itu berkaitan dengan jual beli, maka disebut mabi’ (barang yang dijual). Jika transaksi itu berupa akad sewa jasa (ijarah) maka disebut manfaat sewa. Jika berkaitan dengan wakaf, maka disebut mauquf. Demikianlah, obyek transaksi ini berubah nama sesuai dengan akad yang mengikat dan mendasarinya. 

Meski memiliki banyak nama, namun pada dasarnya semua obyek transaksi itu memiliki ushul (aset landasan) yang sama, yaitu adanya fisik (ainiyah) barang yang ditransaksikan. Fisik ini adakalanya terdiri dari aset fisik yang langsung diambil dari alam, seperti emas dan perak,  Namun, adakalanya pula objek tersebut berupa barang produksi (muntajah), seperti kertas, kalung, perhiasan, program komputer, dan sejenisnya. 

Dalam jual beli (bai’) dan akad niaga (tijarah), kedua jenis barang ini kemudian dikenal dengan istilah mabi’, sil’ah atau ‘urudl. Jadi, apabila muncul pertanyaan, apa itu yang dimaksud dengan sil’ah atau urudl, maka jawabnya sudah bisa dipastikan bahwa urudl dan sil’ah itu adalah segala sesuatu yang bisa dijualbelikan dan terdiri atas materi (fisik) berupa barang hasil produksi (muntajah) atau hasil dari mengambil langsung dari alam.

Berbicara mengenai teori produksi, maka di dalam Islam, ada akad qiradl, mudlarabah, syirkah, dan istitsmar. Semua akad ini pada dasarnya merupakan akad bagi hasil produksi dan pengelolaan. Cabang dari akad qiradl dan mudlarabah adalah akad farming (bercocok tanam) yang meliputi akad musaqah, mukhabarah dan muzara’ah. Ketiga akad terakhir ini pada dasarnya merupakan akad bagi hasil pengelolaan tanaman berupa buah (tsimar). Oleh karenanya, akad ini kemudian diturunkan sebagai akad baru berupa akad istitsmar (membuahkan) atau proses berproduksi (amaliyah intajiyyah).

Anasir Produksi

Dalam akad bagi hasil modal produksi (qiradl, mudlarabah, musaqah, mukhabarah dan muzara’ah), terdapat 3 anasir landasan untuk tercapainya proses produksi (amaliyah intajiyyah). Ketiganya adalah modal (ra’su al-maal), pekerjaan (amal) dan bumi (ardl). Ibn Asyur (w. 1393 H) menjelaskan keberadaan 3 anasir produksi ini di dalam karyanya yang berjudul Maqashid al-Syariati al-Islamiyyah, Juz 2, halaman 391.

أصول التكسّب ثلاثة، كما قدمنا، وهي عناصر الإنتاج وركائزه: الأرض والعمل ورأس المال وقد جعل بعضهم الطبيعة بدل الأرض

“Aset landasan berproduksi ada 3. Ketiganya merupakan anashir produksi. Ketiganya juga merupakan harta karun dari produksi itu sendiri, yakni bumi, pekerjaan dan kapital / modal. Sebagian fuqaha ada yang berpandangan menjadikan mesin produksi merupakan bagian yang bisa menggantikan kedudukan bumi / tanah”

Bumi dijadikan ushul (aset landasan) sebab merupakan bagian dari anashir akad musaqah (perawatan kebun kurma dan anggur), mukhabarah dan muzara’ah (pemanfaatan lahan kosong di bawah tanaman pokok). Lebih jauh, Ibnu Asyur (w. 1393 H) menyampaikan:

للأرض المكانة الأولى في هذه الأصول الثلاثة. والمراد من الأرض كل ما يصل إليه عمل الإنسان في الكرة الأرضية بما فيها من بحار وأودية ومعادن ومنابع مياه وغيرها، إلا أن الحظ الأوفر من ذلك، وهو الأسبق، هو للأرض، يعني سطحَها الترابي. فإنه منبت الشجر والحَب والمرعى ومنبع المياه

“Bumi menempati derajat pertama dari ketiga aset landasan produksi sebab bumi bisa dimaknai sebagai segala sesuatu yang menjadi wadah bagi pekerjaan manusia yang meliputi segala aspek sumber daya alam yang terkandung di dalamnya, seperti lautan, hutan, tambang, mata air, dan yang paling penting dari itu semua, adalah lapisan terestrial bumi yang terdiri dari tanah subur karena menjadi tempat tumbuhnya tanaman, biji-bijian dan segala jenis tanaman dan tumbuhan, serta mata air.” (Maqashid al-Syariati al-Islamiyyah, Juz 2, halaman 391)

Di era modern ini, kasus sebagaimana akad mudlarabah dan musaqah dengan salah satu anasir-nya terdiri dari bumi (aradl) diperluas maknanya menjadi sesuatu yang memiliki fungsi layaknya bumi / tanah. Syeikh Ibn Asyur memberikan isyarat pemahaman terhadap hal ini sebagai berikut:

ومما يؤكّد إرادة هذا المعنى الواسع لكلمة أرض ما أفاض فيه رجال الاقتصاد اليوم مما يكسب الأرض تلك الأهمية الكبرى. فهي مستقر موارد الطاقة وجميع أنواع الوقود، وكذلك المعادن المختلفة والموارد النباتية، وكذا الحيوانية في البر، وفي أعماق المياه، والأراضي الزراعية والغابات والمروج ومصادر المياه الصالحة للاستعمالات المختلفة. ومما يشير إلى بعض هذه العناصر الدالة على عجيب خلق الله  قوله تعالى: ﴿قُلْ أئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الأرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وتَجْعَلُونَ لَهُ أنْدادًا ذَلِكَ رَبُّ العالَمِينَ (٩) وجَعَلَ فِيها رَواسِيَ مِن فَوْقِها وبارَكَ فِيها وقَدَّرَ فِيها أقْواتَها فِي أرْبَعَةِ أيّامٍ سَواءً لِلسّائِلِينَ﴾ (١).

“Termasuk bagian dari yang dikuatkan maknanya sebagai bentuk perluasan terhadap makna bumi, adalah para pekerja ekonomi (karyawan) di hari ini yang menggali potensi sumber daya bumi sebagai sumberdaya yang sangat penting. Nilai penting itu antara lain mencakup bisa dihasilkannya beragam sumberdaya minyak dan aneka jenis bahan bakar. Di sisi lain juga dihasilkan aneka bahan tambang, aneka produk nabati, produk hewani. Di kedalaman laut dan di seantero bumi, meliputi wilayah pertanian, perhutanan, stepa, serta wilayah-wilayah perairan yang cocok untuk diberdayakan secara berbeda-beda. Dalil yang mengisyaratkan keberadaan anasir di atas, dan menunjukkan betapa ajaibnya ciptaan Allah adalah Firman Allah SWT: Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kufur kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itu adalah Rabb semesta alam. Dan dia telah menciptakan di bumi gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan penghuninya dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” (Maqashid al-Syariati al-Islamiyyah, Juz 2, halaman 392)

Garis besarnya, bahwa yang dimaksuud dengan bumi adalah bukan hanya sekedar tanah, air dan udara saja, melainkan segala sesuatu yang bisa dikelola dan diberdayakan menurut tipe pemberdayaan yang berbeda-beda. Misalnya, alat-alat dan mesin produksi pabrik, merupakan alat yang bisa menghasilkan dan mengolah menjadi bahan jadi. Komputer bisa juga diproduksi untuk menciptakan program, dan lain sebagainya. Oleh karenanya, segala yang muncul dan dihasilkan dari itu semua, adalah termasuk memenuhi anasir produksi, sehingga bisa disebut barang produksi. Oleh karenanya, produknya juga bisa dijadikan obyek transaksi. Wallahu a’lam bi al-shawab

Muhammad Syamsudin

Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jatim

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: