elsamsi log

Menu

Tarik Ulur Persoalan Bank dan Bunga Bank: Diskursus Paradigma berfikir Masyayikh Al Azhar dalam Fikih Nawazil

Tarik Ulur Persoalan Bank dan Bunga Bank: Diskursus Paradigma berfikir Masyayikh Al Azhar dalam Fikih Nawazil

Di dalam sebuah rubrik tanya jawab yang dikelola oleh Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah. Syeikh Doktor Syauqy Ibrahim ‘Allam, menuliskan:

راعت الشريعة الإسلامية حاجة المكلفين ومصالحهم، فأباحت لهم من المعاملات ما تستقيم به حياتهم، وتنصلح به أحوالهم، فجاءت النصوص بحل بعض المعاملات على وجه التفصيل؛ كالبيع والإجارة والرهن وغير ذلك، كما تواردت النصوص على وجوب الوفاء بالعقود؛ كقوله تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ﴾ [المائدة: 1]، والأصل في ذلك العموم؛ على مقتضى سعة اللغة، وأخذًا من أن الأصل في الأشياء الإباحة؛ كما قال تعالى: ﴿وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ﴾ [الجاثية: 13]، فتصير الآية بذلك شاملة لكل عقد يحقق مصالح أطرافه ويخلو من الغرر والضرر. 

(Sumber: Dar al-Ifta’)

Di dalam tulisan tersebut secara terang beliau menjelaskan bahwa pada dasarnya syariat Islam senantiasa menjaga dan memperhatikan hajatnya individu-individu mukallaf serta kemaslahatan hidupnya. Itu sebabnya, maka syariat Islam membolehkan beberapa praktik muamalah menurut kadar bisanya muamalah tersebut menopang kehidupan mereka serta membawa kemasahatan buat mereka. Itu pula yang melatarbelakangi turunnya beberapa nash syariah yang menegaskan kebolehan sebagian dari praktik muamalah, dan melarang sebagian yang lain, secara rinci, Misalnya berkaitan dengan akad jual beli, gadai, ijarah dan lain sebagainya. Di samping itu syariat juga menegaskan keharusan menunaikan akad sesuai dengan yang telah disepakati, sebagaimana tertuang di dalam Firman Allah dalam Q.S. Al-Maidah [5] ayat 1. Di dalam ayat ini, perintah tentang menunaikan akad adalah bersifat umum. Artinya semua jenis transaksi yang disitu ada akad yang tertera secara jelas, dan secara nyata dapat membawa kepada kemaslahatan, maka setiap individu mukallaf diperintahkan untuk menepatinya. Terkecuali bila ada illat yang juga nyata yang menegaskan sifat dlarar (merugikan) dan gharar (penipuan). Kedua illat ini yang menjadikan praktik muamalah menjadi diharamkan. 

Tak lupa bahwa penegasan perintah nash di atas sebagai yang bersifat umum, adalah didasarkan pada pernyataan Imam Syafii rahimahullah di dalam Kitab Tafsirnya, yang menyatakan: 

وهذا من سعة لسان العرب الذي خوطبت به، وظاهره عام على كل عقد

Penegasan yang sama juga disampaikan oleh Imam Al-Razi di dalam Kitab Tafsirnya:

قوله: ﴿أَوْفُوا بِالْعُقُودِ﴾ كل عقد من العقود كعقد البيع والشركة، وعقد اليمين والنذر، وعقد الصلح، وعقد النكاح. وحاصل القول فيه: أن مقتضى هذه الآية أن كل عقد وعهد جرى بين إنسانين فإنه يجب عليهما الوفاء بمقتضى ذلك العقد والعهد، إلا إذا دل دليل منفصل على أنه لا يجب الوفاء به فمقتضاه الحكم بصحة كل بيع وقع التراضي به وبصحة كل شركة وقع التراضي بها] اهـ

Berbekal kedua nukilan tersebut, selanjutnya Dr. Syauqy Ibrahim Allam menyampaikan bahwa inilah yang menjadi dasar bagi para fuqaha’ untuk berpendapat akan kebolehan penerapan sejumlah akad yang baru yang belum pernah ditemui sebelumnya, guna menjawab tantangan jaman yang telah berubah dan menuntut solusi baru sesuai dengan jamannya. Akad-akad yang baru ini selanjutnya diwadahi dalam wadah fan ilmu tersendiri yang selanjutnya dikenal dengan istilah fiqhu al-nawazil

Ketika fokus pada pembahasan fiqhu al-nawazil ini, maka konteks akad / transaksi yang baru, adalah didasarkan pada bahwa dalil asal dari diberlakukannya akad adalah sahnya akad (al ashlu fi al-’uqud al-shihhah. Pendapat ini disampaikan oleh Imam al-Sarakhshy dalam karyanya al-Mabsuth Juz 23, halaman 92, dan al-’Allamah al-Dasuqy al-Maliki di dalam al-Syarh al-Kabir, Juz 2 halaman 317.

Ibnu Taimiyah sendiri menyatakan di dalam Al-Fatawi al-Kubra, Juz 4, halaman 79, bahwa dalil ashal akad adalah menunjukkan sahnya akad dan kebolehannya. Pernyataan Ibnu Taimiyah ini dikutip sebagai berikut:

القول الثاني: أن الأصل في العقود والشروط الجواز والصحة، ولا يحرم ويبطل منها إلا ما دل على تحريمِه وإبطالِه نصٌّ، أو قياسٌ عند من يقول به، وأصولُ أحمدَ المنصوصُ عنه أكثرُها تجري على هذا القول، ومالكٌ قريب منه، لكنَّ أحمدَ أكثرُ تصحيحًا للشروط؛ فليس في الفقهاء الأربعة أكثر تصحيحًا للشروط منه

Berdasarkan latar belakang pemikiran ini, maka Dr. Syauqi Ibrahim Allam mengambil benang merah bahwa: 

وهذا هو المعمول المفتى به في هذا الزمان الذي استجدت فيه نوازل العقود، وتنوعت فيه أساليب المعاملات ووسائلها وطرقها؛ فالأصل في العقود الصحة؛ سواء كانت عقودًا موروثةً منصوصًا عليها؛ كالبيع والشراء والإجارة وغيرها، أو كانت عقودًا مستحدثة لم تتناولها النصوص بالذكر والتفصيل على جهة الخصوص، ما دامت تخلو من الضرر والغرر، وتحقق مصالح أطرافها

“Inilah praktek yang diamalkan dan difatwakan (oleh para fuqaha) sehubungan dengan diperkenalkannya beberapa akad baru yang berlaku di zaman ini, dan beberapa praktik muamalah lain yang sudah terlanjur dikembangkan menurut silabi akad tersebut dan dibahas dalam ruang-ruang akademisnya. Oleh karenanya kembali pada ketentuan umum bahwa asal daripada transaksi itu adalah sahnya akad, baik itu akad yang sudah tertuang sebelumnya di dalam kutubu al-turats seperti akad jual beli, ijarah dan selainnya, maupun akad-akad yang baru datang kemudian dan tidak tertuang di dalam teks nash sebelumnya, serta perinciannya. Catatan terpenting adalah selagi tidak ada illat merugikan (dlarar) dan gharar, serta nyata dapat membawa pada timbulnya kemaslahatan.”

Sebagai upaya menggarisbawahi terhadap semua statemen beliau ini, selanjutnya Dr. Syauqi Ibrahim Allam menukil sebuah keputusan hasil permusyawaratan para masyayikh al-Azhar al-Syarif yang terhimpun di dalam Majma’ al-Buhuts al-Islamiyyah Universitas Al-Azhar al-Syarif sebagai berikut:

أن الإيداع في البنوك ودفاتر التوفير وشهادات الاستثمار ونحوها هو من باب العقود المستحدثة التي يبرمها أطرافها بقصد الاستثمار، وليست من باب القروض التي تجر النفع المحرم، ولا علاقة لها بالربا، وهي جائزة شرعًا؛ أخذًا بما عليه التحقيق والعمل من جواز استحداث عقود جديدة إذا خلت من الغرر والضرر.

Berdasarkan keputusan Majelis Majma Buhuts Islamiyah ini dapat disimpulkan bahwa terdapat ushul baru yang sekiranya dengan kaidah ushul lama, yaitu:

  1. Akad wadi’ah pada teks-teks turats adalah disepakati sebagai akad amanah, namun di dalam konteks zaman yang membutuhkan perluasan makna demi menampung dan mewadahi hajat manusia modern dan kemaslahatan hidup individu mukallaf, akad wadiah tersebut diperluas maknanya menjadi berbasis jaminan
  2. Akad wadiah yad al-dlammanah menjadi ushul baru dan dijadikan landasan untuk dikaji di ruang-ruang akademis sebagai yang bukan berbasis akad qardl disebabkan peran penjamin yang berbasis hukum. 
  3. Indikator dari akad wadiah yad al-dlammanah sebagai yang tidak berbasis akad qardl adalah disebabkan adanya qashd al-istitsmary yang merupakan sebuah keniscayaan dalam fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi keuangan yang mempertemukan antara pihak investor (nasabah) dengan pihak yang memiliki usaha
  4. Bagi hasil yang disampaikan oleh pihak perbankan kepada nasabah dipandang sebagai jaizun syar’an sebagai buah dari peran intermediasi dan qashd al-istitsmary

Ruang Kajian Akademis Perbankan sebagai Lembaga Intermediasi dan Bukan Lembaga Tamwil

Jika ada pertanyaan, apakah bank merupakan lembaga tamwil? Maka jawabnya adalah pasti bukan. Mengapa? Sebab perbankan bukan sebuah badan usaha yang memiliki ruang kerja pengembangan harta. 

Jika perbankan bukan lembaga tamwil, lantas perbankan termasuk lembaga apa? Jawabnya, adalah pebankan merupakan lembaga intermediasi antara investor dan pengusaha. Untuk menjalankan tugas tersebut, maka peran perbankan hanya sebagai fasilitator mempertemukan antara penyandang dana dan pihak yang didanai. 

Untuk mempekuat bukti bahwa perbankan merupakan yang berperan sebagai lembaga intermediasi maka berikut ini kita kutipkan definisi perbankan menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut OJK, fungsi utama dari perbankan adalah sebagai berikut: 

Fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat serta bertujuan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional, kearah peningkatan taraf hidup rakyat banyak.”

Berdasarkan penjelasan ini maka peran bank adalah setara dengan penyelenggara crowdfunding (urun dana). Selaku pihak yang menyelenggarakan crowdfunding, maka ada 3 pihak yang berperan didalamnya, yaitu:

  1. Ada piihak investor, yakni nasabah 
  2. Ada pihak penyelenggara, yaitu perbankan
  3. Ada pihak yang menjalankan usaha yaitu para pengusaha, pemerintah serta pelaku ekonomi yang mencakup seluruh masyarakat 

Adapun instrumen pengumpulan dana ini meliputi beberapa macam, antara lain:

  1. Deposito, Warant, Giro, Reksadana 
  2. Perkreditan 
  3. Tabungan

Selaku pihak yang menyalurkan dana, maka tidak mungkin dana nasabah yang ada di perbankan akan berhenti diam di rekening nasabah. Dana itu sudah pasti akan disalurkan ke sejumlah lembaga tamwil (lembaga produksi) atau unit usaha masyarakat melalui program perkreditan, pendanaan proyek, dan sejenisnya. 

Inti persoalannya kemudian adalah sahkah lembaga tamwil itu berperan sebagai tamwil secara syara’? Sahkah sistem bagi hasil yang dijalankan oleh perbankan kepada nasabah investor ini dan dijalankan melalui praktik pemberian bunga ini? 

Yang penting lagi untuk dicatat, adalah perbankan di Indonesia mengikuti dua   sistem, yaitu sistem konvensional berbasis bunga, dan sistem syariah berbasis bagi hasil keuntungan. 

Menilik dari peran perbankan sebagai intermediasi, dan hasil yang didapatkan melalui penerapan praktik tersebut, serta kepastian adanya unit tamwil namun unit tamwil tersebut berstatus ijmaly sebab tidak bisa dipastikan dari jalur halal semua, maka penghasilan perbankan dapat diperinci menjadi 2, yaitu:

  1. Ada yang halal
  2. Ada yang haram

Sementara itu, ada sisi hak nasabah yang harus diperhatikan dan tidak boleh diabaikan, yaitu bertindak selaku pihak yang berperan sebagai investor, maka berlaku ketentuan yang bersifat luzumah, yaitu:

  1. Setiap kegiatan investasi harus menerima bagi hasil
  2. Solusi untuk keluar dari sengkarut sistem bagi hasil yang fasidah dari perbankan

Di antara solusi yang bisa diberlakukan atas hal ini, adalah;

Pertama, menyatakan bahwa bunga bank adalah haram, sehingga akad penyerahan harta nasabah ke bank, adalah dipandang sebagai akad qardl. Bunga yang didapat oleh nasabah adalah bagian dari qardlu jara naf’an li al-muqridli fahuwa riba. Pendapat ini di antaranya dipedomani oleh Syeikh Wahbah al-Zuhaily

Kedua, Akad yang berlaku antara nasabah dan perbankan merupakan akad mudlarabah fasidah. Akad ini berangkat dengan tetap mengakui bahwa bank adalah lembaga crowdfunding yang tercermin dari adanya unit tamwil yang mengajukan pendanaan kepada perbankan. Secara syara’, yang bermasalah adalah sistem bagi hasilnya. Oleh karenanya disebut fasid disebabkan tidak memenuhi standar sebagaimana yang digariskan oleh syara’ tentang keniscayaan bagi hasil. Ketika terjadi kasus semacam ini, solusi ashal yang berlaku di dalam syara’ adalah uang yang diserahkan oleh nasabah ke perbankan harus kembali sebagaimana awal ia diserahkan. Sementara uang yang diberikan oleh debitur perbankan atas nama bagi hasil dan disampaikan lewat bunga, harus kembali kepada pihak debitur. Dengan demikian, pandangan terhadap akad mudlarabah ini dikembalikan ke asalnya, yaitu menjadi berstatus qardl. Bunga yang diberikan kepada deposan, dipandang sebagai manfaatnya qardl sehingga termasuk riba qardly dan haram. Pendapat ini diantaranya adalah disampaikan oleh Syeikh Ali Jum’ah.

Ketiga, pendapat yang ketiga masih merujuk pada mengatasi solusi akad mudlarabah fasidah bahwa solusi tersebut adalah dikembalikan kepada hukum ashalnya, sebagaimana hal ini tertuang dalam banyak kutub al-turats. Namun, akad yang berlaku di bank adalah akad baru dan belum tertuang di dalam ruang kajian akademis kitab klasik. 

Akad yang berlaku di bank merupakan yang sudah tersilabi dengan rapi di antara ruang-ruang kajian ekonomi kontemporer di mana di dalam ruang kajian tersebut disampaikan, bahwa motif utama nasabah ketika menyerahkan uang di bank adalah dengan qashdu al-istitsmary. Motif ini didukung oleh faktor murajjih bahwa peran bank sendiri sebagai lembaga yang mempertemukan antara pihak investor dan pengusaha. 

Alhasil, dengan mempertimbangkan peran ini, maka solusi untuk mengatasi akad mudlarabah fasidah tidak dikembalikan lagi sesuai dengan ketentuan dalil ashal ketika akad penyerahan tersebut masih berstatus wadi’ah yad al-amanah (akad titip barang amanah). 

Akan tetapi, solusi bagi penyelesaian mudlarabah fasidah adalah dikembalikan pada ashal ketentuan bahwa akad penyerahan harta nasabah ke bank dipandang sebagai bukan berbasis akad qardl, melainkan qashdu al-istitsmarinya, yaitu: ashal dari akad istitsmary adalah kelayakan menerima bagi hasil. (Lihat kembali hasil pembahasan Majma al-Buhuts al-Islamiyyah yang dinuqil oleh Dr Syauqi Ibrahim Allam di atas!)

Alhasil, hak yang dijaga adalah haknya investor untuk menerima bagi hasil. Sementara haknya pelaku ekonomi yang menggunakan dananya investor adalah menyerahkan sebagian dari hasil pengelolaan dana nasabah tersebut ke bank untuk disampaikan kepada investor. 

Persoalan Bagi Hasil di Perbankan

Persoalannya kemudian adalah ketika akad bagi hasil itu ditentukan berdasarkan modal dan bukan pada ketentuan untung rugi ditanggung bersama. Menurut konteks fikih turats, pengembalian harta nasabah yang disampaikan berdasar nilai tetap nisbah terhadap besaran modal yang disetor semacam ini adalah memenuhi kaidah kullu qardlin jara naf’an li al-muqridli fahuwa riba. Dan riba merupakan yang ditegaskan sebagai yang haram syar’an.

Untuk bisa membedakan dengan pasti mengenai bagi hasil yang berlaku di perbankan dengan bagi hasil menurut fikih turats, maka berikut ini disampaikan konsepsi dasar bagi hasil menurut fikih turats, antara lain adalah:

  1. Nisbah bagi hasil ditetapkan di muka saat di majelis akad
  2. Bagi hasil ditetapkan atas dasar perolehan keuntungan / laba usaha
  3. Bagi hasil harus disertai adanya perimbangan bagi kerugian

Jika konsepsi dasar mengenai solusi mengatasi akad mudlarabah fasidah di atas itu diterapkan, dan selanjutnya akad itu dikembalikan pada akad qardl, maka ada beberapa risiko yang justru berakibat pada ketidakmaslahatan perbankan sebagai lembaga intermediasi, yaitu:

  1. Ada hak nasabah / investor yang hilang. Hak itu adalah menikmati bagi hasil, seiring niatnya menyerahkan uang ke perbankan adalah didorong oleh kepentingan qashd al-istitsmary
  2. Bagi pelaku ekonomi, akan timbul kesewenang-wenangan yaitu melanggar kewajiban untuk menyerahkan bagi hasil kepada nasabah
  3. Bagi perbankan selaku penyedia jasa intermediasi keuangan yang perannya diakui sebagai yang dibutuhkan secara nyata oleh negara dan masyarakat serta pelaku ekonomi (dlarurah li masisi al-hajah) maka mereka tidak lagi mendapatkan aliran perimbangan neraca belanja dan penyesuaian anggaran (cash-flow). 

Dengan mencermati tiga hal di atas, maka diambil benang merah masalah, yaitu:

  1. Bahwa hak nasabah untuk menerima bagi hasil yang halal harus tetap dijaga
  2. Bahwa kewajiban pelaku ekonomi atas penggunaan dana investasi nasabah, tetap harus dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil. Demikian halnya hak bagi pelaku usaha untuk menerima bagi kerugian bila terjadi kasus kerugian usaha
  3. Bahwa hak penyelenggara jasa intermediasi keuangan tetap harus diberikan untuk menopang terlaksananya kewajiban menjaga perannya selaku alat negara dalam bidang keuangan
  4. Untuk menjaga setiap hak dan kewajiban di atas berlaku dalam bingkai kemaslahatan, maka diperlukan adanya badan hukum yang bisa menjamin terlaksananya hak dan kewajiban. Di Indonesia, peran ini ditempati oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). 

Menimbang akan keempat hal dasar ini, maka diperlukan cara menyikapi aturan yang sudah berlaku umum (ammatu al-balwa) dalam tubuh perbankan ini dan bahkan sudah menjadi bagian silabi akademis dalam fakultas-fakultas ekonomi, calon pelaku yang terjun dalam perbankan. Untuk itu dibutuhkan beberapa langkah dan prinsip penyikapan, antara lain sebagai berikut:

Pertama, bahwa harta yang diperoleh oleh nasabah perbankan dari imbal bagi hasil serta biaya operasional perbankan, harus terdiri dari harta yang bisa dijamin kehalalannya

Ada beberapa cara untuk mewujudkan prinsip pertama ini, yaitu:

  1. Prinsip ini sudah pasti harus disertai dengan pemilahan akan mana penghasilan perbankan yang diperoleh dari jalur usaha halal dan mana yang diperoleh dari jalur usaha haram. 
  2. Penghasilan perbankan yang diperoleh perbankan lewat amaliyah yang haram tidak boleh diberikan kepada nasabah dan dijadikan biaya operasional perbankan. 
  3. Penasarufan penghasilan yang diperoleh lewat amaliyah haram, hanya bisa ditasarufkan untuk perbaikan fasilitas-fasilitas yang bukan konsumtif, melainkan bersifat sosial, seperti: memperbaiki jembatan, jalan, selokan dan lain sebagainya, yang bisa dipergunakan oleh masyarakat umum.

Kedua, Penerapan Prinsip Ghalabah wa al-Katsrah

Prinsip ghalabah wa al-katsrah merupakan prinsip dasar yang sering ditemui dalam fikih turats. Misalnya, dalam kasus adanya 2 air dalam nampan yang diragukan kesuciannya di salah satunya dikarenakan wadah dan kuantitas airnya sama. Dalam kondisi semacam ini timbul keraguan (syak). Untuk mengatasi keraguan tersebut, maka ditetapkan prinsip ghalabat al-dhan, yang uraiannya memenangkan dhan yang paling kuat akan kesucian air di salah satu wadah. 

Di sisi lain, berlaku pula adanya pertimbangan banyak atau sedikit (al-qillah wa al-katsrah). Di dalam prinsip ini, ketika ada air musta’mal bercampur dengan air yang belum dikenai niat ibadah, maka jika komposisi air keduanya itu lebih banyak yang belum dikenai niat ibadah, seperti raf’u al-hadats, maka status air masih dianggap sebagai suci. 

Adanya pendapat di kalangan Syafiiyah tentang batas air sebesar 2 qullah sebagai yang tidak bisa dinajiskan, kecuali jika ada perubahan warna, rasa dan bau, adalah bagian dari perkara ijtihady yang menggunakan kaidah al-qillah wa al-katsrah tersebut. Bahkan, prinsip al-qillah wa al-katsrah ini juga diabadikan dalam banyak qaidah fiqhiyyah, misalnya: 

التكليف مشروط بالقدرة على العلم والعمل.

“Tuntutan syara’ itu ditetapkan berdasar ketentuan penguasaan ilmu dan amal.”

الحجة على العباد يقوم بالتمكن من العلم والقدرة على العمل به.

“Dasar pedoman bagi seorang hamba adalah berdiri menurut kadar penguasaan atas ilmu dan penguasaan dalam menjalankan.”

الوجوب والتحريم مشروط بإمكان العلم والعمل.

“Perkara wajib dan perkara haram, adalah ditetapkan menurut dasar pengetahuan hamba serta kemampuan menjalankannya.”

التكليف مشروط بالتمكن من العلم والقدرة على الفعل.

“Beban syara adalah ditetapkan menurut ketentuan kualitas pengetahuan dan bisanya mengerjakan.”

لا نكلَّف إلا بما نعلمه ونقدر عليه.

“Kami tidak membebani (hamba) kecuali berdasar apa yang sudah kami ajarkan dan kami kuasakan pada mereka.”

الوجوب مشروط بالقدرة.

“Kewajiban ditetapkan berdasar ketentuan kemampuan.”

مناط الوجوب هو القدرة.

“Mandat adanya kewajiban adalah penguasaan.”

Semua kaidah-kaidah di atas, adalah memiliki landasan berupa kaidah ashal, bahwasannya: 

كل ما أمر الله به أو نهى عنه فإن طاعته فيه بحسب الإمكان

“Semua apa yang diperintahkan Allah mengerjakannya, atau yang dilarang meninggalkannya, sesungguhnya adalah menjelaskan bahwa ketaatan itu berlaku menurut kadar kemungkinan menjalankan.”

Jadi, berdasarkan semua kaidah ini, ada amrun ba’its (motivasi) khithab syara’ yang merupakan manath tersembunyi dari syara’ adalah ijtihady dalam penentuan kuantitas dan kualitas ketaatan. Cara penentuan ini, salah satunya adalah dilakukan dengan jalan menjalankan prinsip al-ghalabah wa al-katsrah. 

Kaitannya dengan penghasilan nasabah yang diperoleh dari investasi melalui jalur perbankan, yang mana penyampaian bagi hasil itu harus dilakukan dengan penetapan bunga deposito, reksadana dan sejenisnya, maka dengan mengambil pesan dibalik manath syariat di atas, berlaku yang namanya wajibnya nasabah menerima bagi hasil. Indikasi penguatnya adalah setiap uang nasabah sebagai yang telah dipergunakan oleh para pelaku ekonomi untuk melakukan usaha. 

Oleh karenanya, hak mendapat bagi hasil itu harus diberikan meskipun tidak pada idealitasnya. Sebab, idealitas bagi hasil itu adalah prosentase bagi hasil menurut kadar untung yang didapat oleh pihak pelaku ekonomi. 

Namun, dalam praktik perbankan yang disebabkan konsepsi dasar akad perbankan tersebut sudah tersilabi dengan rapi di ruang-ruang akademis sehingga mahu tidak mahu dalam perjalanannya harus dengan menetapkan bunga bagi hasil berdasar modal, maka pendapatan kelebihan tersebut dipandang sebagai sah dan halal bagi nasabah karena faktor kuatnya hak bagi hasil. 

Jadi, sampai di sini, tidak heran bila kemudian Majma’ Buhuts Islamiyyah yang tergabung di dalamnya para masyayikh al-Azhar itu berkumpul untuk membahas perkara baru itu kemudian menetapkan sebagai bolehnya bunga bank disebabkan karena alasan produktifitasnya penggunaan dana nasabah yang menyebabkan adanya hak untuk ditunaikan kepada investor. Dr Syauqy Ibrahim Allam bahkan secara sharih menggarisbawahi:

لا مانع شرعًا من التعامل مع البنوك وأخذ فوائدها والإنفاق منها في جميع وجوه النفقة الجائزة، من غير حرج في ذلك؛ لأن العلاقة بين البنوك والمتعاملين معها هي “التمويل”، وإذا كانت الفوائد ناتجة عن عقد تمويل فليست الفوائد حرامًا؛ لأنها ليست فوائد قروض، وإنما هي عبارة عن أرباح تمويلية ناتجة عن عقود تحقق مصالح أطرافها، ولا علاقة لها بالربا المحرم الذي وَرَدَت حُرْمته في صريحِ الكتابِ والسُّنة، والذي أجمَعَت الأمةُ على تحريمه.

Wallahu a’lam bi al-shawab

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

1 Comment

Avarage Rating:
  • 0 / 10
%d blogger menyukai ini: